Senja Usia dalam Ingatan


Memaknai Waktu

Andai waktu adalah peta pencarian jalan
Maka seharusnya tangan tak meraba lebih jauh
Angan tak lamban berpikir, apalagi merenung
Sedang lorong-lorong begitu bisu membaca ingin

Aku berdiri di tengah musim keputus-asaan
Aku mencari tempat berteduh pada sekian benci dan dendam
Barangkali waktu sedang memilin-milin kulitnya
Agar kelak dia berbaring tenang tanpa hembusan nyawa

Setelah itu, masihkah aku harus memaknai sekian ingatan dan perasaan
Sementara huruf-huruf tak mampu mewakili imajinasi
Hanya berakhir di ujung pisau, cukup selesai
Sebab pada lelah segala hidup berakhir

Maka jangan panggil aku seorang penyair
Aku hanyalah seseorang yang diperbudak waktu
Tak lebih dari segumpal jiplakan arwah
Yang kelak akan musnah oleh angin dan hujan

Tak akan ada lagi cinta bagi daun yang kering, malam yang dingin
Andai waktu dapat diminta, maka jangan kembalikan masa kemarin
Ambillah arwahku sebagai tumbal bagi panasnya jalan-jalan
Agar Tuhan jatuh hati dan memeluk segala ketiadaan

Yogyakarta, 2016


Bukan Penyair

Barangkali aku harus menelanjangi matamu agar melihat dalam mataku
Mata-mata kesepian yang berlubang kian dalam, kian menusuk
Semakin saja kita tak menemukan nama
Apalagi sekedar sebutan mulut tumbal dari kebisuan malam

Jangan percayakan garis-garis arah yang membingungkan kepadaku
Karena aku bukan pemegang rantai takdir
Apalagi untuk menyeret sekian luka agar tak ada bekas
Aku bukan gentong rahwana yang menjanjikan kebahagiaan

Aku hanya segerombol hayalan
Lontang-lanting mencari air susu ibu
Barangkali putingnya masih belum dihisap malaikat
Apalagi hatinya yang dahulu menyediakan rumah tebu

Pada akhirnya kita tak perlu bertanya, memanjangkan desahan
Bahwa hidup adalah nafas, berhembus sesuka hitungan
Sedangkan kita hanyalah serangkaian huruf, tak perlu aturan
Dengannya lahir segala isyarat dan bahasa ketidakpuasan

Yogyakarta, 2016


Turun Hujan

Hujan cepat reda sebelum aku sempat melukismu
Menggambarkan kerasnya tusukan waktu yang memikul sekian pertanyaan
Senar di gitarku tidak cukup menyaringkan nada-nada
Karena setiap tusukan hujan membuatnya hambar dan buang

Kenanganku meleleh saat berisik menyurut, menghening
Memanja sekian halaman percobaan yang melahirkan rindu dan dendam
Padahal aku belum selesai berbicara, membantah
Kenapa di usia kita sepertinya kebersamaan begitu bermakna

Sebentar lagi hujan akan diam, kembali ke bumi
Jangan kembali ke langit, atau aku akan mengutuknya
Bahwa segalanya adalah kebohongan
Sedangkan ketidakpastian jatuh berulang-ulang

Kenapa kita tak merubah nama saja, menjadi mayat misalnya
Atau hantu yang tak terbilang oleh mata
Atau sepotong bangkai waktu yang tak terhitung, tak terarah
Agar kebimbangan tak menemukan rumahnya, membeku tanpa nafas dan usia

Tapi tidak, kita selalu ingin membuat Tuhan jatuh cinta
Sekalipun segala kenikmatan dijadikan tumbal
Semua permintaan dikutuk diam, turut
Menunduk pada apa yang disebut takdir dan perjalanan

Sekarang, pinta Tuhan!
Ambil tangannya, nanti aku susul memotong hatinya
Agar suatu saat kita tak lagi bertanya-tanya
Bahwa hidup layaknya sekumpulan hayalan

Yogyakarta, 2016


Irama Cin Ta (i)

Seorang penulis berkata:
Penyair hanya sibuk membicarakan cinta
Karena dia hanya mencarinya

Hanya, tidak!
Sendiri tanpa siapapun
Menanggung segala haluan musim
Mencari celah biji dari keringnya akar pohon

Dan diam-diam kau berkata:
Kau begitu lugu, cintamu menggebu tanpa harus aku menawar
Apalagi untuk berair mata

Apalagi, tidak!
Cukup musim tak sabar ingin memanja gunung
Atau hutan usia yang kesepian, Karena darimu aku ingin merasa
Bahwa cinta adalah kuncup bunga yang tak pernah menolak untuk memandang matahari

Aku diam, dan kau tersedu:
Aku hargai, tapi aku tak sempat memikirkan itu
Sekedar untuk memikirkan sesuatu yang bukan milikku kelak

Sekedar, tidak!
Kau terlalu hawatir pada pengalaman
Bahwa cinta tak harus kita peluk untuk selamanya
Kau terlalu takut aku perkenalkan pada sumur kering yang telah kau kuras

Dan untuk itu, aku berkata:
Bila kesalahanku adalah alasan untuk kau membuang ingatan
Dan pemberian maaf adalah jalan bagimu untuk pergi
Kukatakan pada langit, pada deras hujan
Bahwa hatiku adalah namamu
Bahwa, iya!
Tiada aku enggan dalam sepi
Untuk sejenak mengingat bayanganmu
Kenangan yang tak kan lekang oleh ruang dan waktu

Maafkan aku!
Aku harus tetap mengenangmu

Yogyakarta, 2016


Lampu Pijar

Perhatikan sinar lampu yang kututup dengan selembar buku
Remang mencari huruf pada buku
Barangkali hantu juga sedang berkeliaran
Menjelma diri menjadi hitungan pertanyaan

Cukup!
Jika itu salahmu maka kau harus terima itu

Aku tak mengerti
Kenapa tiba-tiba pikiran berubah warna
Dari sabda para ilmuan
Menjadi ingatan perjalanan perasaan

Aih!
Otakku juga berbahaya
Tanyakan pada hati kecilmu, apakah kau butuh?”

Tentu
Tentu saja aku masih bersama lampu di kamar kecilku
Remang, dan melahirkan hitungan pertanyaan

Yogyakarta, 2016


Ali Munir S., Penulis lepas tinggal di kuburan waktu.


Sumber Gambar: kadekwid.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat