Jepang di Mata Anggun Yurna Yudenisa

Sumber gambar: akenoyuki.blogspot.com


Jepang hingga kini masih menjadi “aktor” yang hangat diperbincangkan di dunia akademisi. Kepeduliannya terhadap pendidikan sangat masyhur, terlebih cerita tentang pertanyaan pertama petinggi Jepang pasca peristiwa pengeboman yang tidak menanyakan berapa jumlah pabrik, gedung pemerintahan, dan tempat strategis lainnya. Melainkan “Berapa jumlah guru yang masih hidup?” membuat Jepang dielu-elukan di bidang pendidikan.


Namun benarkah Jepang merupakan potret sempurna dunia pendidikan? Anggun Yurna Yudenisa, siswa jurusan IPA SMA Internasional Budi Mulia Dua yang sekarang sedang mengikuti Rotary Youth Exchange program di Jepang mengungkapkan pendapatnya mengenai suka duka pendidikan di Jepang. Siswa tomboy kelahiran 22 April 1998 ini beruntung lolos seleksi pertukaran pelajar selama satu tahun ke sekolah atlet di Jepang melalui dukungan Rotary Club Yogyakarta, sebuah organisasi sosial yang bergerak untuk membantu sesama.

Anggun Yurna menilai di Jepang tidak ada standar pendidikan. Di sana, gadis yang akrab disapa Yurna ini tidak mendapatkan pelajaran Matematika dan Biologi seperti di SMAI BMD dulu. Pelajaran IPA di Jepang dicampur-campur dan hanya belajar teori. Rata-rata temannya tidak pandai berhitung. Mungkin memang tidak semua sekolah di Jepang seperti itu, tapi intinya tidak ada standarisasi di negeri berjulukan Negara Matahari Terbit tersebut. 

Anak-anak di Jepang terlihat lebih terfokus pada kegiatan klub atau ekstrakurikuler mereka. Setiap hari mereka latihan sampai malam, sampai tidak bisa belajar di rumah. Mereka belajar hanya di sekolah saja. Seminggu sebelum UTS, biasanya semua pelajaran di kosongkan untuk persiapan ulangan. Menurut pandangan Yurna, teman-temannya di Jepang hanya pintar di bidang yang mereka sukai saja. Misalnya ingin menjadi dokter, pintarnya di bidang Biologi, namun Matematikanya kurang. Sedari dini mereka memang sudah terfokus pada bidang yang ia sukai tersebut. Pintar atau tidaknya dia, bisa masuk universitas favorit atau tidak, bisa jadi orang sukses atau tidak, itu urusan dia sendiri. Nama sekolah di Jepang tidak terlalu penting untuk masuk universitas, kecuali sekolah dan universitasnya memang sudah bekerja sama.

Yurna menuntut ilmu di sekolah keatlitan yang berlokasi di perbukitan. Sentra pertanian di sana bagus, dan terkenal sebagai penghasil jeruk dan umeboshi (tomat yang diasamkan). Sedari SD, siswa-siswi di sana sudah diajari pelajaran cocok tanam. 

“Sekolahku gede, kebunnya juga gede. Terus club olah raganya ada empat belas macam. Dan semuanya punya fasilitas lengkap. Terus di pelajaran biasa, kelas bermusiknya ada bermacam-macam, piano, gitar, orchestra. Aku ikut dua kelas seni, seni biasa sama seni memahat patung,” cerita Yurna mengenai kelasnya di Negeri Sakura.

Di sekolahnya terdapat kelas Kaligrafi Jepang, dan upacara minum teh. Uniknya, di sekolah itu ada juga kelas mengurus anak dan merawat untuk yang berminat menjadi bidan. Ada juga kelas merangkai bunga dan kelas menjahit kimono. Fungsi kegiatan tersebut adalah untuk melestarikan budaya dan upacara di Jepang. Sisanya memang karena mereka minatnya disitu, jadi siapa tahu itu bisa jadi nilai plus mereka kalau udah cari kerja nanti.

Cerita Yurna tersebut memang belum bisa menggambarkan secara utuh sistem pendidikan di Jepang. Namun cukup untuk membuat kita berkaca bahwa sistem di Jepang juga mempunyai cacat. Cerita itu secara tidak langsung juga mengajak kita bermuhasabah, sistem pendidikan di Indonesia memang masih jauh dari kata sempurna. Tapi itu tidak lantas berarti bahwa sistem Indonesia sama sekali tak punya kelebihan. Ujian Nasional yang banyak menuai konflik misalnya. Ujian Nasional itu diperlukan untuk penyetaraan ilmu, agar tidak terjadi ketimpangan yang besar seperti di Negara Matahari Terbit. Hanya saja untuk konsep dan tata cara Ujian Nasional memang perlu dievaluasi, agar siswa tidak merasa bahwa ujian adalah beban berat antara hidup dan mati. [Dewi Ratna Sari]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat