Sapiku Terhimpit Kemarau

sumber gambar: kitadankota.wordpress.com

Oleh: Ali Munir SF
Pagi beranjak bersama sinar matahari berwarna kekuning-kuningan di ufuk timur yang agak condong ke utara. Daun-daun muda masih terdiam tanpa buliran embun, dihibur oleh suara burung-burung kecil. Memang burung yang tersisa di kampungku hanyalah burung-burung sisa perburuan tangan manusia. Sedangkan burung-burung besar sudah punah tanpa nyanyian indahnya di setiap lambaian angin dini hari. Tapi cericit burung kecil itu masih memberi harapan pada hati setiap penggemarnya, orang yang setia berteman dengan alam. Satu-satunya piaraanku yang masih utuh adalah seekor sapi betina yang genit, sapi pemberian ayahku.

Sudah lama ini sapiku tak berbunyi lagi. Entah apa yang sedang terjadi dengannya. Setiap pagi kulihat dia hanya diam, sesekali geleng-geleng seperti kebingungan. Kuberi dia makan rumput kering dari hasil penjumputan kemarin sore dan minuman dari sisa air cucian dapur, memang biasa begitu. Dia pun makan dengan pelan seperti terpaksa. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena satu-satunya makanan untuk sapiku yang tersisa di musim kemarau ini hanyalah rumput kering. Sudah lama sekali kemarau tidak pergi. Daun-daun hijau di ladangku sudah habis aku libas untuk sapiku di hari kemarin, yang tersisa hanya pucuk muda yang siap melebat kembali.

Selesai memberi makan sapi kuambil celurit yang biasa kuselipkan di pintu masuk kandang yang terbuat dari anyaman bambu. Celurit itu kuasah pada batu kapur setajam mungkin. Lalu kuambil peltong dan pergi ke ladang biasa aku mengarit rumput. Kuarit rumput yang kering pelan-pelan, takut tanganku teriris celurit. Hasil aritan itu kutumpuk kecil-kecil, tidak langsung dimasukkan ke dalam peltong sebelum cukup banyak untuk mengisinya sampai penuh.

Baru beberapa tumpukan rumput, tiba-tiba terdengar suara tangis menjerit histeris dari rumah tetangga. Konstan kuberlari ke rumah itu. Orang-orang berkerumun dan aku masuk menyelinap di antara mereka untuk sekedar tahu. Seorang ibu mati mendadak dengan mukanya yang hitam seperti terbakar sesuatu, terkapar tak terberdaya. Matanya masih melotot dengan isyarat kegelapan di dalamnya, tidak seorang pun berani memejamkannya kecuali seorang ustadz yang beberapa saat kemudian datang. Tiga  hari sebelumnya, ibu itu masih baik-baik saja. Bahkan dia bergembira sekali setelah memenangkan arisan dengan jumlah uang yang cukup besar.

Entahlah, semua orang bertanya-tanya tentang kematiannya yang mendadak itu. Kejadian itu bukan baru kali ini terjadi di kampungku. Aku curiga pada orang yang sama, seorang ustadz yang kata orang-orang setahun lalu sempat menyihir tetangganya yang tak mau meminjaminya uang. Orang yang dia sihir memiliki pengalaman yang sama, yaitu memenangkan arisan dalam jumlah yang besar.

Bela sungkawa dan duka cita berlanjut sampai siang. Aku kembali ke ladang untuk memenuhi peltong-ku dengan rumput. Kuberanjak pulang dan memberi makan siang sapiku. Kulihat dia tetap dalam keadaan yang sama, diam dan geleng-geleng kepala. Aku semakin hawatir. Sementara di kampungku tidak ada dokter hewan, yang ada hanya dokter manusia. Padahal sapi kakak perempuanku masih sehat dan berbunyi seperti biasa.

“Mama ke mana, nom?” suara ponakanku itu memecah pikiranku.

“Gak tahu, mungkin dia di rumah tetangga yang lagi kematian” kujawab pelan dan beranjak ke langgarku untuk mandi dang anti baju, kemudian sholat.

Sudah 3 hari sapiku menghawatirkan dan tidak makan lagi setelah itu. Musim hujan belum juga datang. Hari-hari hanya dipenuhi oleh kabar dan kejadian yang merisaukan. Ladang-ladang semakin kering dan panas sekali di siang hari. Begitupun dengan sungai dan sumur. Sumber air yang tersisa hanyalah sumber kotor dan tak layak pakai. Kulihat di televisi berita tentang kekeringan yang sama, namun mendapat bantuan dari pemerintah. Sayangnya kampungku tak terjangkau televisi sehingga tak ada yang peduli. Kekeringan tetap saja tertahan, menunggu hujan.

Orang-orang di kampungku semakin dilanda keresahan setelah kejadian demi kejadian terus mendarah di kemarau ini. Hari ini di pagi yang sama, seorang ustadz bercarok karena istrinya digoda oleh orang lain. Seorang ustadz yang setiap harinya menjadi perawat dan penjaga masjid dekat rumah kepala desa. Tampak dia mengucapkan kalimat takbir sebelum mencelurit lawannya dengan tangan gemetar. Tidak ada luka yang parah di antara keduanya. Sang ustadz pun masuk penjara.

Aku semakin bertudung dalam keresahan yang tak terduga. Kudengar lagi berita di televisi tentang koruptor yang di denda hanya 6 tahun penjara setelah terbukti mencuri uang negara sekian miliar. Termaktub dalam pikiranku, bagaimana dengan koruptor yang tidak sempat tertangkap oleh negara. Barangkali tanahku yang kering ini saja yang tahu. Telah sekian pohon-pohon di kampungku tumbang dijual oleh masyarakat untuk melawan kemarau. Stok jagung pun untuk makan habis dan harus beli. Belum lagi sapiku yang diam dan hanya geleng-geleng kepala penuh tanda tanya.

Hari-hariku masih berkelindan pada sapiku dan kemarau yang panjang. Kejadian-kejadian yang lain adalah hiasan sebagai tanda-tanda penuh tanya. Kucoba memberi dia obat kunyit yang kutumbuk halus dan dicampur dengan telur bebek. Namun tetap saja dia diam dan geleng-geleng kepala. Aku semakin heran. Rumput kering di ladangku habis dan tak ada lagi daun-daun. Hanya se-peltong rumput yang tersisa. Ladang kakakku juga mengalami hal yang sama. Sapiku tak lagi mau makan untuk sekedar menghabiskan sisa rumput itu. Tampak kedipan matanya semakin sayu, seakan ada tanda terakhir. Tidak, dia adalah sapi kesayanganku satu-satunya.

Burung-burung jalak hitam berkoar parau di atas rumahku. Malam semakin larut. Aku menggigil ketakutan, tak bisa tidur. Berteman secangkir kopi dan sebatang rokok yang kuhisap pelan-pelan. Sinar damar di kamarku tak mampu menghilangkan sunyinya ruangan. Tampak musim ini adalah musim hantu dengan berkali-kali kematian.

Di tengah-tengah lamunanku, suara jeritan samar dan kecil terdengar dari kejauhan. Aku memanggil kakakku. Dia pun terbangun dan beranjak menuju sumber suara mengerikan itu. Ternyata seorang anak kecil mati gantung diri di bawah pohon mangga dengan lidah menjulur dan mata melotot tajam. Kata orang-orang, dia baru saja dicerai suaminya tadi siang lantaran tak diberi uang belanja. Wajar sekali karena mereka nikah muda. Mereka baru anak sekolahan SMP. Sang suami pun tak mau tahu lagi pada apa yang terjadi dengan mantan istrinya, sekalipun meninggal dunia.

Aku beranjak pulang bersama kakak dan orang-orang tetanggaku. Kuteringat pada sapiku. Aku ambil damar dan menjenguknya dari luar kandang untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Dia tampak tertidur pulas dengan kepala menyelip di kaki depannya. Aku ingin lebih yakin lagi dan masuk ke dalam kandang. Kuperhatikan gerakan nafas di perutnya. Tak bergerak lagi, tak bernafas. Aku mengucurkan air mata dan berteriak sejadi-jadinya. Sapiku terkutuk kemarau di musim ini. Aku kehilangan sapiku satu-satunya warisan ayahku yang telah tiada. Ayah pasti berduka, seduka orang-orang yang dihingar percikan darah luka di kampung ini.

Aku tak punya apa-apa lagi. Hanya ladang yang kering dan kosong, juga pepohonan yang risau diterpa kemarau. Setelah kejadian di malam itu, aku sering menengok kandang bekas sapiku untuk melepas air mata rindu. Sampai suatu ketika, kucoba menatap langit-langit atap kandang itu. Aku terkejut melihat gumpalan azimat tergantung tepat di atas tempat tidur sapiku.


Yogyakarta, 2015

Catatan:
1.      Peltong adalah wadah rumput yang terbuat dari anyaman daun siwalan.




Ali Munir SF., Lahir pada tahun 1994 di Sumenep Madura. Sekarang tinggal di daerah Sapen, Demangan Yogyakarta. Tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Aktif menulis puisi dan cerpen, tergabung di Komunitas Sastra Gajahwong dan Lembaga Pers Mahasiswa Paradigma UIN Sunan Kalijaga. Buku antologi puisi dan cerpen bersama-nya yang pernah terbit sebanyak 6 buku, salah satu diantaranya berjudul "Di Bawah Langit yang Terbakar" yang diterbitkan oleh Oase Pustaka (Surakarta) dan “Sekeping Hati Di Langit Kelabu” oleh FAM Publishing (Kediri). Penulis bisa di hubungi lewat: HP. 087738783823.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat