Puisi-Puisi Inew Wulandari


 

Dekapan Hujan

Titik-titik air ini luruh
Jatuh tanpa ampun
Membasahi wajah dan seluruh badanku
Tak apa
Ini yang aku suka

Kucoba pejamkan mata
Merasakan dingin yang semakin menusuk
Membekukan tubuhku
Menikmati momen ini
Mengingat setumpuk memori

Lalu kucoba membuka mata
Berlahan
Menatap sekeliling
Hanya air
Ya air yang semakin deras mengucur
Berjatuhan
Inilah masaku
Ketika aku benar-benar merasakan hidupku

Inikah yang disebut panggilan Tuhan?
Menjemput dalam dekapan hujan

Oh, Allah
Sungguh aku menikmati ini
Air yang Kau tumpah ruahkan
Nyaman, tentram kurasakan

Kucoba mengguman sebuah kata
Air mulai masuk mulutku
Mengguyur kerongkonganku
Dingin

Aku tak ingin enyah
Lalu kucoba rentangkan tanganku
Menengadahkan wajahku
Berharap menatap-Mu
Allah penciptaku

Titik-titik semakin besar
Menggoyahkan tubuhku
Keriput bermunculan di tanganku
Wajah pias memucat
Tak apa
Ini yang aku suka

Perlahan,
Tubuh ini melemah
Terduduk tubuhku melawan hujan
Lalu kututup mataku
Menunduk sujud syukur

Air ini,
Hadir bersama pesan-Mu
Memanggilku
Kembali ke pangkuan-Mu
Pulang

Senyumku mengembang
Bersama tubuhku yang rapuh jatuh
Inilah masaku
Terakhir dalam hidupku
Bersama dekapan hujan

Jogja, Desember 2015




Arena Panggung

Pertunjukan telah dimulai
Penonton berjubel
Berderet-deret mengular antrian
Semua ingin menyaksikan
Sebuah drama sandiwara

Pemain lihai sekali berekspresi
Membius mata
Memesona

Adakah yang tahu?
Ini hanyalah tontonan tak bemutu
Mula dan akhir yang semu
Lalu,
Apa yang mereka tunggu?
Rela berjibaku berkorban waktu
Tinggalkan bersua dengan Tuhan

Udara kian panas
Antrian kian panjang
Penonton kian tak sabar
Sikut kanan kiri
Tak peduli

Wajah lelah menyerah
Satu dua mulai menghilang
Meninggalkan arena pertunjukan

Sang sutradara hanya tertawa
Sukses sekali menggelar acara
Memainkan pion-pion lugu
Menyerang lawan lemah tanpa ampun
Meruntuhkan kerajaan mereka

Kini,
Pertunjukan telah berlalu
Lahir raja pemimpin baru

Penonton hanya terpaku
Tersadar ia
Ini hanya sebuah sandiwara
Berulang tanpa perlawanan
Melanggengkan sebuah kekuasan

Jogja, Desember 2015.



Pulang

Kini lelah kurasa
Di puncuk ambang nestapa lara
Semua telah berlalu
Menjadi puing-puing bisu
Entahlah,
Apa yang kuinginkan?
Ambisiku mati
Bergentayangan berbekas penyesalan

Sungguh tersesatnya aku
Melawan jalan hidupku
Cita mimpi usai pergi
Meninggalkanku sendiri

Lawan,
Apa yang aku lawan?
Semua telah usai

Ah,
Aku ingin kembali
Pulang
Menghidupkan lagi impian
Ya,
Aku akan kembali
Membangun puing yang tercecer
Menghidupkan nyala semangat yang padam
Merajut lagi impian dan harapan

Jogja, Desember 2015

*Penulis adalah mahasiswa aktif PGMI UIN Suka. 

Komentar

  1. membaca puisi mbak inew saya seperti tenggelam oleh air hujan. hujan yang barangkali menyuburkan puisi-puisinya.

    hanya saja rima kurang diperhatikan dan banyak sekali diksi-diksi yang berulang dan kurang padat.

    tapi menulis itu sudah cukup dan perbanyak lagi.

    BalasHapus
  2. Sepertinya cukup kenal dg puisi yg kedua itu.. Arena Panggung di Bulan Desember.. Haha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat