Menulis untuk Keabadian


Masing-masing kita tentu memiliki cerita yang berbeda-beda. Cerita yang muncul dari benturan-benturan kita dengan realitas, yang kadang menyenangkan, dan kerap sekali menyakitkan. Namun, kerap cerita-cerita tersebut membusuk di kepala. Atau mungkin, terlupakan dan tertimbun dengan cerita-cerita lain yang berjubel.

Terlebih, kita yang menyandang status mahasiswa. Selain kerap (merasa) dibuat sakit hati oleh penguasa, juga memiliki  kegelisahan yang meletup-letup di dada dan kepala. Efek darah muda. Punya banyak tawaran solusi, namun mendadak linglung untuk memilih media apa yang harus digunakan untuk menyampaikannya. Melakukan demonstrasi, tidak memiliki massa yang banyak dan jadwal kuliah padat. Memilih media sosial sebagai media penyampaian aspirasi, takut terjerat pasal UU ITE yang telah banyak memakan korban. Lantas, apa yang mesti kita lakukan?

Agaknya, kita bisa meniru apa yang dilakukan oleh Gie. Sederhana. Ia menulis aktivitas keseharian sebagai mahasiswa. Mahasiswa yang gandrung dengan keadilan, dan menceburkan diri dalam dunia aktivis. Juga Che Guevara, sang revolusioner Kuba. Ia membawa buku kecil dan pena, untuk mencatat potongan-potongan pengalaman selama melakukan gerakan revolusi. Meski mereka telah lama mati, pikiran-pikirannya beranak-pinak di setiap batok kepala siapa pun yang membaca karya mereka.

Karena itu, ada benarnya ketika Pram, dalam salah satu Tetralogi Buru-nya menulis: Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh di kemudian hari.”

Apa yang dikatakan oleh Pram bukanlah isapan jempol belaka. Banyak bukti yang bisa kita temukan. Bayangkan saja, jika tidak ada orang yang bersedia menceritakan sejarah masa lalu dalam bentuk tulisan kepada kita. Tentu kita selamanya tidak akan bisa mempelajari sejarah. Dan, meminjam istilah Eric Weiner (2016: , selamanya kita akan menjadi kanak-kanak, selama tidak mau mempelajari sejarah.

Begitu besar kontribusi tulisan dalam peradaban manusia. Namun, apakah hal ini sudah kita sadari sepenuhnya. Jika iya, apa langkah selanjutnya dari kesadaran tersebut, masih menjadi tugas kita bersama.

Belakangan kita amati, terlebih pasca aksi 411, banyak tulisan berseliweran di media sosial dan portal berita online. Seakan tidak mau ketinggalan, televisi juga mendatangkan pakar-pakar untuk mengupas soal aksi 411. Selalu, baik dalam media sosial maupun televisi, ada dua pihak yang berseberangan pendapat. Dan kedua-duanya, sama-sama memiliki landasan untuk menguatkan argumen masing-masing.

Jika diamati secara mendalam, rasa-rasanya kita tengah berada di medan pertempuran yang sengit. Bukan tempur dengan AK 47 atau tank, melainkan wacana. Ini bisa dibuktikan dengan berjubelnya tulisan pro-kontra terkait sebuah isu atau fenomena. Seakan-akan, masing-masing pihak ingin menggiring publik agar merapat ke barisan mereka. Semakin banyak massa, pastinya, semakin besar kekuatannya. Dan tentu, kuantitas massa sangat diperhitungkan di negara kita ini.

Saya tidak bermaksud untuk mengajak siapa saja untuk memilih satu di antara dua kelompok. Ini bukan persoalan kalah-menang, saya kira. Tapi, kembali kepada pemahaman bahwa setiap orang punya cerita, menulis adalah pekerjaan yang perlu. Di tengah pertempuran wacana tersebut, setidaknya kita memberikan warna baru dengan tulisan kita. Menghasilkan tulisan alternatif, yang lebih menyegarkan dan sarat dengan visi mulia.

Tentu saja, sebagai mahasiswa, menulis adalah kegiatan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Jangan hanya makalah (itu pun kerap hanya copy-paste) yang dikerjakan dengan kesungguhan, untuk mendapat angka tinggi. Tapi, perlu juga kita tuangkan gagasan kita melalui tulisan, baik dalam bentuk tulisan ilmiah maupun populer.

Tokoh-tokoh besar masa lampau telah membuktikan, bahwa mereka tidak bisa mati hanya karena moncong bedil. Tidak binasa oleh racun yang mereka minum. Justru sebaliknya, mereka abadi dan terdengar lebih lantang suaranya, setelah direnggut kematian. Bagai virus, gagasan mereka yang terselip dalam tulisan, menjangkiti siapa saja yang membacanya. Jiwa mereka abadi, bersemayam di dada-dada generasi berikutnya.


Oleh: Imron Mustofa
Anggota Persma Paradigma Jogja

Sumber Gambar : googleusercontent.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat