PGMI 2012 Adakan Bazar Murah di Magelang



         


           Pasar murah yang diadakan Mahasiswa PGMI angkatan 2012 berjalan dengan lancar, dari hari Sabtu-Minggu (5-6/04/2014)  di Prampelan, Kaliangkrik, Magelang. Pasar murah ini merupakan salah satu dari agenda Baksos. Pada Sabtu pagi pukul 06.50 WIB, panitia mulai membuka stand pasar murah -pakaian pantas pakai- di rumah Mukrim, ketua RW setempat.  Kegiatan ini disambut baik oleh masyarakat. Baru beberapa menit saja, stand pasar murah sudah dikerumuni banyak orang. Bahkan ada seorang laki-laki yang memborong pakaian tanpa tawar menawar. “Sampai ada bapak-bapak beli sekardus,” papar Ela, anggota panitia pasar murah. “ (Dia membeli-red) batik dua, selimut dua, celana jeans, dan sarung,” imbuh Zakaria merinci pakaian-pakaian yang dibeli.
Namun, pakaian-pakaian berbahan jeans tidak terlalu diminati “Menurutku karena kondisinya agamis dan hampir seluruh perempuan di daerah tersebut berjilbab bahkan dari anak-anak sepantaran PAUD/TK, jadi minatnya sama jilbab, gamis, dan busana muslim. Kalau jeans tetap ada yang berminat, tetapi sedikit” tutur Ela saat ditemui di tengah-tengah kesibukannya menjaga stand. Hal senada juga disampaikan Zahroh, anggota panitia pasar murah. “Cuma satu tadi (yang beli jeans-red). Mereka pakai rok semua,” katanya.
Pengalaman pahit pun dialami oleh rekan panitia. Diantaranya, ketika ada anak kecil yang membeli pakaian seharga Rp 1.000,00/3 potong dengan menyodorkan uang Rp 100.000,00. Hal ini tentu mengundang kecurigaan dari Nisa, panitia yang bertugas menunggu stand tersebut. Ia pun memeriksa keaslian uang tersebut. Ternyata benar, uang tersebut memang uang palsu. Dengan santun Nisa mengembalikan uangnya ke anak kecil tersebut dan memberikan 3 potong pakaian. “Tadi ada anak kecil yang membeli pakaian seribuan, bayar dengan uang 100 ribu palsu,” jelasnya saat evaluasi di malam harinya, Sabtu (05/04).
Pada hari berikutnya, Minggu (06/04), panitia kembali membuka stand pasar murah. Kali ini, bukan hanya pakaian pantas pakai yang ditawarkan, melainkan juga sembako sebanyak 40 paket untuk 40 kepala keluarga yang membutuhkan. Sembako yang terdiri dari minyak goreng ½ kg, beras 2 kg, gula aren, dan sebagainya dijual dengan harga Rp 25.000,00. Sampai akhir acara, ada satu paket sembako yang tidak terjual karena ada cacat di dalamnya.
Sekitar pukul 15. 20 WIB saat kondisi hujan, tidak menyurutkan penduduk Prampelan untuk mengantri dan memilah milih pakaian serta tawar menawar. “Walaupun hujan mengguyur, tapi tidak melunturkan semangat pengunjung untuk membeli pakaian,” ujar Asep, panitia baksos. Panitia pun tidak mau kalah menawarkan dagangannya dengan harga yang begitu miring. Akan tetapi, meskipun harganya miring, masih saja ditawar. “Ada yang harganya 20 ribu dienyang 2 ribu,” keluh Benny, koordinator pasar murah.


Imron Mustofa
Editor: Nur Tanfidiyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat