Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Koin Untuk Ibu

Gambar
Oleh : Savika Pulung Iswari
Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam dan selamat menikmati. Untaian kata yang  diramu guna memenuhi laman web poljogja.com dan guna menyukseskan misi rahasia. Poljogja.com merupakan situs resmi milik LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Paradigma Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga. Waow, nama yang sangat panjang bukan ?

Kau tahu teman, nama ini hanyalah label yang didalamnya berisi sekumpulan manusia ajaib yang menggunakan aksara untuk melahirkan sebuah karya. Lewat sebuah sungai yang katanya jalan hidup, rupanya takdir menuntun saya untuh berlabuh ditempat ini, tempat dimana saya bertemu manusia yang sungguh sulit dipahami, bukan berarti abstrak hanya saja lebih memusingkan daripada lukisan – lukisan dipameran.

Diskripsiku belum selesai teman, dibalik perkenalan saya ingin menulis mengenai perjalanan saya bersama Semesta dan bertemu tunas muda. Mari kita nikmati perjalanan ini.

Orang menyebutnya paragraf kedua, dan sepertiny…

Cadar, Islam, dan Warna

Gambar
Islam adalah agama yang serba plural dalam interpretasinya sepanjang sejarah. Bagaimana tidak, semenjak Nabi Muhammad SAW secara fisik meninggalkan dunia ini, Islam mulai menemukan titik-titik ledakannya. Menjadi dua, tiga, empat, dan seterusnya. Ledakan itu, yang biasa kita sebut dengan aliran, dilatarbelakangi oleh politik, pemikiran, dan sebagainya. Lalu, Islam yang kemudian menjadi berbagai warna itu, apa yang sebenarnya ditinggalkan sehingga menimbulkan perpecahan?

Saya ibaratkan Islam hari ini seperti pakaian yang memiliki banyak motif dan warna. Tetapi yang kemudian lebih dicuatkan adalah: Kenapa warna pakaianmu biru? Padahal jelas itu bid’ah, misal. Oleh karena itu, banyak sekali orang melupakan fungsi inti dari sekian banyak warna pakaian itu yang tidak lain bertujuan untuk menutup badan (kehormatan).

Demikian pula dengan Islam hari ini. Dari sekian banyak aliran ini itu, merah, biru, bid’ah dan seterusnya, orang malah melupakan; apa sebenarnya esensi Islam? Mereka lebih suk…

Cadar dan Mahasiwa yang Gagal Masuk UIN

Gambar
Rifa’I , mahasiswa yang berkomentar soal isu cadar di UIN (lihat: nalarpolitik.com/rektorat-uin-jogja-semena-mena-gerakan-mahasiswa-malah-melempem/) ternyata seorang mahasiswa kampus swasta STIE Widya Wiwaha Yogyakarta. Sekarang dia duduk di semester 6, dengan jurusan Manajemen Ekonomi Strata-1.

Mahasiswa luar UIN yang berkomentar tentang UIN, sepertinya menarik. Pertama, dia jelas bukan mahasiswa UIN dan (barangkali) tidak tahu otoritas keilmuan yang dianut oleh UIN. Kedua, apa latar belakang dia berkomentar tentang isu yang ada di UIN (cadar) tersebut?

Setelah melakukan wawancara dengan orang yang dimaksud di alun-alun selatan Keraton Yogyakarta, maka diketahui identitas dirinya sebagaimana disebutkan di atas. Tidak hanya itu, ada yang lebih menarik lagi perihal petualangannya yang ingin ngampus selama di Jogja, bahkan obrolan kami sampai pada soal Takdir Tuhan. Berikut saya kutip hasil wawancaranya :

Saya: “Kenapa kamu tidak daftar di UIN dulu?”
Rifa’I: “Aku udah dua kali daftar i…
Gambar
Sebelah Mata


Oleh : Shinta Melia K.

Bosan aku menuliskan
kata yang tak kusuka
aku melihat dan berfikir kematian

Wahai, kumesti berbuat apa
terkadang aku sendiri dan diam
berdiskusi dengan alam dan tuhan
lebih bermakna pada masanya

Sebab, menyakitkan
ketika mereka mendengar
namun tidak mengerti

Aku bukan siapapun, begitupun sebaliknya
Jangan mengekang apa yang tidak bisa disatukan
sungguh, menghargai yang tidak biasa jauh lebih baik

Tersenyum dan tertawa dengan makna
yang hakiki dan tak ternilai
memaknai hayat dengan penghayatan
menterjemah segala dengan penuh keikhlasan

Sumber Ilustrasi : notessoft.blogspot.com
Gambar
PEMBINAAN MAHASISWI BERCADAR DIANGGAP DISKRIMINATIF, MAHASISWA INI TAK TERIMA



Isna Nur Syaifuddin, mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam angkatan 2013 melalui sebaran chatting Whatsapp-nya menyatakan tidak terima dengan berita yang disebarkan oleh berbagai media yang seakan menganggap pembinaan mahasiswi bercadar sebagai pendiskriminasian. Berikut isi dari Chat Whatsapp selengkapnya:


Angkat pena kalian.Lawan pemberitaan yag hanya sekedar plintiran dan dugaan semata.Jangan tinggal diam institusi dimana kita berproses dipandang demikian. Adakah salah dengan kata Pembinaan? Bukankah itu hal yg positif? Suatu usaha untuk memberi binaan, mengarahkan, memberi pemahaman agar saudara-saudara kita lebih bisa memahami?

Adakah salah dengan kata itu? Diksi yg dikeluarkan bukanlah LARANGAN,  namun PEMBINAAN. Cobalah kita sadarkan para orang-orang  diluar sana yg secara mentah-mentah menelan opini dari pemberitaan media saat ini sebagai pandangan negatif.
Sebagai bagian dari instisusi Terhormat dan …

Catatan peringatan

Gambar
Percakapan: Mahasiswa, Kampus dan Dosa

Tadi malam (malam Kamis), saya ngobrol dengan adik kelas di Kafe Basa-Basi. Dia adalah kader LPM Paradigma angkatan muda yang tidak perlu saya sebutkan namanya (karena orangnya ganteng. Saya takut kalau nanti ada yang cemburu xixixixi…). Yang jelas, jenis kelaminnya laki-laki dan memiliki struktur tubuh sebagaimana manusia lainnya. Baik hati dan tidak nakal.
Saya lebih dulu ada di Kafe Basa-Basi pada sekitar pukul 19.00 WIB. Sambil mendengarkan Burdah dari K. Kuswaidi Syafi’I (Cak Kus), saya menyeruput kopi dan menghirup rokok seraya berharap dia akan datang segera. Sekitar dua jam menunggu, akhirnya dia datang juga dengan tangan kosong, hanya bawa HP dalam genggamannya, memakai celana yang rompang ramping berlubang-lubang. Saya pikir, dia aktivis. Dan saya harap itu benar. Sehingga menjadi aktivis yang benar menurut syari’at Kampusiyah.
Dia duduk di samping saya dan mengatakan bahwa dia ketiduran di kosnya, sehingga terlambat datang. Saya memak…
Gambar
Rintik Hujan Bagi Cahaya
 *oleh Fasihi Ad Zemrat

arianaalbano.com


“Ular naga, panjangnya bukan kepalang. Menjalar-jalar selalu riang kemari. Umpan yang lezat itulah yang dicari. Kini dia yang terbe-la-kang.” Dendang anak-anak dengan suka cita.
Ular naga. Dimana ada dua anak yang kelak menjadi induk untuk mempetahankan ekornya. Sungguh permainan yang menguras habis setres anak sekaligus melatih jiwa sosial serta gaya kepemimpinan mereka. Sungguh permainan tradisional yang bermanfaat.
“Kena kau!” teriak Andri girang. “sekarang pilih! Aku atau Bari?”
“Ah, Aku nggak suka sama cowo gendut, aku pilih Bari saja, lah.”
Setelah semua anak menentukan pilihannya, Andri dan Bari membuka melepaskan tangan mereka yang membentuk gerbang. Mereka ambil dua langkah ke belakang dan mulai berebut anak-anak yang jadi ekor. Gelak tawa membunjah. Apalagi ketika hujan menyapa, keringan anak-anak semakin bertambah, setres mereka di sekolah hilang karena anak-anak menghilangkan setres mereka dengan bermain sa…