Berteman Debu Jalanan

Berteman Debu Jalanan
Oleh : Rena Rieznurfa*
Miris sekali saat dia melihat para siswa SD yang berebut keluar dari gerbang sekolah. Setiap hari pemandangan disekolah ini selalu terbayang-bayang dibenaknya. Ini membuatnya ingin kmbali mengenyam bangku pendidikan. Andai aku masih disana, kulitku takkan termakan matahari seperti ini, dan hidupku tak penuh kenestapaan lagi. Keluhnya dalam hati
            Andai nenek masih bersamaku, andai....... hah, hanya bisa berandai-andai. Desahnya lagi. Lama dia tatap sekolah itu. Tanpa sadar, seseorang telah meyadarkan lamunannya.
***
            Pembagian rapor (buku hasil belajar) tiba. Stelah menempuh berbagai cara dan usaha, akhirnya nilai-nilainya lebih meningkat dari biasanya. Prestasi akademik yang begitu gemilang membuat Anton bangga terlebih pada neneknya yang selalu ada dan memberikan dorongan untuknya.  Seperti kebanyakan siswa lainnya, Anton pun ditemani sang nenek. Dengan langkah tergopoh-gopoh, nenek Fitri tetap brsemangat menemani cucunya itu. Setelah rapornya dibagikan, Anton berlari memeluk neneknya.
Anton: Horee... Nenek, aku senang.
Nenek: Alhamdulillah kamu berhasil Cu. Teruslah tingkatkan prestasimu.
Anton: Itu pasti Nek. Aku akan terus belajar dengan giat karena aku ingin jad profesor.
Dengan wajah lucu dan polos, Anton berkata dengan penuh keyakinan.
Nenek: Iya, Nenek do’akan semoga semuanya tercapai. Nenek ingin melihatmu berhasil Cu...
Setelah semua rangkaian acara selesai, Anton dan Nek Fitri pulang kerumah. Setibanya dirumah, seorang perempuan setengah baya sedang menanti di depan pintu rumah. Sadar akan kedatangan Anton dan Nek Fitri , perempuan itupun mendekat.
Nenek : Ratna, ngapain kamu kesini. Pergilah dari sini!!
Bu Ratna: Saya hanya ingin mengambil anak saya, saya butuh dia.
Nenek: butuh untuk apa? Sejak kapan kamu butuh anakmu? Bukankah dari dulu kamu tak pernah mau mengakuinya sebagai anakmu?
Bu Ratna: terserah Ibu mau bilang apa. Yang saya ingin dan butuhkan hanyalah Anton. Dia pasti akan lebih senang bila bersama Ibunya.
            Tanpa pikir panjang, Nek Fitri langsung membawa Anton masuk rumah. Dengan refleks, Bu Ratna langsung mengambil tangan Anton. Namun, pintu rumah telah tertutup rapat. “Saya akan terus kesini dan membawa Anton. Dia akan mendapatkan semua yang dia mau. Ibu itu sudah tua dan tak punya harta. Biarkan aku membesarkannya dengan caraku...” celanya dengan nada tinggi. “heuh,,, paling sebentar lagi juga Ibu akan meninggal” tambahnya.
            Setelah berhari-hari Bu Ratna memaksa untuk membawa Anton, Nek Fitri jatuh sakit akibat perkataan anaknya yang begitu menyakitkan. Di ranjangnya yang sederhana, Nek Fitri terbaring lemah dan tak berdaya. Anton menghampiri neneknya. “Nenek harus sembuh...”. rintihnya.
Nenek: Nenek pasti sembuh kok. Janganlah kamu bersedih Cu, berjanjilah satu hal pada nenek!
Anton : Apa itu Nek?
Nenek : Walau bagaimanapun keadaannya, tetaplah menimba ilmu. Semiskin apapun hidupmu, namun ilmu mu harus kaya. Gapai semua yang kau cita-citakan dengan berlandaskan ilmu dan keimanan.
Nek Fitri menatap cucu kesayangannya lalu melanjutkan pembicaraan. “Nenek yakin, walaupun banyak rintangan, kamu pasti akan sukses.” Ungkap Nek Fitri penuh keyakinan dan berlinang air mata.
“Nenek pokoknya harus sembuh” Anton menyeka air mata neneknya. “Nenek harus menyaksikan kesuksesanku, aku sayang banget sama nenek”. Ucapnya dengan tumpuhan air mata.
            Tanpa sadar, Nek Fitri telah menutup mata sembari tersenyum pada cucunya. Nenek jangan tinggalkan aku sendiri.... keluhnya dalam hati.
***
            Berita meninggalnya Nek Fitri terdengar ke telinga Bu Ratna.  Tanpa pikir panjang, Bu Ratna langsung membawa Anton kerumahnya. Setelah beberapa hari dirumah Ibunya, sikap dan kebiasaan Anton sedikit demi sedikit berubah. Ibunya memanfaatkan Anton untuk menjadi seorang pengamen jalanan. Berinteraksi dengan debu-debu jalanan serta uang recehan telah menjadi hal biasa bagi hidupnya kini. “Ternyata Ibu hanya memanfaatkanku” ucap Anton penuh kekesalan. Nenek... aku ingn sekolah....desahnya.
*) Mahasiswa Jurusan PBA 2012

    Aktif di LPM Paradigma UIN Suka Jogja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat