Cadar, Islam, dan Warna

Islam adalah agama yang serba plural dalam interpretasinya sepanjang sejarah. Bagaimana tidak, semenjak Nabi Muhammad SAW secara fisik meninggalkan dunia ini, Islam mulai menemukan titik-titik ledakannya. Menjadi dua, tiga, empat, dan seterusnya. Ledakan itu, yang biasa kita sebut dengan aliran, dilatarbelakangi oleh politik, pemikiran, dan sebagainya. Lalu, Islam yang kemudian menjadi berbagai warna itu, apa yang sebenarnya ditinggalkan sehingga menimbulkan perpecahan?

Saya ibaratkan Islam hari ini seperti pakaian yang memiliki banyak motif dan warna. Tetapi yang kemudian lebih dicuatkan adalah: Kenapa warna pakaianmu biru? Padahal jelas itu bid’ah, misal. Oleh karena itu, banyak sekali orang melupakan fungsi inti dari sekian banyak warna pakaian itu yang tidak lain bertujuan untuk menutup badan (kehormatan).

Demikian pula dengan Islam hari ini. Dari sekian banyak aliran ini itu, merah, biru, bid’ah dan seterusnya, orang malah melupakan; apa sebenarnya esensi Islam? Mereka lebih suka mengusik yang lain dan berbeda daripada berteguh juang sebagai sesama Islam. Sehingga islam yang awalnya menjadi cahaya spiritual (tendensi) berubah menjadi sesuatu yang cenderung keluar (fisik) dan begitu menakutkan.

Jujur saja, saya bukan Islam tulen dan saya tidak yakin bahwa saya orang yang benar-benar Islam. Tetapi ketika agama dipandang sebagai sesuatu yang tunggal, sebagaimana tunggalnya Tuhan, saya berkaca-kaca; apakah benar interpretasi mereka yang berbeda itu berasal dari Tuhan? Padahal, menurut saya, Islam itu kaidah umum yang interpretasinya dikembalikan pada kebudayaan. Jika warna kebudayaannya merah, maka secara fisik Islam perlu juga ikut merah. Namun tidak mesti menghilangkan maksud yang tendensial.

Baik, sekarang saya lanjutkan pada cadar. Ulama Fiqih memiliki berbagai macam pendapat mengenai hukum bercadar. Namun secara maksud, semuanya dikembalikan pada kepentingannya masing-masing. Misal, wajib karena rentan pada maksiat atau pergaulan bebas.
Jika cadar diandaikan sebagai aliran Islam, kita semua tahu Islam aliran mana yang marak menggunakan cadar, sampai-sampai Pancasila mau dicadarin pula.

Secara simbolik, kita semua tahu bahwa rata-rata cadar hari ini berwarna hitam dan hitam-putih. Dari itu kita dapat melihat, apakah mereka juga menerima dan memakai cadar yang berwarna pink misal? Maksud saya, kalaupun masih ingin memakai cadar, alangkah lebih elok bila cadarnya berwarna warni dan tidak hanya hitam. Karena saya sempat khawatir, jangan-jangan selain alasan ideologis, warna cadar yang hitam gelap (maaf, apalagi pake baju koko yang berwarna hitam gelap pula) dan hampir sekali mirip hantu itu, ditolak atau diserang gara-gara warnanya yang sedikit kurang mengenakkan.

Jadi, marilah kita saling memahami dan saling berbagi warna. Karena tanpa warna dunia ini tiada artinya. Demikian pula bila tak ada perbedaan dan pertukaran pendapat, baik ecara ideologis maupun praktisial. Terakhir, saya pernah ingat kata-kata Goenawan Muhamad dalam sebuah seminar, “Cara sederhana untuk bertoleransi adalah dengan menyadari bahwa diri kita sendiri adalah plural. Kita bukan manusia yang stabil dan selalu cenderung pada kesalahan.”

Ali Munir S. Mahasiswa yang sudah mau lulus. 

Sumber Ilustrasi : dokumen pribadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat