Hoax Menyertai Narasi Konflik Suriah



Paradigma - Tersebarnya narasi konflik Suriah tidak bisa terlepas dari peran media sosial. Berbagai narasi berhamburan menyusup ke berbagai negara dunia. Sehingga, dunia tahu dinamika konflik di Suriah.
Beberapa waktu lalu, tersebar dengan masif narasi yang mengatakan bahwa ada genosida di Aleppo Timur, kota terbesar kedua di Suriah. Dina Y. Sulaeman, pengamat politik asal Bandung, mengatakan bahwa narasi yang tersebar di seluruh dunia tidak sepenuhnya benar. Sumber informasi yang diambil oleh media mainstream hanya berasal dari satu kelompok, yaitu orang-orang yang satu kubu dengan milisi bersenjata.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa yang amat berperan atas propaganda bahwa terjadi genosida di Aleppo Timur adalah para seleb media sosial. Salah satunya adalah perempuan umur tujuh tahun, Bana al-Abid. “Wahai dunia, biarkan perang dunia terjadi, daripada kami menjadi korban Holocoust Assad dan Rusia,” kata Dina menirukan cuitan Bana di media sosial, saat menjadi pembicara dalam forum diskusi yang diadakan Gusdurian Jogja, Selasa (28/03).

Selain Bana, ada banyak seleb yang getol dalam melakukan propaganda. Lina Syami salah satunya. Setelah dilakukan pelacakan jejak digitalnya (baca: media sosialnya), ternyata mereka termasuk bagian dari milisi bersenjata. “Para seleb medsos ini adalah bagian dari milisi bersenjata,” kata pendiri Indonesian Centre for Middle East Studies (ICMES).

Dina mengatakan, bahwa kelompok milisi bersenjata ingin kita menerima satu sisi cerita. Satu cerita bahwa Assad orang gila yang datang dari kota ke kota ingin membunuh masyarakatnya sendiri. Mereka ingin kita percaya bahwa orang yang berjalan itu lari dari genosida, Assad. “Pertanyaannya, apakah kamu percaya? Tapi jutaan orang percaya memang kejadiannya seperti itu.”

New York Times menjadi salah satu media garda depan yang getol memberitakan konflik Suriah. Akan tetapi, beberapa foto yang diklaim sebagai korban perang Suriah ternyata bohong. “Ada foto anak kecil dari puing-puing kecil, korban Aleppo. Ternyata fotonya dari video klip lagu,” imbuh Dina. 

Respon Masyarakat Indonesia
Sebagian masyarakat Indonesia merasa prihatin dengan konflik di Suriah, yang memakan banyak korban jiwa. Mereka kemudian menggalang dana dengan tagar #SaveAleppo, sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian. Aksi damai pun bertebaran di beberapa sudut kota di Indonesia. Mereka juga menyuarakan #SaveAleppo.

Menanggapi fenomena tersebut, Dina mengatakan bahwa hebohnya masyarakat Indonesia karena berkaitan dengan ormas transnasional. Ia kemudian menyebutkan ormas-ormas yang terlibat di Suriah dan memiliki afiliasi di Indonesia. Di antaranya adalah Ihwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan Al-Qaeda. “Mereka melakukan penggalangan dana dan pasukan,” imbuhnya.

Secara diplomasi, Indonesia tidak ada kepentingan dengan Suriah. Suriah bukanlah negara yang diperhitungkan. Berbeda dengan Amerika yang sangat diperhitungkan Indonesia. Kerja sama ekonomi Indonesia dengan Suriah pun minim. Maka, untuk menggalang dana dan dukungan di Indonesia, kelompok milisi bersenjata menyebar kebencian.“Bagaimana cara merekrut orang (Indonesia) untuk ikut ke Suriah? Dengan kebencian. Di sini, dengan kebencian, direkrut,” kata Dina.

Narasi Alternatif
Benih konflik Suriah sebenarnya sudah muncul semenjak tahun 2011. Pada tahun itu, diketahui ada orang-orang non-Arab mondar-mandir di perbatasan Jordan dan Suriah. Tentara Amerika yang berbasis di Irak, oleh Obama diinstruksikan untuk pindah ke Jordan. Ada juga berita yang tersebar, bahwa tentara Amerika melatih tentara-tentara non-Amerika. “Pasti ada upaya (campur tangan) Amerika dan Israel,” kata Dina.

Pada tahun itu juga, terjadi demonstrasi menuntut Assad untuk mundur dari jabatannya. Akan tetapi, ada juga demonstrasi tandingan yang pro-Assad. Intervensi bangsa asing juga amat kentara dengan adanya pernyataan terbuka dari pemimpin-pemimpin dunia. Pernyataan tersebut mendesak agar Assad segera turun dari jabatannya sebagai Presiden Suriah.

Assad langsung tanggap dan sadar, bahwa ada upaya penggulingan rezim. Maka pada tanggal 21 April 2011, Undang-Undang Anti Subversif dihapus. UU ini dianggap bertentangan dengan hak asasi manusia (HAM). Pada 26 Februari 2012, terjadi pula perubahan signifikan dalam undang-undang. UU baru tersebut adalah masa jabatan presiden dibatasi hanya dua kali masa jabatan. “Perubahan lainnya, siapapun (dari partai manapun) boleh menyalonkan,” kata Dina.

Akan tetapi, di pertengahan tahun 2012, isu demokrasi berubah menjadi khilafah. Ada ratusan jihadis yang datang ke Suriah dari berbagai negara dunia. Melihat hal tersebut, masyarakat berbalik mendukung Assad dalam pemilu selanjutnya. “Assad menang, meraup suara 88%,” lanjut Dina.
Titik balik dari konflik Suriah adalah direbutnya kembali Aleppo Timur di tahun 2016. Hal ini karena didukung upaya mediasi Rusia dan negara-negara kuat lainnya. “Intinya, yang resmi masuk list teroris adalah ISIS, yang berkuasa di Aleppo,” kata Dina.

Keterlibatan Asing
Dina menjelaskan bahwa ada sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) bernama Canvas di Yugoslavia. LSM ini memiliki program melatih aktivis berbagai negara untuk menumbangkan negaranya sendiri. Pendirinya adalah Srdja Popovic. “Saya ini untuk kemanusiaan, untuk menggulingkan pemerintahan mereka,” kata Dina mengutip perkataan Srdja Popovic.

Ia melanjutkan, bahwa aktivis di Negara Arab adalah hasil didikan LSM Canvas, termasuk Mesir. Faktanya, aktivis pentolan dilatih oleh Amerika. Mereka belajar tentang demokrasi. Lantas, apakah kita bisa menyimpulkan Arab Spring oleh Amerika?


“Barat bermain di dua kaki. Mereka pegang rezim korup dan melatih masyarakatnya untuk bangkit melawan,” kata Dina. [Imron Mustofa, Kabid PSDM LPM Paradigma]

Sumber Gambar: Lpm Paradigma

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat