Mempertahankan Progesivitas Ke-Bhinneka-an



Seperti yang telah kita ketahui bersama, Negara Kesatuan Republik Indonesia tidaklah lahir dengan cuma-cuma. Indonesia lahir dengan semangat perjuangan yang tinggi dari para pahlawan bangsa, bahkan dengan pertumpahan darah untuk dapat menjadikannya merdeka.

Berkaitan dengan diadakannya kuliah umum, seminar dan loka karya yang bertema “Politik Internasional dan Radikalisasi Sektarian Agama Dampaknya Terhadap Pregresivitas ke-Bhinneka-an” oleh Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (HMPI) yang berlangsung di gedung pertemuan Convention Hall lantai 1 pada hari Jum’at, 17 Maret 2017 kemarin, bapak rektor prof. K.H Yudian Wahyudi M.A Ph.d memberi apresiasi yang sangat baik dikarenakan mahasiswa dengan ini menunjukkan bahwa mulai adanya kepedulian dengan problematika-problematika yang terjadi pada Indonesia.

Mari kita tilik lagi sejenak tentang sejarah, menurut bapak Dr. H. Hidayat Nurwahid, M.A (wakil ketua MPR RI) selaku keynote speaker berkata,”Pancasila adalah jalan tengah. Dan kita merdeka agar terlibat dalam ranah Internasional.” Perpindahan naskah Piagam Jakarta pada alenia ke-4 yang berbunyi: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa” ialah bukti adanya musyawarah dari berbagai tokoh Agama yang berbeda-beda, dengan toleransi yang tinggi sehingga dapat menjadi asas ideologi Negara Indonesia sampai saat ini.

Lalu, menurut pembicara utama Bapak Jendral TNI (purn) Dr. H. Wiranto, S.H (Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan) menjelaskan bahwa politik Internasional secara formal berbicara tentang kemitraan, maka diharuskan adanya kerjasama yang erat antar negara. Sedangkan esensialnya bahwa antar negara tersebut telah ada persaingan, dari kawan yang diam-diam telah menjadi lawan, maka dari itu kita harus waspada dan tidak boleh terkecoh.

Ancaman-ancaman yang melanda Indonesia saat ini diperkirakan adalah, radikalisme, terorisme, narkoba, legalitas yang marak terjadi diperbatasan, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya Bapak Presiden kita memulai untuk membangun dari pinggiran. Dapat diambil contoh bahwa Negara kita memiliki batas Teritorial laut yang luas, yang dengan kurangnya penjagaan sehingga dapat dimasuki oleh penyelundup-penyelundup ilegal dari Negara lain.
Ditulis oleh:
Nindya (Calon Anggota baru LPM Paradigma)

Sumber gambar:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat