Sang Pemberontak yang Melawan Pemerintah Demi Kesejahteraan

Judul                : Shin Suikoden
Penerbit           : Khansa Publishing
Tahun terbit     :  2013
ISBN               : 978-602-179-613-9
Pengarang       : Eiji Yoshikawa
Oleh                : Nur Tanfidiyah*

          

Inilah kisah perjalanan seorang pendekar yang bijaksana, cinta damai, pemberani, adil dan penuh kasih sayang. Namun, terpaksa masuk dalam dunia perampok demi menyelamatkan masyarakat dari kebobrokan pemerintah.
            Eiji Yoshikawa seorang penulis asal Jepang yang terkenal, kini kembali menciptakan karya tulisnya yang ketiga “Shin Suikoden” Kisah petualangan klasik batas air. Eiji mencoba membawa pembaca pada cerita yang penuh ketegangan dengan rangkaian kata-kata yang memukau dengan gaya bahasa khasnya yang memikat, membuat pembaca mudah memahami dan mencerna isi cerita tersebut.
            Buku ini menceritakan Sou Kou Mei seorang pemuda tahanan bawah tanah kawasan Sou. Dia terpaksa masuk dalam dunia perampok “Ryou Zan Paku” yang tak lain berisi teman-temannya. Sou Kou dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai wakil pemimpin dalam dunia kecil tersebut bersama dengan 108 lebih pendekar yang mempunyai keahlian berbeda,  bersatu mengumpulkan kekuatan untuk melawan pemerintahan yang penuh dengan kerakusan dan kebobrokan.
            Dikisahkan Sou Kou Mei seorang pemuda yang pernah menjadi pegawai pemerintah dikenal sebagai pejabat yang bersih, dikalangan keluarga dia dikenal sebagai anak yang sangat berbakti kepada orang tua, suka membaca buku dan bersuci diri, serta selalu bersikap welas asih, adil pada teman-temannya serta penduduk. Menikmati kehidupan tenang adalah tujuannya. Dia hanyalah manusia yang ingin menjalani kehidupan apa adanya. Tetapi inilah nasib, pihak pemerintah menganggapnya pemberontak.
Suatu ketika Sou Kou menjadi tahanan bawah tanah karena menulis syair yang dianggap sebagai perlawanan kepada pemerintah (hlm.33). Sai Kyuu kepala pengadilan dan bawahannya Kou Ben Pei berinisiatif membuat surat laporan atas tertangkapnya pemberontak Sou Kou kepada menteri yang tak lain adalah ayah dari Sai Kyuu, untuk meminta persetujuan penghukuman Sou Kou, alih-alih politik agar laporan ini menguntungkan mereka, sehingga peningkatan jabatan pun akan mereka terima (hlm.35).
San Tou seorang kepala tahanan yang mempunyai jurus gerak dewa dipercaya untuk menyampaikan surat tersebut. Namun, dia  terpaksa membuat surat balasan palsu dari menteri, demi menolong Sou Kou yang sedang sekarat.  Akan tetapi, kebohongannya tersebut diketahui oleh Kou Ben Pei, akhirnya Sou Kou pun ikut menjadi tawanan dan keduanya akan dijatuhi hukuman mati. Saat akan dhukum mati mereka ditolong oleh sekelompok orang dari Ryo Zan Paku yang menyamar untuk menyerang algojo serta pasukan lainnya, kemudian Sou Kou dan San Tou pun dibawa ke kawasan Ryo Zan Paku (hlm.64). Dari kejadian itulah, Sou Kou terpaksa bergabung dalam dunia yang dikenal kumpulan perampok.
            Gunung Doku Ryuu yang terdiri dari pemerintah keji, tidak begitu jauh dari Ryo Zan Paku. Kedua wilayah ini secara alamiah bertentangan, seiring dengan meningkatnya Ryo Zan Paku, wilayah disekitar keluarga di Shuku Ryu menjadi curiga dan berprasangka bahwa kelak wilayah mereka juga akan dicaplok, karena itu mereka saling waspada. Orang yang paling mencemaskan keadaan ini adalah para pemimpin keluarga Shuku Chou Bou, mereka adalah Shuku Ryo si anak sulung, Shuku Kou si anak kedua dan si anak ketiga Shuku Byou. Mereka menganggap Ryou Zan Paku adalah musuh besar, (hlm. 238).
            Suatu ketika Ji Sen salah satu pasukan Ryo Zan Paku disandera oleh tentara Shuku Chou Bou hanya karena memakan ayam penanda waktu (hlm. 221). Sou Kou pun memimpin untuk menyerang keluarga Shuku Chou Bou di gunung Doku Ryuu. Pasukan Ryou Zan Paku berhasil dipukul mundur oleh musuh karena pasukan lawan lebih terlatih ditambah banyaknya kesatria. Setelah beberapa kali mencoba menyerang kembali, kemenangan belum memihak kepada mereka. Disisi lain salah satu pendekar perempuan yang hebat Ichi Jou Sei “Si Hijau Tinggi” berhasil tertangkap,  sehingga memicu amarah Shuku Chou Bou untuk membalas dendam terutama kepada Sou Kou yang menjadi pemimpin perang saat itu.
            Atas kekalahan yang bertubi-tubi Sou Kou sangat bersedih hati, karena sebagian dari anggotanya menjadi tawanan dan prajurit banyak yang mati, kini pasukannya  semakin  berkurang. Saat itu, muncul Son Ryuu yang dijuluki Byou Utsu Chi sang Polisi Militer yang sedikit-banyak mengetahui kelemahan musuh, tidak hanya ditakuti orang di dalam puri, tetapi juga pasukannya sendiri membuat taktik penyerangan dengan memasuki wilayah musuh (hlm.306).  
            Tibalah saat yang ditunggu, dengan menggilir pasukan penyerang membaginya menjadi empat kelompok, karena Ryou Zan Paku tidak punya pasukan banyak, akhirnya meminta rakyat jelata wilayah itu untuk memukul tambul sebagai pasukan palsu. Sementara dari pihak musuh Shuku Chou Bou duduk dikursi pemimpin dan ketiga anaknya bertugas memimpin diluar gerbang puri. Saat itu, Sebagian tentaranya menyerang pasukan Ryou Zan Paku dari gerbang belakang, namun berkat kerja keras, kekompakan dan keberanian pasukan Ryo Zan Paku mampu mengatasinya. Dengan berbagai taktik yang telah dipersiapkan Ryou Zan Paku mendapat kemenangan besar dengan matinya Chou Bou karena jatuh ke sumur batu yang sangat dalam kemudian tertusuk pedang (hlm. 340). Ran Tei Gyoku dengan ilmu bela dirinya yang sangat hebat dan ketiga anaknya pun mati.
            Dari kemenangan tersebut, pasukan Ryo Zan Paku mengeluarkan semua harta yang ada dalam puri. Walaupun kerap kali disebut perampok oleh masyarakat, namun sebenarnya tidak melakukan kejahatan. Mereka telah bersepakat melakukan kebaikan bagi masyarakat dengan aturan yang dibuat sendiri (hlm.344). Akhirnya mereka membagikan sebagian besar harta rampasannya kepada rakyat di wilayah tersebut.
            Sajian cerita yang ada dalam buku ini sangatlah menarik, penuh pesan moral yang    sangat cocok dikonsumsi semua kalangan masyarakat sebagai peran inti terwujudnya kedamaian untuk dijadikan cermin besar dan bahan renungan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Gambaran tokoh yang memiliki jiwa kepemimpinan meninggalkan keteladan yang patut dijadikan sebuah panutan khususnya bagi yang bergelut dibidang pemerintahan agar bisa menciptakan kesejahteraan yang dicita-citakan masyarakat.
                                                           
*Penulis adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat