IKD, serius nggak?






Sudah tak asing lagi telinga kita mendengar istilah IKD. Namun, baru pertama kali istilah itu kita dengar dan muncul dalam sistem yang kapan saja dapat kita buka. Yah, itulah IKD atau Indeks Kinerja Dosen yang secara konsepnya memang mahasiswa diharuskan untuk menilai kinerja dari dosen yang mengajarkannya dalam semester yang dihadapi. Namun, apakah memang benar bahwa IKD tidak ada manfaat apapun bagi mahasiswa? Adakah pengaruh bagi mahasiswa dalam memberikan penilaian terhadap kinerja dosen? Bagaimana sosialisasinya?
Banyak dari mahasiswa yang komplain terhadat kehadiran sistem IKD yang datang secara tiba-tiba tanpa adanya sosialisasi, bagaimanapun juga mahasiswa-lah yang nantinya akan memberikan penilaian dan itu sangat tergantung dari kondisi dan suasana hati “mood” para mahasiswa. “IKD memang tidak ada sosialisasi seperti forum besar. Namun sudah ada peringatan dan himbauan yang berupa surat pernyataan bahwa diwajibkan bagi seluruh mahasiswa untuk melakukan penilaian IKD online yang telah tertempel di Mading Fakultas” ungkap Sukiman, selaku PD I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan saat ditemui di ruang kerjanya.
Namun, realitasnya dalam mading tidak ditemui oleh mahasiswa ada pengumuman tentang sosialisasi IKD online. Akan tetapi, mahasiswa lebih mengetahui pengumuman tersebut lewat gerbang internet UIN Sunan Kalijaga.

Adanya sistem baru IKD yang akhir-akhir ini digalakkan oleh UIN Sunan Kalijaga tanpa sosialisasi yang jelas itu membuat keresahan sebagian mahasiswa. Karena dengan sistem IKD online, mahasiswa mengkhawatirkan jika keprivasian dalam mengisi IKD tidak terjaga. Sehingga dalam mengisi IKD sebagian mahasiswa tidak berani untuk memberikan kritik dan saran yang sebenarnya. “Dengan adanya sistem IKD ini membuat kami resah karena jika memberi saran dan kritik kepada salah satu dosen, maka kami takut mendapatkan nilai jelek. Karena kami khawatir jika dosen mengetahui yang memberi kritik dan saran itu saya” ungkap salah satu mahasiswa Tarbiyah dan Keguruan jurusan Kependidikan Islam angkatan 2011, Very.
Namun, telah dibuktikan dari hasil wawancara kami bahwa IKD tidak berpengaruh sama sekali bagi nilai mahasiswa. Yang ada hanya ancaman bagi mahasiswa yang tidak memberikan penilaian atau tidak mengisi IKD online.
 Ancaman itu tidak dibenarkan oleh PD III, Sabaruddin selaku bidang Kemahasiswaan, beliau belum tahu secara pasti mengenai isu tersebut yang belum tentu benar. Tetapi, ada salah satu Dosen PAI yang menuturkan bahwa memang benar adanya ancaman bagi mahasiswa yang tidak mengisi IKD online, maka nilai tidak dapat muncul pada Godam. Perbedaan tanggapan ini yang membuat kami berpikir, kenapa bisa terjadi perbedaan jawaban? Memang sudah direncanakan? Ataukah memang adanya miss-comunication antara atasan dan bawahan?
Mengenai pembuatan IKD, yang  mengelola yakni per-jurusan atau prodi masing-masing. Jadi data-data penilaian berasal dari jurusan masing-masing, setelah itu hasilnya dimasukkan dalam data lalu dikirimkan ke pusatnya yaitu SIA di PKSI yang secara keseluruhan dikalkulasikan sehingga memunculkan presentasi nilai yang dapat dilihat. Jadi pada intinya SIA yang menyediakan sistem secara online (software) beserta cara penampilan dan penghitungannya. Pada akhirnya hasil tersebut akan dikembalikan ke jurusan masing-masing supaya diketahui hasilnya untuk kemudian ditindak lanjuti oleh yang bersangkutan dari kinerja para dosen di jurusan masing-masing.
“IKD (Indeks Kinerja Dosen) hanya meneruskan atau melanjutkan dari sistem manual yang dilakukan dahulu berupa angket dan dibagikan pada mahasiswa agar diisi jawaban sesuai pertanyaan dalam angket tersebut”, terang PD III, Sabaruddin pada siang itu (Senin/14/01/2013). “Sudah sepantasnya di zaman yang semakin maju dan kompleks ini menggunakan sistem online, tambahnya. Hal tersebut juga dikuatkan dalam beberapa alasan mengapa dibuatkannya sistem IKD online, yakni lebih murah dari sisi biaya, tidak ribet dan tidak membutuhkan kertas lebih banyak dibandingkan dalam sistem manual. Tak hanya itu, dari sudut pandang mahasiswa pun menuturkan bahwa  sebagian dari mereka sepakat dengan adanya IKD online. “Kita jadi hemat bolpoin, nggak ribet, terus simpel dan mudah untuk dibuka kapan aja” tutur Titis Wahyu Lestari mahasiswa dari Prodi PGMI. Namun, menurut Hamam, PGMI 2009, IKD ini kurang efektif dan menanyakan apakah saran dan kritik yang dia tulis akan benar-benar sampai pada dosen yang bersangkutan. Padahal baginya suara mahasiswa itulah yang seharusnya diutamakan, bukan hanya sekedar nilai angka yang dimasukan pada kolom.
            Adapun manfaat IKD bagi para dosen sangatlah terlihat, yakni diberikannya apresiasi atau layanan khusus bagi para dosen yang indeks kinerjanya tinggi (skor di atas rata-rata). “Ada reward bagi dosen yang nilainya tinggi” ungkap Radino, Sekjur PAI. Sedangkan manfaat IKD bagi mahasiswa adalah belajar memberikan penilaian yang berdampak pada dosen ungkap salah satu pimpinan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
            IKD ini memang cara yang memberikan inovasi baru bagi kemajuan UIN Sunan Kalijaga sesuai dengan Visi-nya yakni “Unggul dan terkemuka dalam pemaduan dan pengembangan studi keislaman dan keilmuan bagi peradaban”.  Ditegaskan pula dengan adanya penilaian dari mahasiswa terhadap sistem IKD online bahwa privasi mahasiswa sangat dijaga ketat dari operator.  Hikmah dari IKD pun tersebar ke seluruh warga UIN sebagai kaca cermin motivasi diri sendiri. (# Ismail, Emha, Anisatul.M)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat