Cadar dan Mahasiwa yang Gagal Masuk UIN


Rifa’I , mahasiswa yang berkomentar soal isu cadar di UIN (lihat: nalarpolitik.com/rektorat-uin-jogja-semena-mena-gerakan-mahasiswa-malah-melempem/) ternyata seorang mahasiswa kampus swasta STIE Widya Wiwaha Yogyakarta. Sekarang dia duduk di semester 6, dengan jurusan Manajemen Ekonomi Strata-1.

Mahasiswa luar UIN yang berkomentar tentang UIN, sepertinya menarik. Pertama, dia jelas bukan mahasiswa UIN dan (barangkali) tidak tahu otoritas keilmuan yang dianut oleh UIN. Kedua, apa latar belakang dia berkomentar tentang isu yang ada di UIN (cadar) tersebut?

Setelah melakukan wawancara dengan orang yang dimaksud di alun-alun selatan Keraton Yogyakarta, maka diketahui identitas dirinya sebagaimana disebutkan di atas. Tidak hanya itu, ada yang lebih menarik lagi perihal petualangannya yang ingin ngampus selama di Jogja, bahkan obrolan kami sampai pada soal Takdir Tuhan. Berikut saya kutip hasil wawancaranya :

Saya : “Kenapa kamu tidak daftar di UIN dulu?”
Rifa’I : “Aku udah dua kali daftar itu, tapi tidak lulus. Tapi Tuhan itu tidak adil.”
Saya : “Lha, kenapa kok Tuhan dikatakan tidak adil?”
Rifa’I : “Aku belajar selama sebulan itu, bahkan sampai aku tak henti-henti berdo’a. tapi ternyata nggak lulus. Tidak adil memang Tuhan itu. Dia seakan-akan membuat ketidakadilan dengan dalil Takdir-Nya. Dan itu katanya harus diterima. Aku, ya, tetap tidak terima dengan cara Tuhan seperti itu.”
Saya : “Tapi, kan, dalam prosesnya ada manusia yang menguji kamu di UIN. Artinya, dalam menuju takdir-Nya, Tuhan tidak bekerja sendiri. Ada komponen-komponen lain yang ikut serta dan mempengaruhi proses itu.”
Rifa’I : “Tuhan, kan, Maha Kuasa. Tetap saja aku tak terima. Dan aku pilih kuliah di Kampus Swasta. Tapi hatiku tetap di UIN.”

Sebagai mahasiswa yang ikut dalam organisasi ekstra dilingkungan UIN Sunan Kalijaga (barangkali untuk mengobati rindunya setelah ditolak dua kali untuk masuk di kampus itu), wajar bila kemudian dia ikut berkomentar perihal isu yang ada di kampus. Namun, sebagai mahasiswa pemain intip-intipan (pengin menjadi mahasiswa UIN) melalui organisasinya, setidaknya ada beberapa kejanggalan dalam argumentasinya yang dimuat di nalarpolitik.com, yang justru semakin menguatkan bahwa Rifa’I tidak benar-benar tahu tentang UIN dan ke-UIN-an.

Pertama, Rifa’i mengatakan bahwa “tindakan Rektorat UIN sangat menciderai demokrasi di kampus. Dan karenanya tak boleh dibiarkan.” Saya disini sebagai mahasiswa UIN, merasa janggal dengan pernyataan tersebut. Kenapa tidak? Bagi saya, justru tindakan rektorat itu untuk menjaga demokrasi yang sebenarnya. Dimana sebelumnya, UIN dinodai oleh Foto sederet mahasiswi bercadar yang berlatar gedung UIN dan memegang bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dan ideologi HTI sangat bertentangan dengan otoritas keilmuan di UIN.

Hal itulah yang menjadi alasan kenapa ada preventif (antisipasi) dari pihak UIN melalui pembinaan di lingkungan kampus. Saya bayangkan Rifa’I menjadi mahasiswa UIN dan bertemu dengan seorang mahasiswi bercadar di depan masjid. Lalu Rifa’I bertanya, “Dengan siapa, ya?” si mahasiswi menjawab “Hamba Allah.” Xixixixixi………

Kedua, nalarpolitik.com menulis bahwa Rifa’I adalah mantan mahasiswa UIN. Sejak kapan dia ngampus di UIN? Tapi tak apalah, saya juga lihat banyak iklan nangkring tuh di website nalarpolitik.com. biasalah, kejar tayang untuk menarik perhatian orang. Sampai-sampai merilis berita Hoax. Ya, kalau mau hoax agak terampil sedikit, lah. Mahasiswa kok di-hoax. Apa Rifa’I tidak sakit hati? Dia dua kali gagal, lho, masuk UIN. Barangkali redaktur sedang lapar, makanya buru-buru ngejar tayang buat gebet iklan. Heuheu……

Ketiga, Rifa’I mengatakan bahwa mahasiswa UIN penakut. Ini sangat sakral sekali. Mahasiswa luar UIN bilang mahasiswa UIN itu penakut. Penakut dalam hal apa? Mungkin yang dimaksud adalah takut menggugat kebijakan Rektor. Lha, kalau kebijakan rektor sesuai dengan alasan dan otoritas keilmuan, kenapa harus digugat? Saya sebagai mahasiswa UIN sakit, lho ya, ketika dalam sebuah seminar, Gerakan Mahasiswa Pembebasan pernah mengatakan bahwa ideologinya ingin menawarkan gaya pemerintahan baru yang Islami. Maaf, yah, saya takut sama yang namanya Bom.

Ya, sudahlah. Apapun itu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Entah mencegah hoax, perpecahan, dan hal-hal lain yang sekiranya akan menciderai negara ini. Apalagi menciderai hubungan perasaan. Uwuwuwuwuwu……

Ali Munir S., Mahasiswa kelahiran sebelum kematian.
Sumber gambar: Ilustrasi pribadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat