Puisi-Puisi Anshori Ahmad Nasruddin


Di Sudut Jogjaku

Mungkin kepakan sayap malaikat
Yang terbentang di setiap langkah, telah berlalu
Keelokannya terpatri di dasar bumi
Tak berlaku pula bagiku

Hening sesaat, roda waktu terus berputar
Tak banyak ruang untuk menitipkan bayang

Aku pun terbangun, membawakan seikat teratai
Untuk kau tanam di setiap kelopak mata
Bersama kemarau yang akan segera tiba
Entah seperti apa ia akan hidup
Biar cukup aku risalahkan di teras mimpi

Ambarukmo, 14 September 2014


Seuntai Pagi

Kau yang membangunkanku tadi malam
Dengan sesungging keringat yang masih meleleh
Dari telapak tanganmu

Aku masih saja menggerutu, dengan sayap-sayap malaikat
Yang menjadi nyanyian mimpiku
Aku terhanyut di dekap waktu
Yang terus menyuntingku
Aku semakin terlelap
Sedang kau terus berlari dengan langkahmu
Sesekali meminta untuk kompromi
Kau hanya menghela nafas sesaat

O, malam yang masih memiliki segenggam rasa di ujung sana
Biarkan aku pulang membawa gerimis di rahim musim
Sebab hanya kau, satu-satunya yang beratap di setip kedip mataku

Menusuk puncak imaji dengan perputaran kalender
Memecahkan setiap tarikan nafas
Membakarnya dengan kemenyan suci

Sengaja kurebahkan malam sabitku
Tepat di urat nadimu
Mengalir di setiap rentetan sejarah
Menyebar di sekujur tubuh waktu

Biarlah
Bila anak senja menjemput kelenjar matamu
Ayat-ayat rinduku yang tertusuk di kesendirianmu
Mengetuk pintu salam, barangkali seerat kau mengecupku
Ketika aku masih dalam dekapanmu

Dan saat kau terhanyut dalam buaian
Terbawa pada ketenangan
Diam-diam, Aku mengintipmu di antara celah-celah sabda

Sleman, 11 September 2014


Sajak Untuk Ammi

Aku tahu untuk mengunjungi matamu di kedalaman sana
Aku harus mendayung lebih keras lagi
Agar aku sampai pada permukaan yang tak terlihat itu
Bersama gelegat sunyi yang terus mencengkram
Aku tetap tak dapat meraih jutaan gemintang

Seandainya dapat kulukiskan buih malam yang menguap
Di tengah kebisingannya yang tak lagi ramah
Maka jemput aku di persimpangan jalan menuju ritual suci
Bekas rintisan luka di dasar keegoisan

Bila saja perahuku bocor di tengah kegelapan
Maka jangan pernah ulurkan tanganmu untuk membutakanku
Meski malam terus saja berisik dengan penuh keangkuhan
Sedang kau terus mengarungi kedalaman lautan
Yang terdampar di pulau terpencil dalam peraduan

Malam semakin sunyi
Kadang wajahmu tak tampak di antara gemerlap bintang
Entah kemana,
Aku hanya mampu berharap sunyi ini
Akan menemukan muaranya

Gendeng, September 2014





Anshori Ahmad Nasruddin, kelahiran Sumenep Madura, sekarang sedang menjadi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis juga aktif di Komunitas Bawah Pohon, Komunitas Rudal, Komunitas Intrans dan Komunitas Sastra Gajahwong.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat