Optimalisasi UNBK sebagai Evaluasi yang Efektif dan Efisien (?)

sumber gambar: kansel.prokal,co
Oleh: Poniman, Pemerhati Pendidikan dan Mahasiswa MPI 2013

Akhir-akhir ini dunia pendidikan sedang ramai melakukan pesta pendidikan yaitu Ujian Nasional (UN) 2016  yang dimulai hari Senin, 4 April 2016 sebagai hari pertama pelaksanaan UN SMA. Tak mau kalah dengan pesta demokrasi Pilkada serentak tahun 2015, UN  juga menjadi sorotan penting publik khususnya Kemendikbub yang konsen supaya pelaksanaan UN bisa berjalan dengan lancar tanpa ada kebocoran soal. Media massa pun ikut serta mempublikasiskan kemeriahan pelaksaan UN tersebut yang sering ada isu beredar kunci jawaban bocor.

Menjadi pesta  nasional, anggaran untuk menjamin kelancaran dan suksesnya UN bisa dibilang tak sedikit yaitu mencapai 0,5 Trilliun. Pihak yang ikut meramaikan pun  luar biasa besar sebab dibutuhkan SDM lebih dari 700.000 panitia dan pengawas dari berbagai kalangan, pemerintah, pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, dan kepolisian yang ikut mengamankan dan mengawal pendistribusian 35 juta eksemplar naskah ujian yang merupakan dokumen negara yang bersifat rahasia setara dengan lebih dari 400 kontainer paket soal (sumber :ditpsmk.net).

Hal ini, menjadi hajat bangsa yang amat besar dengan tujuan meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan Indonesia melalui UN. Oleh karena itu, perlu dilakukan reformasi pelaksanaan UN. Salah satunya, oleh Kemendikbud mengubah sistem penilaian nasional dari ujian nasional berbasis kertas dan pensil (UNBKP) menuju ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Perubahan UN dari UNBKP menjadi UNBK dilakukan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan optimalisasi ujian nasional, serta penilaian pendidikan lainnya.

Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di tahun ini mengalami kenaikan signifikan. Data Kemendikbud, tahun 2015 ada 107.000 siswa yang mengikuti UNBK. Tahun 2016 ini jumlahnya menjadi 921.000 siswa. Rinciannya sekitar 156.171 siswa SMP dan MTs, serta sekitar 267.230 siswa SMA dan MA di seluruh Indonesia, sedangkan untuk SMK sekitar 498,177 siswa. UNBK tahun 2016 ini untuk setiap jenjang sekolah kurang lebih 1010 SMP dan MTs, 1297 SMA dan MA, serta 2103 SMK di seluruh Indonesia. UN tahun 2016 akan dilaksanakan secara serentak pada tanggal 4 April untuk Siswa SMA dan sederajat, serta tanggal 9 Mei untuk siswa SMP dan sederajat. Peserta UN SMP dan SMA sederajat di Indonesia sebanyak 7,6 juta orang (sumber:detik.com).

Sejak digulirkannya Kebijakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada tahun 2015 menjadi revolusi baru dalam evaluasi pendidikan di Indonesia. Namun, UNBK masih menjadi kontroversi dalam pelaksanaannya. Sebab, UN secara manual (tertulis) saja masih banyak terjadi kekurangan malahan berganti ke basis IT yang pastinya rentang akan human error dan cybercrime. Dengan momok permasalahan UN  mulai dari soal UN bocor, jual beli kunci jawaban, kesiapan distribusi logistik, dan pengawas UN nakal. Hal ini pasti akan memicu meningkatnya angka kriminalitas di Indonesia karena demi mengintip dokumen negara yang rahasia banyak oknum yang bermain curang dan pemerasan pada peserta UN. Bukannya menjadi alat evaluasi mengenai tingkat pendidikan di Indonesia malahan menjadi ladang bisnis haram.

Apakah efektif jika evaluasi kualitas pendidikan Indonesia digambarkan dengan grafik kenaikan rata-rata nilai UN seluruh Indonesia? Yang sifatnya data angka-angka perolehan hasil UN. Sementara itu, dalam ilmu kependidikan, kemampuan peserta didik mencakup tiga aspek, yakni pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Tapi yang dinilai dalam UN hanya satu aspek kemampuan, yaitu kognitif, sedangkan kedua aspek lain tidak diujikan sebagai penentu kelulusan.

Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No.153/U/2003 tentang UN disebutkan bahwa tujuan UN adalah untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes pada siswa SMP dan siswa SMA. Selain itu UN bertujuan untuk mengukur mutu pendidikan dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten, sampai tingkat sekolah. Sehingga kepala sekolah sering menyetting mapel UN sebagai mapel sangat penting penentu citra sekolah dan kelulusan. Karena sekolah yang bermutu baik dilihat dari output nilai UN yang tinggi, benarkah?

Penilaian semacam ini tidak akurat dan tidak mampu merepresentasikan kemampuan siswa yang sebenarnya. Benarkah bahwa matematika, IPA dan Bahasa Inggris merupakan tiga mata pelajaran yang paling penting (diujikan dalam UN)? Bertentangan dengan Kurikulum 2013 mengenai aspek spiritual, kreatifitas, dan kemandirian (entreprenuership) yang harus menjadi acuan dalam pelaksanaan evaluasi.dan proses pembelajaran di sekolah. Apakah melalui UN bisa tercerminkan aspek spiritual, kreatifitas, dan kemandirian (entreprenuership)?

Selain itu, tujuan pendidikan nasional dalam UU SISDIKNAS No 20 Tahun 2003 adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang mandiri serta demokratis. Dengan demikian jelas UN tidak bisa sebagai alat mengukur keberhasilan pendidikan, karena untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah disebutkan di atas, UN hanya mampu menunjukkan kompetensi dalam ranah kognitif saja.

Seakan-akan generasi bangsa dibentuk sebagai generasi penghafal melalui pendidikan. Sebab, masih saja ada stigma pendidikan yang transfer of knowledge (kognitif) tanpa diimbangi dengan transfer of value (karakter dan nilai moral). Begitu pula siswa juga menganggap UN sebagai klimaksnya menuntut ilmu di sekolah sehingga pasca UN banyak siswa yang malas-malasan belajar lagi (tidak kontinu).

Bahkan mereka beramai-ramai menggelar pesta, berhura-hura, hingga tak jarang menjerumus pada pesta narkoba dan seks bebas. Pelampiasan kebahagiaan berlebihan saat pengumuman hasil UN sering dilakukan oleh para siswa seperti melakukan konvoi motor dengan berseragam sekolah yang telah dicoret-coret, menimbulkan kebisingan dan kemacetan di jalan. Dan berujung pada kecelakaan lalu lintas serta tawuran pelajar yang menimbulkan keresahan warga dan korban jiwa. Sikap toleran (sesama pengguna jalan), sosial, dan empati siswa tak tergambarkan pasca pesta pendidikan (UN).

Hal ini, mencerminkan kegagalan sistem pendidikan kita untuk menanamkan nilai moral, sopan santun, dan karakter pada peserta didik. Sebab, kurang singkronnya tujuan dan proses pembelajaran dengan model evalusi pendidikan kita yang hanya menyentuh ranah kognitif saja. UN tidak bisa menjadi tolak ukur integritas moral dan kejujuran siswa. Sehingga hasil evaluasi kurang bisa menjadi acuan dalam mengambil keputusan untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.

Konsep Sistem Evaluasi dalam Pandangan Islam

Gambaran dunia pendidikan serta beragam masalah yang menimpa dunia pendidikan yang sudah disebutkan di atas bersumber dari satu penyebab yang sama, yakni karena diterapkannya sistem kapitalis-sekuler, yang menjadikan materi sebagai kebahagiaan tertinggi serta diiringi dengan paham memisahkan agama dari sisi kehidupan. Sehingga perlu, adanya integrasi-interkoneksi keilmuan.

Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk Generasi Berkepribadian Islam. Yaitu membentuk pola tingkah laku anak didik yang berdasarkan pada akidah Islam, senantiasa tingkah lakunya mengikuti Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Kemudian, menguasai Ilmu Kehidupan (keterampilan dan pengetahuan). Yaitu menguasai Ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengarungi kehidupan yang diperlukan, agar dapat berinteraksi dengan lingkungan, menggunakan peralatan, mengembangkan pengetahuan sehingga bisa inovasi dan berbagai bidang terapan yang lain.

Dunia pendidikan dalam pandangan Islam dijadikan sebagai salah satu tempat pembinaan bagi rakyatnya agar memiliki keimanan dan ketakwaan yang kokoh kepada Allah SWT. Bersamaan dengan hal itu, pendidikan juga memberikan bekal ilmu kepada peserta didiknya dengan metode pendidikan yang membekas dan bermanfaat bagi diri dan kehidupan peserta didiknya. Pendidikan Islam menjadikan standar keberhasilan peserta didik tidak hanya dari sisi penguasaan materi atau ilmu yang diperolehnya, melainkan juga memperhatikan kualitas kepribadian yang melekat pada dirinya. Sebab, makna pendidikan Islam lebih dalam cakupannya, menjadikan  siswa sebagai saudara dan keluarga dengan penuh kepedulian dan kasih sayang untuk menanamkan nilai religius dan akhlak mulia pada siswa.  Menimbulkan ikatan batin dan emosional antara guru/ustadz dengan siswanya, tidak sekedar diikat oleh kontrak belajar dan aturan kurikulum saja.

Evaluasi pendidikan dalam sistem pendidikan Islam adalah handal dan dilakukan secara komprehensif, untuk mencapai tujuan pendidikan. Ujian umum diselenggarakan untuk seluruh mata pelajaran yang telah diberikan. Ujian dilakukan secara tulisan dan lisan. Munadhoroh adalah teknik ujian lisan mengenai suatu ilmu. Ujian lisan ini merupakan teknik ujian yang paling sesuai untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa untuk memahami pengetahuan yang telah dipelajari. Ujian lisan juga bisa mengetahui sikap moral siswa saat menjawab dan berinteraksi dengan penguji. Di samping itu tentu ada ujian praktek pada keahlian tertentu. Para siswa dinyatakan kompeten/lulus adalah siswa-siswa yang betul-betul memiliki kompetensi ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya dan bersyakshiyah Islamiyah atau memiliki pola tingkah laku yang Islami.

Pada tingkat perguruan tinggi sistem ujian yang handal meliputi ujian praktek, ujian tertulis dan ujian lisan. Ujian lisan diadakan secara terbuka. Para penguji bisa guru/dosen/profesor yang mengajar di lembaga pendidikan tersebut. Untuk suatu keahlian tertentu penguji dari internal dan eksternal. Ulama dan para intelektual manapun berhak untuk menguji.

Memang menurut Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan jika nilai akhir dari UN sekarang tidak menjadi patokan bagi siswa dalam kelulusannya, dimana hasil ujian sekolah menjadi patokan yang utama. UN dilaksanakan untuk mengukur kompetensi siswa dan menjadi salah satu dasar untuk seleksi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun bagi mereka yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, harapan untuk mendapatkan nilai UN yang tinggi pasti sangat besar.

Dengan demikian, perlunya sistem evaluasi secara menyeluruh (komprehensif), mencakup pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Dengan berlandaskan aspek spiritual, kreatifitas, dan kemandirian (entreprenuership) seperti produk kreatifitas siswa yang harus dikeluarkan setelah menempuh pendidikan. Indikator moral dan sopan santun pada guru menjadi pertimbangan kelulusan dan lanjut ke jenjang pendidikan berikutnya sehingga tidak sekedar selembar ijazah saja.

“Kejujuran adalah ketenangan, sementara kebohongan adalah kegelisahan.” HR al-Tirmidzi & Imam Ahmad.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat