Sumpit


sumber gambar: id.wikipedia.org
Oleh: Jalalul Fuad, Mahasiswa PBA yang Gemar Mengaji
Makan adalah salah satu kebutuhan manusia untuk mempertahankan hidup. Dengan memakan makanan yang sehat dan bernutrisi maka manusia dapat mempertahankan keberlangsungan hidup sehari-hari. Ada banyak fakta menarik di balik kebutuhan manusia yang satu ini. Di antaranya adalah cara makan yang membuat perbedaan besar baik dari kesehatan maupun akhlak.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas sebuah cara makan yang sudah sering dilihat dan dipraktikan oleh kebanyakan masyarakat. Bahkan di suatu negara makan dengan cara ini adalah sebuah tradisi dan kebanggaan, yaitu makan dengan menggunakan sumpit.

Sumpit adalah alat makan yang berasal dari Asia Timur, berbentuk dua batang kayu sama panjang yang dipegang di antara jari-jari salah satu tangan. Sumpit digunakan untuk menjepit dan memindahkan makanan dari wadah, dari piring satu ke piring lain atau memasukkan makanan ke dalam mulut. Sumpit bisa dibuat dari bahan seperti bambu, logam, gading dan plastik yang permukaannya sudah dihaluskan atau dilapis dengan bahan pelapis seperti pernis atau cat supaya tidak melukai mulut dan terlihat bagus.

Sumpit digunakan di banyak negara di seluruh dunia untuk menikmati makanan khas Asia Timur. Di beberapa negara Asia Tenggara, sumpit merupakan alat makan utama yang sama pentingnya seperti sendok dan garpu. Di Indonesia, pilihan sendok-garpu atau sumpit disediakan di rumah makan yang menyediakan masakan Tionghoa, masakan Korea, masakan Jepang, masakan Vietnam, masakan Thailand hingga penjual bakso atau mie pangsit di pinggir jalan.

Makan menggunakan sumpit bukanlah sekedar tradisi yang tidak memiliki asal usul atau sejarah. Sumpit adalah sebuah alat yang diciptakan oleh sebuah bangsa besar di Asia Timur, yaitu Bangsa Tiongkok.

Sumpit diciptakan bangsa Tiongkok dan sudah dikenal di Tiongkok sejak 3.000 hingga 5.000 tahun yang lalu. Di dalam masyarakat Tionghoa, makan bersama dianggap sebagai sarana mempererat tali persaudaraan dan kesempatan berkumpul dengan sanak keluarga dan teman-teman, sehingga penggunaan alat makan yang tajam harus dihindari.[1]

Pada zaman dulu, gading gajah sering digunakan untuk membuat sumpit mahal di Tiongkok. Pengguna sumpit dari gading gajah adalah kalangan pejabat tinggi dan orang berada. Sumpit dari perak pernah digunakan istana kaisar di Tiongkok untuk mendeteksi racun yang mungkin dibubuhkan pada makanan. Sumpit akan berubah warna akibat reaksi kimia jika makanan telah diberi racun.[2]

Pada abad ke-6 atau abad ke-8 Masehi, sumpit sudah merupakan alat makan yang umum bagi suku Uigur yang tinggal wilayah stepa Mongolia. Di Thailand, sumpit hanya digunakan untuk makan mie dan sup setelah Raja Rama V memperkenalkan alat makan dari barat pada abad ke-19.[3]

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menjunjung tinggi tradisi tersebut. Begitu cintanya mereka akan tradisi tersebut hingga pada beberapa kesempatan mereka sengaja membuat kompetisi yang melibatkan sumpit. Kompetisi yang diadakanpun tidak sederhana. Semua tantangan dibuat sesulit mungkin untuk menguji keahlian seseorang dalam menggunakan sumpit.

Di antara tantangan-tantangan yang pernah penulis lihat adalah memecahkan kulit telur dan memindahkan kuning telurnya ke dalam wajan yang berjarak beberapa meter dari tempat pemecahan telurnya, mengupas kulit jeruk dan kemudian mengambil isinya untuk dimakan, menyumpit kelereng dan memindahkannya ketempat yang berjarak jauh, membentuk sebuah puzle rumit yang bahkan menggunakan tangan kosong saja sangat sulit. Hal itu rela mereka lakukan berjam-jam hanya demi membuktikan keahlian dalam menggunakan sumpit.

Filosofi yang nampak jelas tergambar dari sumpit adalah kerja sama dan juga kesetaraan. Bentuk sumpit yang harus sama rata agar mudah digunakan melambangkan kesetaraan dan harmoni, jika keduanya tidak sama panjang maka akan sulit untuk digunakan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan kerja sama adalah kedua batang sumpit harus bergerak bersama agar dapat menjepit makanan yang akan dimakan. Apabila salah satunya tidak bergerak maka makanan tidak dapat terjepit.

Bukan hanya filosofi yang dapat kita ketahui, namun pada sumpit juga terdapat manfaat. Dengan memasukkan makanan secara perlahan dan sedikit demi sedikit ke dalam mulut maka akan membantu menyediakan ruang bagi mulut untuk mengunyah makanan dengan halus dan sempurna. Tentu saja itu sangat berpengaruh bagi lambung manusia. Karena makanan yang sudah terkunyah halus di mulut makan lambung tidak perlu bekerja keras mengolah makanan. Hal itu juga membuat nutrisi yang ada tidak akan tersia-sia atau terbuang.

Hal ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa makan menggunakan tiga jari tidaklah relevan apabila diterapkan pada saat ini. Karena jika kita menggunakan cara yang sama dengan saat makan menggunakan sumpit, yaitu memisahkan sayur dan nasi kedalam wadah yang berbeda  maka akan mudah mengambil nasi maupun lauk pauk menggunakan tiga jari tersebut.

Menurut penulis, pendapat mengenai makan menggunakan jari tidak relevan adalah salah satu bentuk hawa nafsu manusia. Karena pada saat makan, keinginan manusia untuk makan dengan lahap dan segera menghabiskan makanannya selalu muncul. Bahkan terkadang makan hanyalah untuk memuaskan nafsu saja. Seperti contoh saat kita sedang menginginkan untuk makan mie ayam, rendang, sate, dsb, maka kita cenderung akan menuruti keinginan kita. Padahal jika kita cermat, makanan-makanan tersebut mengandung lemak dan kolesterol yang tinggi.

Seharusnya makan menggunakan tiga jari ini juga tetap dipertahankan karena selain dianjurkan dalam agama, menggunakan tangan juga sangat sehat dan baik bagi tubuh manusia. Karena menurut penelitian pada jari kita terdapat enzim pengurai yang dapat mempercepat penghancuran makanan yang akan kita cerna.

Demikianlah artikel ini dibuat sebagai bahan perenungan bersama, bahwa apa yang dianjurkan oleh agama terdapat hikmah di dalamnya. Dan kita sebagai umat Islam seharusnya menjadi orang pertama yang melakukan apa yang telah diajarkan tersebut. Karena bukan hanya sebagai tindakan patuh atau taat akan ajaran Islam semata, tetapi juga mempertahankan diri dan menjaga agar tubuh kita tetap sehat sebagaimana mestinya.


[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Sumpit, diakses tanggal 23 Maret 2016.
[2] Ibid.,
[3] Ibid., 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat