Tawaran Konsep Full Day School



Wacana full day school yang akan diterapkan Mendikbud Muhadjir Efendi menuai banyak pro-kontra. Padahal, full day school bukan hal baru di Indonesia. Sebelumnya, Pemerintah Jawa Tengah sudah menerapkan full day school pada sekolah jenjang SMA/sederajat (belum semua). Sistem full day school juga banyak diterapkan pada sekolah-sekolah Islam yang mempunyai mata pelajaran ektra seperti mata pelajaran yayasan atau pengetahuan ke-Islaman. Penerapan ini menunjukan bahwa full day school sudah mempunyai sekolah percontohan. Fakta selama ini pun menunjukan bahwa belum ada berita miring terkait full day school di Indonesia, walaupun sistem ini mempunyai sisi positif dan negatif.

Full day school mempunyai sisi positif. Dari sudut pandang siswa, full day school dinilai dapat mengurangi potensi kenakalan pelajar karena kegiatan anak mudah terpantau, sementara guru juga akan lebih mudah mengontrol perkembangan siswa. Bagi guru, seperti yang dikatakan oleh Dirjen Kemendikbud Sumarna Suprana (Magelang Ekspres, 10/06) bahwa penambahan waktu sekolah pada full day school tesebut berdampak positif pada guru yang belum memenuhi ketuntasan mengajar 24 jam.

Sementara sisi negatifnya dapat dibaca dari pendapat beberapa tokoh. Seperti pendapat bupati Temanggung Bambang Sukarno (Magelang Ekspres/10/08) yang secara pribadi mengatakan ketidak sepakatan konsep full day school . Ketidaksepakatan ini bertumpu pada alasan bahwa siswa akan lebih mudah jenuh, jam belajar yang penuh juga akan mengurangi porsi bermain dan berkumpul bersama keluarga. Sementara hal yang sama dilontarkan Kepala BPMKB Kota Magelang Wulandari Wahyuningsih (Magelang Ekspres/10/08). Wulandari melontarkan kekurangsepakatannya, walaupun di kota Magelang sudah ada beberapa sekolah yang menerapkan full day school. Ketidaksepakatan ini beralasan karena penerapan full day school akan membuat anak terlalu lelah di sekolah, kemudian asupan gizi anak juga belum dapat terjamin.

Pro-kontra tersebut perlu mendapatkan kajian mendalam sebelum kebijakan lebih lanjut diterapkan secara nasional. Mengingat kemampuan dan kondisi pendidikan di masing-masing daerah berbeda. Hingga perlu dicari solusi dengan pengkajian tawaran-tawaran konsep sebagai pertimbangan keputusan kebijakan.

Tawaran Konsep

Full day school memang mempunyai sisi positif dan negatif. Namun bila sistem tersebut diterapkan, ada empat hal yang perlu diperhatikan. Pertama, regulasi kebijakan harus menyeluruh dan butuh percobaan. Kebijakan baru tidak dapat langsung diterapkan pada sekolah seluruh Indonesia, semua butuh proses dan evaluasi. Hendaknya rencana tersebut terlebih dahulu diterapkan pada awal tahun ajaran baru dan diujicobakan pada daerah yang dianggap mampu. Misalnya mampu dari segi fasilitas sekolah, kesiapan guru dan siswa. Hingga hasil uji coba dapat dijadikan cermin percontohan bagi sekolah lain yang akan menerapkan full day school. Regulasi kebijakan juga harus menyeluruh dari atas sampai bawah, mulai dari konsep ideal, porsi anggaran pendidikan sampai dengan aturan juklak dan juknis dilapangan. Kebijakan tersebut juga perlu mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk hal kecil dilapangan seperti transportasi daerah terpencil, keamanan dan perhatian makanan bagi siswa dan guru. Dalam hal makan siang misalnya, sekolah bisa saja bekerjasama dengan ahli gizi dalam meberikan menu makan kepada anak didiknya, seperti yang dilakukan boarding school yang justru berdampak bagus terhadap kebutuhan nutrisi siswa.

Kedua, Guru harus dipersiapkan terlebih dahulu. Guru adalah kunci sukses belajar dan pesulap suasana pembelajaran. Full day school tidak dapat diklaim melelahkan dan membuat jenuh siswa, karena belum ada penelitian yang secara rinci menyimpulkan hal tersebut. Bila anggapan awal full day school itu menjenuhkan, bagaimana dengan boarding school yang justru membuat sistem belajar pagi sampai malam? Hingga haruslah berani berkata bahwa bukan tentang porsi jam, akan tetapi kemasan konsep pendidikan. Bila pendidikan dikemas menarik, menyenangkan dan bersemangat tentu tidak akan membuat siswa merasa jenuh. Pada ahirnya, gurulah kunci dari menariknya kemasan pembelajaran.

Ketiga, arah pendidikan harus jelas. Kejelasan arah pendidikan ini meliputi pendidikan lintas aspek. Full day school akan mengurangi porsi bermain dan bermasyarakat bagi siswa. Memasukan kegiatan sosial kemasyarakatan menjadi perlu dalam rangka membentuk kepekaan sosial agar di dalam diri siswa tidak muncul rasa individualis. Karena bagaimanapun, siswa adalah agen perubahan bagi masyarakat dan desanya. Bagaimana menciptakan anak tetap berwawasan global tapi tidak lupa dengan lokalitas. Sementara pengaturan jadwal mata pelajaran juga diperhatikan, mata pelajaran yang membutuhkan perhitungan dan konsentrasi lebih, dapat diletakan pada awal pelajaran. Kemudian pada siang hari dapat ditawarkan pelajaran atau kegiatan yang mempunyai ruh sosial, pengenalan diri, religi, nasionalis atau cinta alam. Hal ini akan memudahkan siswa dalam menemukan jati diri dengan bimbingan sekolah.

Keempat, mengenalkan pembelajran di luar kelas dan pendidikan di luar sekolah. Usaha tersebut dilakukan agar anak tidak terdoktrin bahwa pendidikan hanya di sekolah dan belajar hanya di kelas. Full day school dengan lebih banyak waktu di sekolah, setidaknya mampu memperkenalkan pembelajran ini. Bila mengambil teori tricentra pendidikan Ki Hajar Dewantoro bahwa penddikan harus berlangsung di tiga tempat pokok yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat. Pembelajaran di luar kelas juga akan membentuk karakter siswa pembelajar. Siswa pembelajar tersebut digalakkan oleh Mendikbud Anis Baswedan dengan kata pembelajar sepanjang hayat yang memberi pengertian bahwa belajar harus berlangsung di semua tempat dan waktu.

Berdasarkan keempat hal tersebut, dapat ditarik pengertian bahwa penerapan full day school akan berdampak positif bila dikemas secara baik. Kemasan ini bukan hal sederhana, karena menyangkut masa depan Indonesia. Setidaknya butuh kajian mendalam pada setiap kebijakan yang akan diterapkan. Janganlah terburu-buru mengambil keputusan. Permasalahan pokok sebenarnya bukan bagaimana full day school akan diterapkan tetapi bagaimana full day study dijalankan. Bukan bagaimana sekolah menerapkan pembelajaran penuh akan tetapi bagaimana siswa bisa belajar secara penuh dan terus menerus.[]


(Tulisan ini pernah dimuat di Magelang Ekspres tanggal 2 Agustus 2016)

Penulis                : Emha Hendra N.N., S.Pd.I.
Editor                  : Ali Munir S.
Sumber Gambar : thetanjungpuratimes.com



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat