Tak Semua Malaikat Bersayap


Tak Semua Malaikat Bersayap

Oleh : Nur Cahyani

Gundukan tanah itu masih memerah. Padahal sudah tiga hari lalu tanah itu diangkat dan dikembalikan lagi ke tempatnya. Kering. Satu hal yang hanya dapat aku rasakan kini. Air mata inipun sulit untuk keluar meskipun telah dipaksakan sedemikian rupa. Aku lebih mendekat dan mendekat lagi. Suasana masih saja lengang serasa tak berpenghuni. Dan aku sendiri. Sepi. Hanya kenangan dan memeori masa lalu yang terus berputar di atas kepalaku.
Tiga hari sudah aku meyakinkan diriku sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi terlambat. Aku harus mengakui bahwa kini aku telah kalah atau lebih tepatnya dipaksa mundur. Dan sekarang aku di sini, tepat di depan tempat peristirahatan orang yang aku benci atau malah aku sayangi. Entahlah, aku masih saja berpikir bahwa akulah pembunuh orang di hadapanku kini.
***

“Tok-tok-tok,” suara palu hakim menutup sidang perceraian kedua orang tuaku. Tak banyak yang aku rasakan kini selain lemas bercampur bimbang. Hakim memutuskan menunda persidangan dikarenakan ayah sakit sehingga tidak dapat hadir. Di sebelah kiriku, berpuluh-puluh pasang mata menatapku miris. Mereka adalah kubu ayahku yang kontra dengan perceraian ini. Aku bahkan tidak tau seberapa istimewanya sidang ini sampai-sampai seluruh keluarga ayah hadir semua bak suporter sepak bola yang akan berteriak “hore” ketika hakim menolak alasan perceraian yang diajukan ibu.
“Mau sampai kapan seperti ini terus Nia? Ayahmu tidak akan pernah hadir karena memang dia sedang sakit keras. Pokoknyaibunurutsamakamusaja lah.” Kata ibu yang sudah mulai putus asa karena sidang ke tiga inipun tidak mendapatkan titik terang bagi kelanjutan pernikahannya.
“Lohh.. harusnya kalau tidak hadir semua dianggap selesai dong. Dasar keluarga ayah saja yang mempersulit keadaan ini.” Jawabku dengan nada tinggi sambil menunjuk ke arah keluarga ayah. Aku kembali melayang-layang bersama dengan pikiranku tanpa memperdulikan komentar ibuku lagi.
Proses perceraianinisudah menelan banyak korban. Mulai dari adikku kecelakaan parah sampai rumah yang akan disita oleh bank karena sebagai jaminan hutang. Lagi-lagi aku berfikir apa ini teguran dari Allah agar orang tuaku tidak bercerai? Aahh.. mungkin itu semua hanya musibah-musibah kecil untuk mendapatkan kebahagiaan di masa depan setelah proses perceraian ini selesai. Bukankah semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin bertiup, pikirku dalam hati.
Tapi apapun yang diinginkan oleh setiap manusia, tetap hanya Allah penentu segalanya. Mau sekuat apapun keinginanku agar orang tuaku bercerai, namun tetap saja keinginan itu harus dikubur dalam-dalam karena memang ayahku sedang sekaratul maut. Bahkan sepertinya tak perlu hakim pengadilan agama yang akan memisahkan ayah dan ibu, tapi waktu yang akan memisahkannya dalam ruang dan waktu yang berbeda.
Satu jam berikutnya aku sudah berada di depan pintu ruang ICU, berkat paksaan dari ibu. Di sana terbaring laki-laki setengah bayadengan tubuh kurus kering yang kata orang-orang aku harus memanggilnya dengan sebutan “ayah” karena ia telah berjasa membuatku ada di muka bumi ini. Hanya itu saja, lainnya nothing. Karena selama hidupku aku tidak pernah diberi nafkah termasuk ibuku. Aku membencinya. Itu yang aku rasakan. Seorang laki-laki yang tidak punya tanggung jawab, kerjaannya hanya tidur dan menganiaya ibu ketika tidak ada makanan di rumah tanpa memikirkan anak-anak dan istrinya yang juga kelaparan. Ya, karena alasan ibu tidak merasa bahagia hidup dengan ayah inilah yang membuatku dan tiga adikku menginginkan orang tuaku bercerai. Meskipun akibat yang kami terima cukup fatal karena ayahku mengancam akan mencabut namanya pada akta kelahiran kami, yang mengisyarakatkan bahwa ayah tidak menganggap kami sebagai anaknya lagi. Walaupun demikian, kami tidak mundur satu langkahpun sampai ibuku mendapatkan kebahagiaan tanpa adanya bayang-bayang ayah lagi.
“Masuklah Nia, ajak juga adik-adikmu! Ayahmu ingin berbicara dengan kalian.” Bujuk Budhe Santi, saudara tertua ayah yang tadinya selalu berkata kasar kepadaku karena keegoisanku memprovokatori adik-adik pergi dari rumah dan meninggalkan ayah sendiri sehingga sakit seperti sekarang ini.
“Maafkan saya Budhe!” jawabku sambil berlari meninggalkan rumah sakit.
Aku tidak boleh lemah hanya dengan melihat kondisi ayah sekarang. Sudah terlalu sering ayah berbohong sakit seperti ini. Dan sekarang ayah memfitnah dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa dia sakit gagal ginjal.
“Aahh.. basi” kataku sewaktu adik memberi kabar tentang penyakit yang diidap ayah.
“Tr tr tr tr trr..” tiba-tiba hpku bergetar tanda ada panggilan masuk.
“Halloo Assalamu’alaikum.”
“Ayah meninggal mbak. Dan sebelum dia meninggal dia meminta kita yang memandikan jenazahnya.” Kata Sinta adikku di seberang sana sambil menangis.
Rasanya ada sebongkah batu yang dilayangkan ke hatiku.
“Ayah meninggal?Bukankah obat yang dia bilang sebagai obat gagal ginjal itu sudah kamu cek obat kecapekan biasa? Terus karena apa dia meninggal? Kenapa kita yang diminta memandikan? Bukankah dia sudah tidak menganggap kita sebagai anak lagi?” tanyaku panjang lebar kepada Sinta.
“Tuuuttt” telefon dimatikan. Entah kenapa. Mungkin dia sendiri juga belum menemukan jawabannya.
“Ayyyaahhh...” jeritku di lobby rumah sakit.
Seberapaakumembencinya, tapi dia tetap ayahku. Ayah yang menggendongku semasa kecil, ayah yang mengganti popokku semasa bayi, ayah yang bahagia melihat kelahiranku, dan ayah yang mengajariku tentang kehidupan ini. Benar kata keluarga ayah, kalau aku belum sempat bisa mengganti apa yang telah diberikan ayah untukku. Meskipun semasa hidupnya ia tidak pernah memberikan materi, tapi kasih sayangnya sungguh luar biasa. Kini aku tau, keegoisanku telah memecah belah keluargaku sendiri. Bahkan orang-orang yang aku anggap musuh, sebut saja keluarga ayah yang ku pikir mereka membenci kami dan hanya membela ayah saja, ternyata mereka menginginkan kami sekeluarga hidup bahagia tanpa ada perceraian. Aku salah, dan semua sudah terlambat. Penyesalan memang selaluada di belakang.
Penulis adalah mahasiswa KI 2011, bergiat Kajian Sabtu Siang (KASASI)
The END (:

*)Dimuat di Bulletin Paradigma edisi April/2013      

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat