Munculkan Jiwa Usahawan Melalui Pelatihan Edupreneurship

Sambutan Wakil Dekan III dalam acara Seminar Edupreneurship, Rabu (25/11).

Tarbiyah, Paradigma Online – Memunculkan jiwa usahawan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN SUKA Yogyakarta mengadakan seminar Edupreneurship yang diadakan selama dua hari. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa semester lima untuk hari Selasa dan mahasiswa semester tujuh di hari Rabu yang dipilih sesuai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif).

Latar belakang diadakannya kegiatan pelatihan ini adalah karena menurut data BPS ada sekitar 300.000 sarjana yang jobless artinya benar-benar tidak mempunyai pekerjaan. Tujuan utamanya agar alumni FITK bukan untuk mencari pekerjaan melainkan menciptakan pekerjaan. “Memang mainstream kita bekerja di bidang pendidikan, tapi, di luar itu kan pasti ada peluang-peluang lain,” ungkap Karwadi selaku Wakil Dekan III saat ditemui sepulang mengajar mahasiswa pasca.

Adapun menurut Muqowwim sebagai Wakil Dekan I, istilah ini (edupreneurship –red) dimunculkan mungkin hanya trand saja. Jadi. Hubungan pendidikan dengan entrepreneur bisa digabungkan. Secara substansi sama saja agar memunculkan mahasiswa kreatif, hanya beda istilah saja.

Acara yang dimulai pukul 07.30 WIB-16.30 WIB diikuti oleh sekitar 250 mahasiswa. Pemateri di datangkan dari praktisi usaha yang mana hari pertama ada lima pemateri, sedang hari kedua hanya tiga pemateri. Beberapa diantaranya Suyadi (Kaprodi PGRA), Buchori Al-Zahrowi (Ketua HIPSI).

Dekan FITK yang merupakan salah satu dari pemateri memberikan motivasi berupa film kartun. Sedangkan Buchori menampilkan sulap berupa uang kertas seribu dirubah menjadi uang kertas seratus ribu rupiah yang kemudian diberikan kepada salah salah satu peserta pemberani.

“Hadiah yang ditawarkan menambah antusias tersendiri bagi peserta,” ungkap Rahma Mahasiswa MPI. (24/11)

Pendidikan memang harus bisa menciptakan manusia yang berkarakter. Dalam konteks ini teori entrepreneurship itu tidak terlalu penting untuk dipelajari, tapi dipraktekkan. [Susi dan Rena]

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. wah, kok berdasarkan IPK ya penentuan pesertanya? Yang IPK rendah tdk bisa nikmati seminar edupreneur. Apa tdk diskriminatif namanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inilah yang menjadi persoalan. Ketika acara yang sebagus ini hanya dipersiapkan secara mendadak, mahasiswa yang benar-benar membutuhkan malah jadi terabaikan.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat