Ketika Civitas Akademik FTK UIN SUKA Bicara Tentang Kurikulum 2013






Kurikulum sebagai suatu sarana pembelajaran yang memiliki karakter dinamis dan berkelanjutan harus terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman.  Kurikulum 2013 sudah disosialisasikan oleh Kemendikbud melalui uji publik pada bulan Desember kemarin sebagai penyempurna dari kurikulum KTSP. Dengan semangat tinggi ingin memajukan pendidikan Indonesia yang sedang mengalami keterpurukan menjadi pertimbangan yang sangat berat dan membutuhkan konsep yang matang, dengan pola pembelajaran tematik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Agama dan Kewarganegaraan yang mengintegrasikan antara aspek spiritual, sosial, pengetahuan dan skill sebagai suatu kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa dan memiliki semangat untuk mengimplementasikan pendidikan karakter yang pada kurikulum KTSP belum maksimal terlaksana.
Banyak kalangan yang salah memahami perubahan besar yang ada dalam kurikulum 2013, perubahan yang ada dalam kurikulum 2013 memiliki perbedaan yang sangat mencolok dengan kurikulum KTSP, menurut Sukiman selaku PD I (Jum’at/25/1/2013). Sebenarnya secara konsep KTSP sudah baik untuk membentuk karakter peserta didik, akan tetapi dalam realisasinya kurikulum KTSP belum dijalankan dengan baik. Sehingga dengan adanya kurikulum 2013 ini mengutamakan keempat kompetensi yaitu: kompetensi spiritual, kecakapan sosial, aspek pengetahuan dan pengembangan skill. Selain itu, yang membedakan antara KTSP dan kurikulum 2013 adalah kurikulum baru yang bersifat sentralistik, hal ini dilaksanakan agar tidak merepotkan guru untuk mengimplementasikan kurikulum. Perubahan besar yang ada dalam kurikulum 2013 dengan KTSP semata-mata bukan ditujukan sebagai perubahan tetapi lebih kepada penyempurnaan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia imbuhnya.
Kurikulum KTSP yang sudah diterapkan sejak tahun 2006 lalu ternyata masih mempunyai kekurangan dalam beberapa aspek yang perlu ditinjau ulang, aspek yang perlu mendapat perhatian khusus pada kurangnya wawasan dari guru terkait dengan kurikulum KTSP itu sendiri, hal ini mengakibatkan kurang maksimalnya penerapan kurikulum KTSP dalam proses belajar mengajar, selain pada tahap implementasi ternyata kurikulum KTSP masih mempunyai kekurangan pada konsepnya. Menurut salah satu anggota Tim Pengkaji UIN Sunan Kalijaga, “Beberapa kelemahan dari kurikulum KTSP yang perlu diperbaiki pada aspek isinya yakni terlalu banyak mata pelajaran sehingga murid akan merasa keberatan, itupun belum sepenuhnya kompetensi direalisasikan, hanya fokus pada penilaian berbasis kompetensi kognitif, sedangkan pendidikan karakter kurang. Dari kelemahan itulah yang melatarbelakangi pembentukan kurikulum 2013 karena setiap kurikulum pasti mempunyai kelemahan dan hal itu kemudian dievaluasi untuk perbaikan dan penyempurnaan yang di terapkan pada  kurikulum selanjutnya agar sesuai dengan situasi dan kondisi.
Uji publik yang dilakukan pemerintah pada bulan Desember lalu sebagai sarana sosialisasi kurikulum 2013 mendapatkan tanggapan dan antusias yang baik dari masyarakat, banyak masukan dan perdebatan yang panjang dalam uji publik waktu lalu dan menghasilkan masukan-masukan yang memperbaiki isi serta konsep dari kurikulum 2103, tanggapan dan antusias dari salah satu Universitas di Yogyakarta yaitu UIN Sunan Kalijaga dengan membentuk suatu tim khusus dari dosen dari seluruh fakultas UIN Sunan Kalijaga yang dipelopori oleh Dosen Tarbiyah dan Keguruan yang berkompeten dalam bidang pendidikan, tim khusus ini dibentuk atas keputusan dari Rektor UIN yang memerintahkan untuk membentuk tim khusus dalam mengawal kurikulum 2013, tugas dari tim khusus UIN Sunan Kalijaga ini mempunyai tugas “Memberikan masukan konsep umum kurikulum 2013 dan memberi masukan buku kurikulum” ujar Muqowim salah satu anggota tim khsusus ini. Kontribusi yang telah diberikan dalam mengawal pembentukan kurikulum 2013 dengan mengusulkan untuk menambahkan aspek spiritual sebagai salah satu metode penanaman kepribadian yang lebih matang kepada siswa. Istilah yang digunakan beliau adalah neuro spiritual. Neuro Spiritual merupakan metode penanaman kepribadian siswa dengan semangat keagamaan yang dijadikan landasan utamanya dalam semua kegiatan pembelajaran. Sehingga siswa diharapkan dapat meresapi nilai-nilai moral yang ada melalui kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Beliau juga menambahkan mengenai himbauan untuk Wakil Menteri Pendidikan yang beberapa waktu lalu berkunjung ke Yogyakarta, yaitu sebelum digulirkannya kurikulum 2013 ini hendaknya SDM guru harus disiapkan terlebih dahulu sebaik-baiknya dan LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) juga harus siap melakukan pengembangan baru yang sesuai dengan kurikulum 2013 agar lulusannya mumpuni. 
(#Fery, Hamdani)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat