Sang Pemberontak yang Melawan Pemerintah Demi Kesejahteraan

Judul               : Shin Suikoden
Penerbit           : Khansa Publishing
Tahun terbit     : Mei 2013
ISBN               : 978-602-179-613-9
Pengarang       : Eiji Yoshikawa
Oleh                : Nur Tanfidiyah*

Sang Pemberontak yang Melawan pemerintah
Demi Kesejahteraan
            Inilah kisah perjalanan seorang pendekar yang bijaksana, cinta damai, pemberani, adil dan penuh kasih sayang. Namun, terpaksa masuk dalam dunia perampokan” demi menyelamatkan masyarakat dari kebobrokan pemerintah.
            Eiji Yoshikawa seorang penulis asal Jepang yang terkenal, kini kembali menciptakan karya tulisnya yang ketiga “Shin Suikoden” Kisah petualangan klasik batas air. Eiji mencoba membawa pembaca pada cerita yang penuh ketegangan dengan rangkaian kata-kata yang memukau dengan gaya bahasa khasnya yang memikat, membuat pembaca mudah memahami dan mencerna isi cerita tersebut.
            Buku ini menceritakan Sou Kou Mei seorang pemuda tahanan bawah tanah kawasan Sou. Dia terpaksa masuk dalam dunia perampok “Ryou Zan Paku” yang tak lain berisi teman-temannya. Dia dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai wakil pemimpin dalam dunia kecil tersebut bersama dengan 108 lebih pendekar yang mempunyai keahlian berbeda,  bersatu mengumpulkan kekuatan untuk melawan pemerintahan yang penuh dengan kerakusan dan kebobrokan.
            Dikisahkan, Sou Kou Mei seorang pemuda yang pernah menjadi pegawai pemerintah dikenal sebagai pejabat yang bersih, dikalangan keluarga dia dikenal sebagai anak yang sangat berbakti kepada orang tua, suka membaca buku dan bersuci diri, serta selalu bersikap welas asih, adil pada teman-temannya serta penduduk setempat. Menikmati kehidupan tenang adalah tujuannya. Dia hanyalah manusia yang ingin menjalani kehidupan apa adanya, (hlm.78).
Tetapi inilah nasib, pihak pemerintah menganggapnya pemberontak. Hingga kini dia menjadi tahanan bawah tanah dikawasan Sou. San Tou seorang kepala tahanan yang mencoba menolong Sou Kou justru ikut menjadi tawanan, keduanya akan dijatuhi hukuman mati atas perintah kepala pengadilan Sai Kyuu dan bawahannya Kou Ben Pei karena berbohong demi menyelamatkan Sou Kou. Kedua orang tersebut juga memanfaatkan keadaan itu untuk meningkatkan reputasi sebagai pejabat pemerintah. Pada saat detik-detik hukuman mati mereka ditolong oleh sekelompok orang yang tidak lain adalah teman-temannya dari Ryou Zan Paku.
            Gunung Doku Ryuu yang terdiri dari pemerintah yang licik itu, tidak begitu jauh dari Ryo Zan Paku. Kedua wilayah ini secara alamiah bertentangan, seiring dengan meningkatnya Ryo Zan Paku, wilayah disekitar keluarga Shuku Ryu menjadi curiga dan berprasangka bahwa kelak wilayah mereka juga akan dicaplok, karena itu mereka saling waspada. Orang yang paling mencemaskan keadaan ini adalah para pemimpin keluarga Shuku Chou Shou, mereka adalah Shuku Ryo si anak sulung, Shuku Kou si anak kedua dan si anak ketiga Shuku Byou. Mereka menganggap Ryou Zan Paku adalah musuh besar. (Hlm.238).
            Suatu ketika Ji Sen disandera, Sou Kou memimpin untuk menyerang keluarga Shuku Chou Bou di gunung Doku Ryuu. Namun, pasukan Ryou Zan Paku berhasil dipukul mundur oleh musuh karena pasukan lawan lebih terlatih ditambah banyaknya kesatria. Setelah beberapa kali mencoba menyerang kembali, kemenangan pun belum memihak kepada mereka. Tetapi, salah satu pendekar perempuan yang hebat Ichi Jou Sei (Si Hijau Tinggi)  tertangkap sehingga memicu amarah Shuku Chou Bou untuk membalas dendam terutama kepada Sou Kou yang menjadi pemimpin perang saat itu, setiap kali perang pun dia menjadi incaran pertama.
            Atas kekalahan tersebut Sou Kou sangat bersedih hati, karena sebagian dari anggotanya menjadi tawanan dan perajurit banyak yang mati, kini pasukannya  semakin  berkurang. Saat itu, muncul Son Ryuu yang dijuluki Byou Utsu Chi sang Polisi Militer yang sedikit-banyak mengetetahui kelemahan musuh membuat taktik penyerangan dengan memasuki wilayah musuh.
            Tibalah saat yang ditunggu, dengan menggilir pasukan penyerang membaginya menjadi empat kelompok, karena Ryou Zan Paku tidak punya pasukan banyak, akhirnya meminta rakyat jelata wilayah tersebut untuk memukul tambul sebagai pasukan palsu. Sementara dari pihak musuh Shuku Chou Bou duduk dikursi pemimpin dan ketiga anaknya bertugas memimpin diluar gerbang puri. Sebagian tentaranya bermaksud meyerang pasukan Ryou Zan Paku dari gerbang belakang, namun pasukan Ryou Zan Paku mampu mengatasinya. Dengan berbagai taktik yang telah dipersiapkan Ryou Zan Paku mendapat kemenangan besar dengan matinya Chou Bou karena jatuh ke sumur batu yang sangat dalam kemudian tertusuk pedang, serta Ran Tei Gyoku dengan ilmu bela dirinya yang sangat hebat dan ketiga anaknya pun mati.
            Dari kemenangan tersebut, mereka mengeluarkan semua harta yang ada dalam puri. Walaupun kerap kali disebut perampok oleh masyarakat, namun sebenarnya tidak melakukan kejahatan. Mereka telah bersepakat melakukan kebaikan bagi masyarakat dengan aturan yang dibuat sendiri. Akhirnya mereka membagikan sebagian besar harta rampasannya kepada rakyat di wilayah tersebut.
            Sajian cerita yang ada dalam buku ini sangatlah menarik, penuh pesan moral yang    sangat cocok dikonsumsi semua kalangan masyarakat sebagai peran inti terwujudnya kedamaian untuk dijadikan cermin besar dan bahan renungan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Gambaran tokoh yang memiliki jiwa kepemimpinan meninggalkan keteladan yang patut dijadikan sebuah panutan khususnya bagi yang bergelut dibidang pemerintahan agar bisa menciptakan kesejahteraan yang dicita-citaka semua masyarakat.
*) Peresensi adalah mahasiswa jurusan PGMI 2012

    Aktif  di LPM Paradigma FTyK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat