Kreativitas Anak PGMI dengan "Gallery Session"


Belakangan ini, mahasiswa PGMI  menjadi sorotan di kalangan Fakultas Ilmu Tarbiyah (FITK) dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga. Tidak lain, karena pengadaan baksos independen di desa Magelang, kecamatan Kaliangkrik tanggal 4-6 April 2014 lalu. Kemudian, tepat pada tanggal 24 April 2014 PGMI 2012 kembali mendobrak kreativitasnya yang tidak kalah menarik dari kegiatan sebelumnya, yaitu Gallery Session.  Kegiatan ini  dirancang untuk keperluan materi Sains II dan Pembelajarannya (fisika). Adapun sistem kegiatannya adalah membagi mahasiswa di kelas menjadi enam kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5-6 anak yang masing-masing mendapatkan materi yang berbeda. Sebelum Gallery Session, dosen membuat model pembelajaran secara kooperatif, dimana setiap kelompok membuat beberapa soal dari materi yang didapat kemudian secara rolling, soal tersebut dijawab oleh kelompok lain. Tiga hari setelah itu, baru mengadakan pameran bertempat di ruangan 310 gedung FITK. Keunikan yang tampak pada setiap stand memang patut diacungi jempol.
Materi-materi sains yang sederhana, seperti listrik statis justru membingungkan mahasiswa dalam membuat media ajarnya. Namun, hal ini disiasati oleh Benny dan kawan-kawan. Mereka memiliki inisiatif membuat film sendiri agar penyampaian informasinya lebih mengena. “Materinya sangat simple, jadi punya inisiatif membuat film sendiri,” ujar Benny yang pada saat ditemui sedang mempersiapkan stand.
            Kreativitas mahasiswa benar-benar terasah. Pasalnya, pembuatan media ajar haruslah mempertimbangkan biaya, ketahanan, keamanan, kepraktisan, dan daya tarik. Dengan pertimbangan tersebut, mahasiswa dituntut untuk membuat media semenarik mungkin dengan biaya murah. Tentunya, tantangan ini disambut baik oleh mahasiswa. Salah satu mahasiswi menyampaikan ketertarikannya dengan model kuliah seperti ini. “Seneng, soalnya melatih kreativitas mahasiswa, gak hanya ceramah,” papar Winda.
            Senada dengan Winda, Raha juga menyampaikan ketertarikannya dengan metode kuliah semacam ini. “Gak ngantuk, mudah diingat, dan bermakna bagi kita,” ungkapnya.
Teknisnya, setiap kelompok yang terdiri dari 5 orang membuka stand dan menentukan 1 atau 2 anak untuk menjaga stand tersebut. Adapun anggota lainnya bertugas untuk keliling, menggali informasi di masing-masing stand selama 5 menit tiap stand.   
“Semoga kelak kegiatan pameran ini dapat dilaksanakan di gedung-gedung sekolah MI yang ada di Yogyakarta untuk menarik perhatian anak-anak agar mempunyai kemauan untuk menciptakan sesuatu atau kerajinan sekaligus mengajak kepada guru-guru yang bersangkutan agar kreatif membuat media pembelajaran yang beragam. Sehingga nantinya anak tidak akan merasakan bosan dalam proses pembelajaran.” Tegas pak Sigit selaku dosen pengampu mata kuliah Sains II dan Pembelajarannya, saat memberikan sambutan di depan kelas. 

Imron dan Fidiya


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat