Surat Resmi Bagi Tuhan

Surat Resmi Bagi Tuhan
Oleh; Nur Saadah Sa’bani*
Kebebasan, sebuah kata yang selalu tak henti ku cari dimana dia barada. Sebuah kata yang selalu membayangiku dalam kehidupan yang penuh tata tertib. Seperti tak ada pengertian bagi manusia seperti aku, tentang penjelasan arti sebuah kebebasan.
Kuliahat wajah putih nan ayu yang selalu melantunkan sabda indah bagiku menjawab sebuah tanda tanya besar dalam perjalananku dalam mencari letak kebebasan itu.
Lahir dalam sebuah keluarga yang agamis yang begitu kental sessungguhnya bukanlah pilihan hatiku yang kuharapkan. Berkecimung dengan lantunan-lantunan Qur’an dan kata-kata suci yang berasal dari Rasulullah katanya, itupun tak sepenuhnya membuatku girang. Aku berdiri melihat isi keluargaku yang memandang semua dengan segala yang berkaitan dengan surga dan neraka. Segala tingkah yang selalu dihubungkan dengan doktrin agama sering membuat gejolak dalam batinku. Tak sesekali aku mendesah dengan alur demi alur pertanyaan sebenarnya ada dalam jurang apa aku ini.
Menjadi seorang anak perempuan yang tidak pernah berkata tidak kepada abi dan uminya menjadi pilihan utamaku selama ini. Tutur umiku memang tak sekuat abiku yang begitu kental nilai agamanya. Umikupun lahir dari keluarga yang tidak begitu kental dengan agama, namun umiku juga bukanlah orang yang tidak mengerti ilmu agama. Lulusan 8 tahun di pondok salaf tidak membuat umiku susah dalam menyesuaikan keluarga abiku.
Sore itu angin beterbangan membawa daun-daun kering menari-nari didepanku yang seakan menarikku untuk mengikutinya. Kulihat kak Rahman kakak sepupuku sedang asyk berlarian bermain layangan disudut lapangan dekat rumahku. Kak rahman memnaggilku denagn keras “nisa... sini ikut main’’. Kulihat umi sedang duduk berbincang dengan abi diruang tamu saat itu. Akhirnya kuputusan untuk meminta izin kepada umi untuk ikut kak rahman. “umi...nisa boleh ikut kak Rahman main layangan?”. Dengan senyumnya yang lembut umipun menjawab “ boleh sayang... tapi jangan jauh-jauh ya..” . “iya umi..”dengan hati yang gembira aku mengejar kak Rahman untuk ikut bermain dengannya.
Kak Rahman adalah kakak sepupu yang begitu dekat denganku, dengan dia aku sering bermain, karena aku selalu berada di asrama yang dimiliki keluarga ayahku. Dan aku hanya pulang ketika akhir pekan, itupun belum tentu. Aku begitu puas bermain layang-layang hari itu. Namun sayang layang-alayangnya putus dan kami mencarinya sampai bakda maghrib baru pulang. Setibanya dirumah abi memarahiku karena pulang sampai hari gelap. Seperti biasa aku Cuma terdiam dan menunduk, karena aku tidak berani melihat abi marah. Dengan lembut, umi meredamkan ketakutanku. Bukan kali ini memang abi memarahiku, aku sudah beberapa kali dimarahi. dari gara-gara belum hafal Juz amma, susah bangun tidur,dan lain-lain.
Sampai akhirnya setelah lulus SMA. Aku meminta kak Fatar kakak kandungku untuk membantuku meminta izin umi dan abi mengizinkanku kuliah diluar kota. Alhamdulillah merekapun mengizinkanku. Diterima di Universitas Ternama di Bandung membuatku sangat bahagia. Hari itu aku berpamitan dengan abi dan umi untuk berangkat ke Bandung. Kulihat wajah ayu umiku yang tiba-tiba meneteskan air matanya membuatku tidak kuasa melihatnya. Beliau memelukku dengan lembut “jaga diri baik-baik ya sayang... kalo ada apa-apa cepet hubungi umi, pesen umi juga jangan sampai jilbab keshalihahanmu luntur disana setelah jauh dengan umi dan abi’’. Kulihat pula abiku yang begitu ku hormati mencium keningku dengan penuh kasihnya “abi nggak bisa ngasih apapun selain do’a yang tiap hari abi sampaikan kepada Allah untukmu nak...”. tak kuasa melihat mereka ingin rasanya aku tak beranjak.
Setelah di Bandung, dengan niat awalku belajar aku tidak pernah lekang dengan buku, kupelajari semua apa yang aku ketahui disana. Sampai pada suatu malam aku mendapat telfon dari kakaku .
“Assalamu’alaikum dek...”
“Waalaikum salam kak.. ada apa?”
“umi sekarang di RS. Besok pulang ya”
“umi..... iya kak”
Dengan segla kekacauan hatiku ku putuskan pagi itu untuk pulang. Sesampinya di RS kulihat umi tergolek lemah tak berdaya. Umi terjatuh waktu mau ke toilet, benturan keras dikepalanya membuat pembuluh darahnya pecah. Setelah bebrapa hari akhirnya umi diperbolehkan pulang. Tubuh bagian kanan umi tidak bisa digerakkan, semua aktifitasnya dari makan, minum dan lain-lain harus dibantu aku, kakaku dan abiku. Cek up pun masih selalu berjalan. Sedikit demi sedikit perubahan mulai terlihat dari umi.Do’a dan doa tak hentinya kupanjatkan kepada Allah untuk kesembuhan umiku. Karena kondisi umi yang mulai membaik, akhirnya abi menyuruhku untuk kuliah, mengingat seminggu lagi aku harus ujian.
Kembali dengan kondisi umi seperti itu membuatku terasa berat, namun aku juga harus menyelesaikan tugasku. Ujianpun selesai, aku memutuskan besok pulang untuk menemani umi. Tiba-tiba ku dapati telfon dari omku yang merupakan adik dari umi. Om ku menyuruhku untuk pulang karena umi diambil oleh Allah. Rasa hancur dan kecewa menyelimutiku sampai ku lihat jenazah umiku yang cantik itu memang nyata dihadapanku. Terselip rasa benciku terhadap Allah karena menjawab do’a untuk kesembuhan umiku yang ternyata mengambilnya dalam hidupku untuk selamanya.
15 hari kemudian kubawa rasa kecewa yang begitu dalam ke Bandung, mengingat betapa indahnya Umiku selama ini. Tak peduli lagi aku dengan agama, surga dan neraka. Kuhabiskan malam-malamku bersama teman-temanku dibandung. Jilbab yang tak pernah lepas dari keplaku pun tak tahu entah dimana sekarang. Tak peduli dengan 17 rakaat. Yang ku tahu hanya Tuhan tak sebaik dan seindah ynag dikatakan keluarga abiku. Bagiku dunia dan akhirat hanya tipuan Tuhan belaka. Dan aku merasakan ternyata seperti ini arti sebuah kebebasan yang dimaksut orang-orang.
Sampai suatu malam aku duduk disebuah kursi ditempat andalan para anak muda Bandung. Ku lihat seorag wanita cantik yang ternyata maba Dewi kakak semester atasku yang aku kagumi dengan kecantikan dan penampilanya yang modis. Kuliahat dia dalam pengaruh alkohol waktu itu bersama keempat teman laki-lakinya. Kuliahat tubuhnya yang begitu indah seperti tak berharga lagi, kulihat disentuhnya seluruh tuduh mbak dewi oleh teman-temannya. Melihatnya seperti itu rasa kagum yang ku miliki sektika jijik melihatnya. Fikiranku terlintas pada umi. Bagiamana perasaan umi jika seandainya itu aku. Dengan batin yang berontak aku mulai menangis melihat diriku malam itu.
Kejadian malam itu menjadi pelajaran besar bagiku. Malam itu aku manulis sebuah kalimat yang kutujukan kepada Tuhan dan Umiku.
“Tuhan,,, maafkan aku dengan segala keangkuhan dan kekotoran hatiku padamu. Ku tahu tak pantasku menghakimiMU yang telah memberikanku segala-galanya termasuk umi. Maafkan aku dengan segala kemarahanku. Jangan Kau limpahkan dosaku ini kepada umi,abi, dan saudara-saudaraku. Tuhan,,, ku tuliskan sebuah surat resmi yang kukirimkan kepada Mu untuk umi ynag ada dipelukMu.
“umi... aku ingin menjadi wanita yang Shalihah....................”.
Kubawa sebuah toga dan jubah wisudaku yang bernobel Cumloade dihadapan tempat Mahrabah wanita nan ayu yang sedang terlelap manis dipangkuan Tuhanku. “umi.. aku sudah wisuda dan menjadi mahasisiwi terbaik .... dan aku sadar kebebasan itu bukanlah puas melihat dunia luar, namun puas menjelajahi maksut Tuhan”.
*) Mahasiswa Jurusan KI 2011

    Aktif di LPM Paradigma UIN Suka Jogja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat