Katakan: I'm Journalist!


Malam Minggu lalu (20/08) saya menghadiri acara Inagurasi OPAK 2016 di depan poliklinik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saya berada di antara kerumunan mahasiswa dengan bermacam ekstensi, ada yang sok keren, sok aktivis, dan sok-sok yang lain yang seakan-akan suasana dibuat waa sedemikian rupa layaknya sebuah demonstrasi; bedanya hanya demonstrasi diri. Bagaimana rasanya jika seorang jurnalis berada di antara kerumunan orang-orang seperti itu? Sebagai orang yang berjiwa kebenaran tentu akan goyah, bergetar seakan tidak memiliki tempat dalam suasana yang manipulatif dan hura-hura belaka.

Akhir-akhir ini kita masih mendengar perbincangan tentang kasus terbunuhnya seorang wartawan Udin yang dibunuh karena sebuah berita yang dia luncurkan ke media massa. Tentu dari sana kita bisa merasakan bahwa seorang wartawan Udin (jurnalis) bersikap objektif dan netral terhadap sebuah fenomena tanpa memihak pada yang kuat sekalipun. Memang demikian tantangan seorang jurnalis, andai dia berjalan di atas jembatan maka yang dilakukan adalah menghilangkan pandangan pada satu titik. Dia menembus segala ruang dan blok-blok dalam sebuah kelompok, masyarakat ataupun negara. Bahkan sebuah buku telah terbit berjudul "Agama Saya Adalah Jurnalisme" untuk menegaskan lebih jauh beban dan tanggung jawab seorang jurnalis.

Pertanyaannya adalah "Masih adakah seorang jurnalis hari ini". Secara identitas mungkin banyak. Tetapi secara ekstensi hal itu perlu dipertanyakan. Sebuah kartu nama tidak menjamin hakikat seorang jurnalis, kecuali mereka yang netral dalam membidik berita. Netral secara filosofis akan memeluk segala ruang dan bidang, bahkan harus berani mengatakan sebuah kebenaran sekalipun berhadapan dengan pistol dan pedang. Barangkali itu yang diamini oleh para penulis dan penyair. Seno Gumira Ajidharma, misalnya, sebelum menjadi seorang penyair dahulu dia adalah seorang wartawan. Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh Sujiwo Tedjo. Dari dua orang tersebut kita mendapatkan gambaran tentang kebebasan seorang penulis atau budayawan dari segala keterikatan dan aturan hidup yang kadang-kadang manipulatif serta berpihak pada kekuasaan.

Seorang jurnalis semestinya merasa selalu dikejar-kejar oleh berbagai kesalahan dalam praktek hidup yang ditangkap oleh pikiran dan ingatannya. Jurnalis merupakan identitas dan tugas yang sangat terhormat untuk membela keadilan manusia, membela hukum alam dan Tuhan yang mendasari keberadaan semesta. Agama, golongan, dan partaism yang lain bukanlah tolak ukur bagi jiwa seorang jurnalis.

Beban tugas terakhir bagi seorang jurnalis mempublikasikan hasil temuannya kepada khalayak umum. Di mana terkadang mereka tidak menemukan ruang, bahkan seakan terbuang di angkasa semesta. Di sanalah tantangan luar biasa bagi seorang pendata berita untuk mengatakan "I'm Journalist!". Membela seorang Udin tidak hanya menuntut pemerintah yang justru diam menjadi patung. Melainkan dengan cara meneruskan perjuangannya dalam membela dan mempublikasikan kebenaran sebuah berita untuk kesejahteraan orang-orang. Maka katakanlah bahwa setiap kita adalah seorang Jurnalis!


Ali Munir S. (penulis lepas, tinggal di Yogyakarta)


Sumber Gambar: belitung.tribunnews.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat