Dialog Keagamaan, Solusi Konflik Atas Nama Agama


Jogja, Paradigma Online - Konflik-konflik di Indonesia dengan mengatasnamakan agama bukanlah murni bersumber dari agama itu sendiri, melainkan banyak kepentingan yang menungganginya. Sentimen masyarakat terhadap hal-hal yang ada kaitannya dengan agama, menjadi peluang emas bagi oknum yang memiliki kepentingan. Maka wajar, jika konflik atas nama agama di Indonesia begitu subur dalam perkembangannya.

Afif Toha, pembicara dalam Diskusi ‘Konflik Atas Nama Agama’ yang diadakan Garawiksa Institute menegaskan, ada berbagai kepentingan dalam sebuah konflik atas nama agama. “Ada kontestasi politik, ekonomi, dan agama, menjadi satu,” ujarnya, Rabu (2/12).

Namun, ia mengingatkan bahwa pengabaian terhadap agama sebagai potensi konflik juga berbahaya. “Jika (agama –red) tidak dipahami, akan menjadi sumber konflik, karena agama bagian dari pembentuk kepribadian seseorang,” tegasnya.

Maka untuk mencegah agar konflik atas nama agama tak meluas, bahkan bisa diminimalisir, perlu adanya dialog keagamaan, baik sesama maupun antar kelompok yang memiliki pandangan berbeda.

“Dialog agama itu untuk memperdalam pemahamanku tentang apa yang kau yakini, dan pemahamanmu tentang apa yang aku yakini,” papar lelaki yang akrab dipanggil Afif.
 
Hanya saja, masyarakat masih terlalu asing dengan istilah dialog agama. Bahkan, banyak di antara mereka memiliki pandangan yang keliru terhadap istilah tersebut. “Dialog diasumsikan untuk mendangkalkan kepercayaan, padahal sebaliknya,” ujar Koordinator Kebebasan Berkeyakinan SATUNAMA. [Mustofa]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat