Mengembalikan Marwah Sekolah


Protes publik atas nasib yang dialami Sambudi, salah seorang guru di SMP Swasta di Sidoarjo, baru-baru ini meramaikan jagat sosial media dunia maya. Sambudi harus diajukan ke meja hijau oleh salah satu orangtua murid lantaran dituduh melakukan kekerasan—meski hanya mencubit—terhadap anak didiknya. Sambudi mencubit salah satu dari beberapa siswa yang ketahuan mangkir tidak melaksanakan kegiatan salat Dhuha. Padahal, kegiatan salat Dhuha itu merupakan kebijakan sekolah untuk menumbuhkan sikap bertaqwa kepada anak didiknya (Media Indonesia, 28/6/2016).


Kasus Sambudi barangkali satu dari sekian pelaporan orang tua murid atas tuduhan kriminalisasi yang dilakukan guru. Setahun lalu, kasus serupa juga dialami Nurmayati, Guru Biologi di salah satu SMP Negeri Bantaeng Sulawesi Selatan. Publikpun dibuat geram atas prilaku beberapa orang tua siswa itu. Berkembang asumsi bahwa selama dalam koridor mendidik, kekerasan boleh dilakukan oleh guru. Singkatnya, guru halal melakukan tindak kekerasan atas dasar mendidik siswa. Alasannya, zaman dahulu ketika guru boleh melakukan tindak kekerasan atas dasar mendidik, kualitas karakter pribadi siswa justru lebih baik. Benarkah asumsi ini?

Tanpa membela salah satu pihak, penulis bermaksud meluruskan asumsi “pelegalan” kekerasan demi mendidik siswa. Bagaimanapun dan atas dasar apapun, kekerasan guru atas siswanya tidak diperbolehkan. Bahkan, harus dijauhkan dari praktik persekolahan. Sekolah mesti menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak didik. Selain sebagai rumah kedua, di sekolah anak didik mestinya bisa menjalani proses pendidikan dan pemupukan aneka potensi mereka dengan penuh keceriaan serta riang gembira. Jika asumsi pembolehan kekerasan atas nama “mendidik”, maka sekolah tidak ada bedanya dengan penjara. Alih-alih semakin mendewasakan dan membentuk karakter luhur anak didik, sekolah justru akan menjadi tempat eksekusi dan perampas keceriaan mereka.

Kehilangan Arah?

Kekerasan berarti penganiayaan, penyiksaan, atau perlakuan yang salah. Menurut definisi WHO (2000), kekerasan terhadap anak atau child abuse dan neglect merupakan tindakan melukai berulang-ulang secara fisik maupun emosional anak, melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual. Kekerasan terhadap anak dalam dunia pendidikan bisa berbentuk kekerasan fisik, psikologis, verbal, emosi dan sosial.

Kekerasan dalam pendidikan, tulis Agus Wibowo (2014), lebih sering terjadi pada unsur utama, yakni pelaku pendidikan. Kekerasan itu bersifat horizontal, individu vis a vis individu yang lain. Adapun bentuk kekerasan struktural dan kultural, kata Francis Wahono (2003), terjadi pada unsur selain pelaku utama pendidikan. Kekerasan itu mewujud dalam kerangka, pranata, kebijakan perundangan dan kurikulum pendidikan.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, 2015) menyebut kasus kekerasan terhadap anak meningkat dari 2178 kasus pada tahun 2011 menjadi 6006 di tahun 2015. Jika ditotal, sekitar 87.6 persen kekerasan terhadap anak terjadi di lingkungan sekolah. Sementara sisanya, kekerasan terjadi di lingkungan keluarga dan masyarakat. Data hasil survei KPAI (2014) di 9 provinsi, yaitu Sumatera Barat, Lampung, Jambi, Banten, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur, dengan total responden 1.026 siswa, juga menyebutkan masih tingginya tindak kekerasan di sekolah.

Data-data kekerasan yang terus bertambah, menegaskan jika pendidikan kita belum mampu menjadi wahana humanisasi bagi anak didiknya. Pendidikan kita yang mestinya menjadi ruang menyemai humanisasi, malah menjadi wahana melanggengkan kekerasan dan ketidakmanusiawian atas anak didik. Sekolah laksana ajang para gladiator mempertontonkan kekerasan otot, yang menyebabkan anak didik satu persatu gugur sia-sia. Oknum guru yang mestinya menjadi orang tua kedua, justru menjadi jagal-jagal kejam; atau para eksekutor bengis yang merampas keceriaan bahkan nyawa anak didik. Ironis sekali!

Mendidik dengan kekerasan jelas tidak manusiawi. Bukankah jauh hari para bapak bangsa memiliki ancangan luhur, bahwa pendidikan hendaknya menjadi sarana humanisasi bagi anak didik? Bukankah pendidikan bangsa hendaknya menempa anak didik menjadi pribadi yang santun, beretika, dan berkarakter luhur? Jelas sekali para bapak bangsa dahulu tidak saja menggaransikan keluaran pendidikan berupa manusia sejati, tetapi juga sosok yang kaya akan visi humanisme dalam kerangka kognitif, afektif, dan psikomotoriknya.

Mendidik dengan Cinta

Terkait mendidik anak bangsa, sudah saatnya orang tua dan guru terbiasa duduk bersama guna menyelesaikan aneka permasalahan. Bagaimanapun, orang tua juga memiliki tugas penting mendidik anak. Luaran pribadi unggul berkarakter, tidak mungkin terwujud jika hanya diserahkan pada guru semata. Jauh hari, Ki Hadjar Dewantara (1922) lewat Tri Pusat Pendidikan, menegaskan bahwa tanggung jawab mendidik anak itu tidak hanya tugas guru dan sekolah. Mendidik anak, kata Ki Hadjar, juga menjadi kewajiban orang tua serta masyarakat.

Untuk meminimalisir tindak kekerasan di sekolah, meminjam istilah Dianta Sebayang (2016), guru tidak cukup kerja keras tetapi juga kerja cerdas. Itu artinya, guru mengajar berbasis kompetensi, bukan asal mendidik. Dengan kompetensi itu, guru bisa menyiasati pengkondisian anak didik tanpa harus menggunakan aneka kekerasan. Mendidik yang baik, tulis Agus Wibowo (2013:144), mestinya berlandaskan cinta, bukan sekedar rutinitas kerja kurikulum. Cinta menjadi semacam elan vital, yang mendorong guru melakukan apa saja; agar yang dicintai itu tetap ada, bahagia, dan lestari. Ketika guru sudah mencintai sepenuh hati profesinya, maka cinta itu juga akan mengalir, dan dirasakan oleh anak didiknya.

Pendidikan dengan asupan cinta, saat ini menjadi sesuatu yang langka di negeri kita. Para guru di negeri ini, meminjam istilah Fuatuttaqwiyah (2012), sebagian besar lebih konsen dan peduli pada pemenuhan beban kurikulum atau target mengajar. Cinta, lebih sering absen dari ruang-ruang pembelajaran di kelas kita. Cinta yang tulus dari sang guru, saat ini amat jarang menyapa anak didik, membuat mereka lebih bergairah hidup, menyuplai mereka dengan vitamin kasih. Sebagian besar guru kita, telah kehilangan cinta itu dalam mengajar.

Karena pembelajaran di ruang-ruang kelas telah kehilangan cinta, maka yang terjadi sekedar pemenuhan kewajiban. Apa yang terjadi pada model pendidikan seperti ini? Tentu saja, pembelajaran yang minus asupan cinta dari sang guru akan terasa panas, gersang, bahkan tanpa makna. Anak didik masuk kelas tanpa motivasi, gairah dan semangat. Kalaupun anak didik mau masuk kelas, itu karena motif lain; sekedar memenuhi kewajiban dari orang tua, atau agar uang jajan tidak dihentikan.

Karena tanpa motivasi, maka pembelajaran menjadi kurang menarik. Alih-alih, anak didik bukannya semakin tercerahkan dan terpupuk karakternya, tetapi malah sebaliknya. Dan pembelajaran di kelas pun, sekedar transfer pengetahuan. Ironisnya lagi, transfer pengetahuan itu hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri! Sudah saatnya guru mengajar dengan cinta. Cinta guru pada anak didik, akan menjadikan pembelajaran di kelas-kelas kita indah, penuh makna dan menyenangkan. Pendidikan dan pengajaran yang dilandasi cinta, kata Husaini Usman (2012), muaranya adalah pembentukan karakter sempurna. Itu karena cinta guru akan mengalir, dan menyapa ruang batin anak didik, sehingga mereka menjadi lembut dan santun. Pendidikan cinta adalah pendidikan hati, maka guru harus menebarkan cintanya pada anak didik.

Selain mendidik dengan cinta, guru juga hendaknya memiliki kekuatan observasi. Mendidik anak, tulis Rhenald Kasali (2014), sebenarnya bukan sekadar telling karena fungsi utamanya adalah membentuk (regulasi diri, fokus, kontrol diri, working memory, dan kemampuan beradaptasi). Dan, untuk itu diperlukan kekuatan observasi. Jika para guru memiliki kemampuan observasi yang kuat, lanjut Rhenald Kasali (2014), tak satu pun masalah anak luput dari catatan dan sentuhannya. Guru menjadi orang pertama yang membaca mengapa anak tiba-tiba menjadi amat takut, sakit, memukul teman-temannya, kurang bergairah, cerewet, asyik dengan dirinya sendiri, banyak melamun, dan seterusnya. Kemampuan mengobservasi ini menjadi modal penting seorang pendidik. Untuk mengasah kemampuan observasi ini dalam bentuk praktik, dibutuhkan waktu enam bulan penuh untuk. Peningkatan kompetensi guru salah satunya juga terkait dengan pembentukan keterampilan observasi.

Sudah saatnya marwah sekolah dikembalikan lagi. Benar kekerasan tidak tepat dilakukan, tetapi pemejahijauan bahkan kriminalisasi guru, ke depan tidak perlu terulang lagi. Ini jelas bukan karakter ketimuran yang santun serta beradab. Karakter ketimuran bahkan meletakkan guru dalam posisi agung, luhur, serta bermartabat. Guru dalam literasi ketimuran klasik, bahkan dianggap memiliki “tuah” lantaran tugas mencerahkan masyarakat yang tidak ringan. Tradisi memuliakan guru dan mengembalikan marwah sekolah harus terus kita jaga, sembari meminimalisir tindak kekerasan. Guru pelita pencerah anak bangsa, sudah saatnya didukung segenap pihak. Orang tua, pemerintah dan masyarakat bersama-sama mewujudkan pendidikan nir kekerasan. Bersama tentu kita bisa!



Penulis : Agus Wibowo (Penulis Buku Malpraktik Pendidikan (2008), Dosen Universitas Negeri Jakarta, E-Mail: agus82wb@gmail.com)
Editor   : Ali Munir S.


Sumber Gambar: nurulmarwah.com  




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat