Biarkan Aku Sekolah

BIARKAN AKU SEKOLAH

Oleh : Mufiati

       Dengan penuh amarah aku lari dan membanting pintu kamar yang sudah berlapuk, berwarna coklat agak kehitaman dilapisi jamur putih yang tumbuh sesekali di sudut-sudut pintu.
Air mata berlomba-lomba membuat becekan di pipi, bak hujan deras yang tak tertampung dan mampir di tempat-tempat yang mampu dijangkaunya. Sesekali hidung terbendung  oleh gulungan-gulungan hijau dan menutupi sirkulasi udara yang masuk ke tubuh hingga aku tak mampu bernafas. Seperti halnya syair lagu jadul yang aku tak tau siapa nama penyanyinya, tertulis bahwa “hati ini serasa luka yang ditaburi garam”  ketika mendengar apa yang baru saja di sampaikan orang tuaku.
Dalam hati aku berkata haruskah aku bekerja hingga ke luar negeri, yang memberikan penghasilan besar untuk membantu membayar hutang orang tuaku? Lalu...  bagaimana dengan impianku untuk terus sekolah dan melanjutkan kuliah nantinya? Atau haruskah aku menerima perjodohan, agar orang yang kelak menjadi suamiku mampu membantu melunasi hutang-hutang kami ?
Haaaaaaaah... (aku menghela nafas panjang sambil mengusap air mata dan gulugan hijau yang menyulitkanku untuk bernafas dengan seragam putih  abu-abu yang masih ku kenakan sepulang sekolah barusan) memang... keluargaku kini sedang dilanda masalah yang sangat berat, apalagi aku hanya tinggal memiliki satu orang tua saja yang kini telah lanjut usia, wanita tanpa suami ini... seorang diri merawat dan menghidupi kami bertiga selama hampir 9 tahun.

Selama itu ibuku hanya seorang pekerja serabutan, apapun ia kerjakan, terkadang menjadi tuakang cuci, terkadang menjadi pedagang musiman, terkadang menjadi pembantu rumah tangga dan bahkan menjadi buruh angkut barang di pasar yang jaraknya 2 kilometer dari rumah kami. “wanita yang luar biasa” itulah kekaguman sekaligus kebanggaanku terlahir olehnya.
Sekilas tiba-tiba aku teringat, dulu pada masa kelulusanku di salah satu sekolah menengah, dengan nilai yang cukup memuaskan. Aku mendatangi ibu dengan membawa ijazah, mengucapkan ribuan terima kasih sekaligus menyampaikan maksudku untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ketika itu ibu hanya terdiam, menghela nafas panjang kemudian merebahkan tubuhnya pada tembok kayu yang tengah berlapuk dan kotor. Beliau memegang kepala seraya berpikir, sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya. Sekilas aku berfikir bahwa permintaanku tidak mungkin dikabulkan, karena menempuh pendidikan di sekolah menengah atas tentu membutuhkan biaya yang cukup besar. Aku seakan tengah paham jawaban apa yang nantinya akan diberikan oleh ibuku, akupun menundukkan kepala seraya meminta maaf karena menginginkan hal yang sangat jelas tidak mungkin terwujud. Dalam keputusasaanku tiba-tiba ibu berkata “silahkan! asalkan kau mau bertanggung jawab atas dirimu, ibupun akan terus membantu dan mengusahakan yang terbaik untukmu nak”. Kebahagiaan meliputi hidupku, semenjak itu akupun melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah menengah atas dan bekerja sebagai pembantu di salah satu rumah yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal kami setiap sepulang sekolah hingga pukul 20.00 WIB untuk membiayai sekolahku hingga kelas XII SMA saat ini.
Namun sekarang untuk pertama kalinya ibu benar-benar terlihat putus asa hingga memberikan pilihan yang sangat tidak adil untukku, hidup ini serasa tak ada artinya lagi ketika mengingat bahwa aku harus bekerja hingga ke luar negeri atau menikah dengan usiaku yang masih terbilang remaja ini.
Keesokan harinya ketika si bungsu pulang dari sekolah sambil membawa selembar kertas yang beramplopkan putih bersih  bertuliskan kepada yang terhormat Ibu Rohinah di tempat. Bahkan tanpa membacanya pun aku langsung paham bahwa itu adalah surat tagihan pembayaran sekolah si bungsu yang selalu mampir setiap dua bulan sekali ke rumah kami.“Yah... pungutan liar datang lagi” gumamku, bagaimana tidak mereka mengharuskan kami membayar  beberapa puluh ribu setiap bulannya kepada pihak sekolah dasar dengan berbagai kedok yang dilampirkan pada surat tagihan tersebut, dan jika tidak segera dilunasi maka si bungsupun akan terancam putus sekolah. Padahal... bukankah seharusnya pendidikan di sekolah dasar itu gratis dengan adanya bantuan operasional sekolah (BOS), lalu... apalagi ini..... ???
“Kenapa tidak dibaca kak?” tanya si bungsu.
“Oh iya dek nanti kakak bacanya sekalian nunggu ibu pulang” jawabku sambil tersenyum dan mengelus kepala si bungsu yang baru berusia 7 tahun itu. Bungsupun mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum riang kemudian ia berlari-lari di dalam hingga ke halaman rumah dengan meliuk-liukkan tubuhnya dan berteriak-teriak layaknya pesawat yang sedang terbang di udara, sesekali ia bernyanyi-nyanyi gembira sembari memperagakan gerakan-gerakan yang baru saja ia pelajari dari sekolahnya. Melihat si bungsu, serasa aku ingin kembali lagi berusia 7 tahun dengan tanpa beban dan menikmati indahnya kehidupan. Tapi... apakah aku tega membiarkan si bungsu putus sekolah?
       Hari ini untuk pertama kalinya aku membolos dari sekolah, karena pagi tadi ketika aku hendak bersiap untuk berangkat sekolah bersama si bungsu dan adik keduaku tiba-tiba ibu berkata dengan nada halus namun menggunakan kalimat sindiran yang intinya adalah aku tidak diperbolehkan untuk masuk sekolah, entah hanya untuk hari ini ataukah seterusnya. Sekarang ibuku bahkan belum pulang dari pasar tempat dia bekerja, beliau berangkat sejak pagi tadi sekitar pukul 05.00 WIB setelah sholat Subuh dengan menggedong keranjang milik langganannya dan berjalan kaki ke pasar yang jaraknya 2 kilometer itu. Aku benar-benar resah menantikan kepulangannya untuk menjelaskan bagaiman tersiksanya aku dengan ke dua pilihan itu dan bermaksud untuk melakukan negosiasi.
Dalam kebingunganku tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu dan memanggil-manggil namaku, aku tersentak dari lamunanku,” sepertinya suara itu aku mengenalnya” ujarku dalam hati. Akupun berdiri kemudian dikagetkan kembali ketika menyadari bahwa selama berada dalam lamunanku tadi tanpa sadar aku bersandar pada tembok kayu di sudut rumahku dan duduk di tanah tanpa beralaskan apapun.
Kemudian dengan tanpa menghiraukan itu semua aku mulai beranjak dan membuka pintu.
“Sinok... kenapa hari ini tidak masuk?”
Benar bahwa suara yang ku dengar tadi adalah Retno, teman kelasku yang senang sekali memanggilku dengan panggilan Sinok, padahal namaku Eneng, entah kenapa ia malah memanggil dengan sebutan Sinok, lebih gampang katanya. Aku hanya tersenyum dan tak mampu menjawab apapun ketika mendengar pertanyaan yang baru saja ia lontarkan, namun semuanya berubah saat ia menyampaikan berita bahwa aku mendapatkan beasiswa sekolah selama 1 tahun, aku kegirangan dan tanpa sadar memeluk Retno bahkan hingga mengecup pipinya. Benar-benar tak mampu ku utarakan kebahagiaan yang kini melanglang buana di hatiku, serasa seluruh beban tiba-tiba menghilang dari pikiranku.
Selang beberapa saat setelah Retno pergi dengan berbekal ucapan terimakasihku karena telah menyampaikan kabar tersebut, ibu pulang dengan wajah dan tubuh yang terlihat sangat letih. Aku menyuguhkan segelas air putih untuknya, ibu hanya tersenyum kemudian diteguknya air putih itu hingga tak tersisa lagi. Setelah itu ibu beranjak dari tempatnya menuju amben kamar yang hanya beralaskan tikar bambu dengan tanpa mengucapkan apapun kepadaku, akupun hanya mampu terdiam,“sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk bernegosiasi” kataku dalam hati.
       Malam tiba seusai aku pulang dari tempat kerjaku sebagai seorang pembantu, perlahan aku mulai mendekati ibu yang sedang sibuk melipat pakaian milik tetangga kami yang berlangganan mencucikan pakaiannya pada ibu.
“Ada yang bisa saya bantu Bu?” ujarku mencoba memulai percakapan.
“Oh iya Neng, bantu ibu melipat baju! Besok mau diambil pemiliknya, jadi mesti cepet selesai”, jawab ibu seraya menyodorkan beberapa potong baju kepadaku, ibu masih berkonsentrasi dengan baju-baju yang menumpuk di depannya, tangannya yang kurus berwarna hitam kecoklatan dan kulitnya yang sudah mulai mengerut bak gundukan-gundukan tanah kecil yang membentuk galengan sawah yang tak tertata rapi, mampu melipat baju dengan luwesnya dalam waktu yang cukup singkat, mungkin karena beliau sudah terbiasa.
Rasanya aku tak mampu mengucapkan apapun, aku tak tega melihat ibu, aku tak tega di usianya yang sudah lanjut ini beliau masih bekerja keras membanting tulang untukku, lidahku serasa kaku, suhu tubuhku naik terasa teramat panas dimana-mana dan tanganku sedikit gemetar. Ibu melihat tanganku yang gemetar kemudian ia berhenti melipat baju, di arahkan pandangannya kepadaku seraya berkata
 “Kamu kenapa Neng ? Kenapa tanganmu gemetar?”
“Biarkan aku sekolah Bu, aku mohon...” tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulutku seraya menitikan air mata dan terus mengajukan permohonan. Ibu terdiam, ia hanya memandangku dengan mata berkaca-kaca terliahat seperti sedang menahan tangisnya. Kalimat demi kalimat permohonan terus aku lontarkan, aku juga menyampaikan tentang beasiswa yang ku peroleh dari sekolah, bukankah dengan begitu gajiku yang seharusnya untuk membayar uang sekolah bisa untuk membayar tagihan sekolanya si bungsu dan sedikit demi sedikit melunasi hutang-hutang kami, selain itu pula aku juga berjanji bahwa aku akan terus berusaha lebih keras lagi untuk bekerja agar hutang-hutang kami dapat segera dilunasi. Ibu tak mampu lagi menahan air matanya, ia merangkul dan mengelus-elus kepalaku seraya meminta maaf karena tak mampu memberikan kehidupan dan pendidikan yang layak untuk kami bertiga karena kekurangannya. Akupun menggelengkan kepala dan berusaha meyakinkan bahwa suatu kebanggaan bisa dilahirkan oleh seorang wanita yang sangat luar biasa seperti beliau dan aku bersyukur dengan apa yang ada saat ini, karena aku yakin bahwa suatu saat nanti akan ada kebahagiaan dan masa depan yang cerah menanti di depan mata asalkan kami terus berusaha tanpa putus asa dan terus berdo’a.

Terbit di Buletin Paradigma Edisi II/Maret/2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat