Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2013

Tata Tertib Mahasiswa Hanya Formalitas?

Tata Tertib Mahasiswa Hanya Formalitas?
 Tata tertib (Tatib) mahasiswa merupakan aturan-aturan tentang kewajiban, hak, pelanggaran, dan sanksi bagi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tatib ini menjadi peraturan yang mengikat bagi seluruh warga kampus selama tercatat menjadi mahasiswa UIN Suka. Adanya tatib ini bertujuan untuk menciptakan suasana kampus yang kondusif bagi terlaksananya Tri Dharma Pendidikan. Pertanyaannya kemudian, sudahkah tatib dikampus putih ini terlaksana dengan baik? Dan sejauh mana penegakkan sanksi bagi mahasiswa yang melanggar tatib diberlakukan? Sejauh ini tata tertib mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta khususnya di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan belum berjalan seperti yang diharapkan. Banyak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh mahasiswa dan luput dari sanksi pihak birokrasi. Terlebih pelanggaran yang berkaitan dengan kepatutan berbusana. Hal ini seolah menjadi bukti lemahnya penegakkan hukum di UIN Sunan Kalijaga.

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Peran RA Kartini dalam Pendidikan
RA. Kartini, tokoh perempuan pejuang bangsa ini pantang menyerah untuk memperjuangkan hak-hak perempuan pribumi agar mendapatkan pendidikan layaknya seperti laki-laki pada saat itu. Perempuan kelahiran  18 April 1879 ini memiliki pemikiran yang sangat maju seperti wanita-wanita Eropa, hal ini dapat dilihat dari sikap-sikapnya yang selalu mengumpulkan buku-buku untuk dipelajarinya. Walaupun ketika itu beliau masih berusia 12 tahun tetapi beliau sudah dipingit, namun semangatnya untuk memperjuangkan hak-hak wanita tidak pernah surut. Peran Kartini dalam pendidikan di Indonesia sangatlah tinggi, hal itu merupakan salah satu kontribusi perempuan dalam pendidikan yang dicetak dengan tinta emas dalam sejarah. Pada masa itu, kondisi pendidikan sangatlah memprihatinkan, khususnya bagi kaum perempuan. Anak-anak di bawah usia 12 tahun masih diperbolehkan menginjak pendidikan di sekolah. Akan tetapi setelah 12 tahun mereka tidak diperbolehkan lagi belajar di sekol…

Az - Zahrah : Menuju Pendidik Berbasis Seni

Az-Zaahrah: Menuju Pendidik Berbasis Seni
Di tengah kesibukannya mahasiswa pada jam kuliah, Sanggar seni Az-Zahrah melakukan kegiatan launching buku antologi puisi. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Ruang pertemuan Fakultas Tarbiyah dan keguruan UIN Sunan Kalijaga, kamis (4/04). “Selama ini yang kalian kenal kami dengan seni musiknya, tetapi kami akan mewujudkan karya yang dapat dikenang” ujar petinggi Az-Zahra, Mizan Habibi. “Sebelum launching buku puisi ini, kami melakukan latihan penulisan kepada anggota Az-zahra. Kemudian sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, kami membuat antologi antologi puisi” tambahnya. Kegiatan  yang dilaksanakan tersebut turut dihadiri oleh beberapa mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan kalijaga. Sebelum acara dimulai dan sebagai selingan acara, sanggar seni Az-Zahra menampilkan beberapa seni musik. Kegiatan yang dilaksanakan oleh sanggar Seni Az-Zahra turut di apresiasi oleh PD III, Sabarudin Msi.

Tak Semua Malaikat Bersayap

Tak Semua Malaikat Bersayap
Oleh : Nur Cahyani
Gundukan tanah itu masih memerah. Padahal sudah tiga hari lalu tanah itu diangkat dan dikembalikan lagi ke tempatnya. Kering. Satu hal yang hanya dapat aku rasakan kini. Air mata inipun sulit untuk keluar meskipun telah dipaksakan sedemikian rupa. Aku lebih mendekat dan mendekat lagi. Suasana masih saja lengang serasa tak berpenghuni. Dan aku sendiri. Sepi. Hanya kenangan dan memeori masa lalu yang terus berputar di atas kepalaku. Tiga hari sudah aku meyakinkan diriku sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi terlambat. Aku harus mengakui bahwa kini aku telah kalah atau lebih tepatnya dipaksa mundur. Dan sekarang aku di sini, tepat di depan tempat peristirahatan orang yang aku benci atau malah aku sayangi. Entahlah, aku masih saja berpikir bahwa akulah pembunuh orang di hadapanku kini. ***

Salam Redeksi

Salam Redaksi... Dijatuhkan pada dua pilihan, antara berhenti atau melanjutkan. Itulah kenyataan pahit yang harus dihadapi krew LPM Paradigma ketika harus menyelesaikan buletin edisi April ini. Ditengah kesibukan menghadapi Ujian Tengah Semester dan kegiatan lain diluar kampus membuat beberapa krew paradigma tidak dapat turut aktif dalam buletin kali ini, sehingga tim redaksi merasa kesulitan untuk mencari personel. Selain itu, kesibukan pihak birokrat untuk ditemui terkait pencarian informasi sebagai bahan berita menjadi  tantangan pelengkap bagi kami untuk tidak menyebutnya kendala. Bukan insan pers namanya jika mudah menyerah. Dengan sisa sedikit waktu dibulan April, kami bertekad untuk menyelesaikan Buletin yang telah lama terkatung-katung di meja redaksi. Mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan, hingga akhirnya tersajilah buletin yang ada ditangan anda ini. Alhamdulillah... Buletin edisi kali ini mengusung tema tatatertib mahasiswa, khususnya tata tertib berpakaian bagi mahasiswa …