Rumah Giat Menggelar Srawung Literasi



       Aktivis Rumah Giat menyelenggarakan acara bedah buku dan sharing kepenulisan, minggu (28/02) sebagai bentuk pengawalan literasi. Srawung literasi kali ini tebilang spesial. Sebab dinarasumberi langsung oleh penulis buku dan penerbitanya.
       Kegiatan. yang berlangsung di Rumah Giat, Kel. Banyuraden, Gamping, Sleman itu dimulai pukul 09.20. Acara mundur dari rencana semula karena tekendala faktor teknis Meski demikian, tidak mengurangi antusias  sekitar sepuluh peserta yang hadir.
       Hairullah M. Dahlan penulis buku Layang-Layang Jingga memaparkan bahwa menulis merupakan kebiasaan. Penulis yang akrab dipanggil Hair ini mengajak peserta untuk menuliskan judul tulisan menggunakan tangan kiri kemudian bergiliran tangan kanan. “Sebagian besar kita lebih terbiasa menulis dengan tangan kanan daripada tangan kiri. Hasilnya akan jauh lebih banyak yang kanan. Sama halnya seperti menulis karya.” papar penulis yang berasal dari Ternate ini.
       Berbeda halnya dengan Hilman, perwakilan Penerbit Mi’raj Grafika. Bahwasannya menulis itu tidak usah ribet-ribet. Tulis saja apa yang dialami. Sesuatu yang dialami biasanya lebih mudah untuk ditulis. “Yang terpenting, seorang penulis harus bertanggung jawab pada karyanya” tambahnya
       Hilman juga menjelaskan dua hal penting dalam proses kreatif lahirnya sebuah karya. Hubungan penulis dan penerbit. Menurutnya, penulis tidak boleh lempar tulisan begitu saja, tanpa menjelaskan maksud kontennya. Begitu pun penerbit harus benar-benar mengawal terciptanya karya bagus.. Tidak sekedar mencari untung sebesar-besarnya, namun konten tak berisi. Tidak boleh ada gap antara penulis dan penerbit.
       “Apakah justru pengawalan karya tidak membatasi ide itu sendiri? Mungkin  wajar kalau sifatnya ilmiah. Lantas bagaimana  jika fiksi?” Tanya Sugiharto, seorang peserta dari UIN Sunan Kalijaga.
       Hilman menandaskan bahwasannya pengawalan bertujuan bukan bermaksud untuk membatasi. Lebih  merupakan sebuah tanggung jawab penerbit terhadap dunia literasi. Katanya lagi, sebuah karya tidak ada yang klasik maupun modern. Karya seratus tahun lalu akan tetap ada, sebaliknya ada juga yang baru sebulan dua bulan terbit bisa langsung hilang. Tergantung pengawalan terhadap karya itu. Dia juga menambahkan “Sebenarnya fiksi juga nyata, cuma kadarnya saja yang  berbeda dengan ilmiah. Bisa jadi Lima puluh berbanding lima puluh. Semacam metodologi.saja”
       Di akhir acara, Hair berpesan kepada seluruh peserta. Bahwasannya berdakwah tidak harus menjadi dai atau muballig. “Berdakwah pun bisa melalui pena.” tukasnya.
       Sedangkan Hilman mencoba mengubah mindset peserta  mengenai menulis. Menurutnya menulis itu mudah sekali. Setiap orang bisa melakukannya, tergantung mau atau tidak “Menulis itu bukan berteori, namun membuat teori. Oleh sebab itu, penulis dan penerbit bertanggung jawab atas sebuah peradaban.” pungkasnya
      

       Ahmad Solkan

Komentar

  1. Masih banyak kata atau tanda baca yg kurang tepat. Juga kata 'bahwasannya' cukup menggelikan.. Selamat. Paling tidak sudah nulis. Lanjut dan perbaiki!!!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat