Mahasiswa PGMI 2012 Adakan Kunjungan ke "YAKETUNIS"

Mahasiswa PGMI 2012 Adakan Kunjungan ke “YAKETUNIS”


Mahasiswa PGMI menjadi topik yang tidak habis-habisnya diperbincangkan. Tidak lain karena semakin menggeludaknya kegiatan independen guna meningkatkan dan mengembangkan jiwa sosial. Kali ini tepatnya tanggal 3 Mei 2014, mengunjungi YEKATUNIS (Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam) di jalan Parangtritis No.46 Yogyakarta, 55641 Rt 66/ Rw 18, kelurahan Mantrijeron, kecamatan Mantrijeron   dalam rangka menindaklanjuti kegiatan bakti sosial yang di adakan 4-6 April 2014 lalu. Kegiatan tersebut menggunakan dana yang dihasilkan dari kegiatan baksos khususnya pasar murah hingga mencapai 5 juta lebih. Bantuan  diberikan secara tunai dan berbentuk barang berupa beras. Kunjungan tersebut diikuti kurang lebih 26 mahasiswa.
Kegiatan kunjungan ini diawali dengan acara ramah tamah atau perkenalan oleh bebrapa pengelola YAKETUNIS. Semua seluk beluk tentang yayasan ini pun disampaikan oleh Pak Wiyatno sebagai salah satu pengelola, “Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam didirikan berdasarkan Firman Alloh SWT dalam Al-Qur’an Surat ‘Abasa ayat 3 dan 4 yang menjelaskan bahwa tunanetra memiliki potensi untuk diberikan pendidikan dan pengajaran dibidang mental, spiritual, agama dan ketrampilan, kecerdasan serta ilmu pengetahuan sehingga perlu didirikan lembaga atau yayasan sebagai sarana atau wadah untuk melaksanakan dan mengamalkan ayat tersebut.”
Berdirinya YAKETUNIS merupakan ide dari seorang tunanetra bernama Supardi Abdusomat. Pada saat itu beliau berkunjung ke Perpustakaan Islam di Jl. Mangkubumi No. 38 menemui Bapak H. Moch. Solichin Wakil Kepala Perpustakaan Islam. Kedatangan beliau bermaksud sharing kepada Bapak. H. Moch. Solichin mengenai bagaimana caranya mengangkat harkat martabat warga tunanetra. Akhirnya disepakati untuk mendirikan yayasan yang diberi nama Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) Yogyakarta pada tanggal 12 Mei 1964 dengan alamat : Jl. Mangkubumi No. 38 Yogyakarta, Akta Notaris No. 10 Tahun 1964 Notaris: Soerjanto Partaningrat, SH, dengan ijin operasional No. 188/0622/V.I tanggal 16 Maret 2009.

Tentang YAKETUNIS

YAKETUNIS sebuah yayasan yang di dalamnya terdapat SD, MTS dan MAN di Maguo. Berdirinya sekolah swasta tersebut tidak semudah yang dibayangkan, karena menempuh berbagai kendala. Adapun jenjang sekolah di YAKETUNIS dulunya mempunyai nama tersendiri. Selain itu, yayasan ini menyediakan asrama untuk anak-anak yang berasal dari luar kota seperti Papua, Kalimantan barat dll. Beberapa siswa yang dilaju adalah mereka yang rumahnya dirasa dekat, salah satunya adalah Anisa, siswi yang melaju setiap hari dari Bantul (red).
Berbagai aktifitas sehari-hari yang sangat bermanfaat untuk mengembangkan intelektual, spiritual, emosional dan berfikir kritis di YAKETUNIS pun dilakukan sebaik mungkin, “Anak-anak disini dilatih untuk selalu bangun sebelum subuh, untuk dibiasakan shalat berjamaah, setelah itu mengaji tafsir hadist dan al-Qur’an, latihan khutbah jum’at untuk laki-laki, serta hafalan jus amma dan doa sehari-hari hingga jam 05.15. Dilanjutkan dengan sarapan pagi, mandi dan persiapan ke sekolah. Disini juga disediakan ruang kesenian (musik). Adapun kegiatan malam hari yaitu belajar membaca al-Qur’an yang dibimbing oleh kakak kelas 2 kali seminggu, belajar bahasa Arab dan bahasa Inggris bersama mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dan UNY. Setiap akhir kegiatan diadakan evaluasi agar seminggu ke depan kekurangan yang ada dapat diperbaiki.” Tegas pak Wiyatno selaku pengelola YAKETUNIS saat ditanya oleh Faisal Hidayat salah satu mahasiswa yang ikut serta dalam kunjungan.
 “Serentetan kegiatan inilah yang membuat anak-anak difable menjadi percaya diri ketika tampil di depan umum, mampu berfikir kritis dan tidak jarang anak-anak tersebut ketika di bangku sekolah mendapatkan nilai akademik yang bagus. Tidak lain mereka yang belajar di kampus UIN sunan Kalijaga, dalam keterbatasannya IP yang mereka capai di atas 3,00.” Tukas pak Kardi selaku pengelola yayasan. 
“Mengenai pengajar, beberapa diantanya adalah Guru-guru lulusan SLB, mahasiswa UNY dan Sanata Dharma yang memang sudah ada jurusan tersebut. UIN sebagai kampus yang sudah menyediakan ruang belajar untuk difable semoga ke depan dapat mendirikan jurusan yang serupa.” Tambahnya
“Kita sebagai manusia yang normal harusnya lebih menghargai, peduli, mengambil sisi positif dan tidak mengeluh serta pandai bersyukur atas karunia Allah. Sebab, mereka dalam keterbatasannya tetap berusaha dan semangat menjalani hidup, sekiranya kita yang lebih dari mereka harus mampu melakukan banyak hal, berjuang dan berusaha untuk kehidupan yang lebih baik.” Demikian yang dikatakan Nisfi Anisah usai mengunjungi YAKETUNIS.

                                                      Nur Tanfidiyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat