Catatan peringatan

Percakapan: Mahasiswa, Kampus dan Dosa


Tadi malam (malam Kamis), saya ngobrol dengan adik kelas di Kafe Basa-Basi. Dia adalah kader LPM Paradigma angkatan muda yang tidak perlu saya sebutkan namanya (karena orangnya ganteng. Saya takut kalau nanti ada yang cemburu xixixixi…). Yang jelas, jenis kelaminnya laki-laki dan memiliki struktur tubuh sebagaimana manusia lainnya. Baik hati dan tidak nakal.
Saya lebih dulu ada di Kafe Basa-Basi pada sekitar pukul 19.00 WIB. Sambil mendengarkan Burdah dari K. Kuswaidi Syafi’I (Cak Kus), saya menyeruput kopi dan menghirup rokok seraya berharap dia akan datang segera. Sekitar dua jam menunggu, akhirnya dia datang juga dengan tangan kosong, hanya bawa HP dalam genggamannya, memakai celana yang rompang ramping berlubang-lubang. Saya pikir, dia aktivis. Dan saya harap itu benar. Sehingga menjadi aktivis yang benar menurut syari’at Kampusiyah.
Dia duduk di samping saya dan mengatakan bahwa dia ketiduran di kosnya, sehingga terlambat datang. Saya memaklumi dan kami melanjutkan maksud pertemuan itu. Awalnya, saya bertanya bagaimana hasil rapat Rabu sore kemarin. “Belum ada, Mas.” Katanya. Kemudian dia balik bertanya, “Sabtu depan sampean bisa ngisi kajian, kan, Mas?” aku jawab, “Bisa.”
Lebih daripada itu, dia sedikit mengeluhkan bagaimana agar teman-teman Paradigma bersemangat dalam dunia jurnalistik. Dengan ide yang sudah saya serahkan kepadanya melalui Silabus PSDM, saya katakan kembali: teman-teman kita itu perlu diberi arahan dan tuntunan. Banyak lho, yah, hal yang dapat direkam secara jurnalistik di kampus kita. Kita mulai dari yang sederhana saja. Misal, ada orang usia lanjut yang kadang ketika malam hari menjajakan barang-barang kerajinan di pinggir jalan raya pemisah UIN. Nah, bagi Fotografer itu bisa dipotret, lalu kita jadikan rancangan berita. Bagi Ilustrator pun demikian, dia bisa menggambarkan hal itu baik secara elektronik maupun tangan.
Kemudian saya seruput kopi, dan merokok. Suara Cak Kus tentang Cinta dan Dosa masih menggema dengan kajian Barzanji Imam Busyiri-nya. Salah satu yang saya dengar begini, “Dosa itu sebenarnya kebutuhan kita. Karena bila kita tanpa dosa, maka kita akan tiba pada dosa yang lebih besar, yaitu kesombongan (Takabbur). Cara mengahapusnya adalah dengan meminta ampunan kepada Allah, serta yakin bahwa pengampunan Allah itu lebih luas daripada dosa kita. Namun kita harus memberikan jaminan, bahwa cara Allah mengampuni dosa kita adalah dengan cara kita tidak mengulangi dosa-dosa kita itu kembali.”
Saya memalingkan muka, dan menfokuskan kembali pada obrolan dengan si dia itu. Saya berpikir sejenak, lalu mengatakan: Aku kira faktor yang membentuk budaya pikir dan jurnalistik kita juga lingkungan. Sebutlah LPM Arena dan Rhetor, lingkungan Fakultas mereka adalah lingkungan kritis dan pemikir. Nah, bagaimana dengan Tarbiyah? Saya katakan bawa kita perlu memperkenalkan LPM Paradigma kepada mereka melalui selebaran Buletin Mingguan yang ditempel di papan pengumuman Fakultas. Kita berikan peluang bagi mereka untuk mnyampaikan uneg-unegnya melalui Email atau nomor WA yang dicantumkan di buletin. Dan yang tak kalah penting, kita harus super update. Tanpa harus berupa berita atau artikel serius lainnya. Misalnya, kadang ada sala satu mahasiswa di dalam kelas yang pamit keluar menuju toilet, tapi sampai kuliah selesai dia tak pernah kembali. Itu perlu kita telusuri alasan-alasannya. Biar kita terbuka dengan informasi, termasuk artikel tentang gaji dosen, cleaning service, kuesioner dosen dll.
Di sela-sela itu, bapak Edi Mulyono juga sedikit memberi sedikit wejangan di acara Cak Kus. Beliau mengatakan, “Sejauh literatur yang saya baca, pengampunan terhadap seseorang itu selalu lebih besar daripada dosa orang itu. Kita sebut, misalnya, dalam Tafsir Quraish Shihab menyatakan dalam bahasannya dengan me-nuqil dua kejadian. Salah satunya adalah, ‘suatu ketika nabi Musa bersama pengikutnya ada di tengah padang pasir yang panas dalam kejaran Fir’aun. Kemudian nabi Musa berdo’a agar diturunkan hujan. Tapi bukannya turun hujan, malah panas semakin menyengat. Nabi Musa pun bertanya, “Ya Allah, kenapa tidak kau turunkan hujan dan semakin panas?” Allah menjawab, “Karena ada satu orang dari umatmu yang memiliki dosa besar dan menghalangi terkabulnya do’amu.” Kemudian Nabi Musa bertanya kepada pengikutnya yang banyak itu, “Siapa yang di antara kalian memiliki dosa besar dan belum bertaubat?” tidak ada yang menjawab. Lalu salah satu dari pengikutnya ada yang merasa dilema, kalau keluar dari barisan merasa malu karena noda, kalau bertahan akan menghalangi do’a Nabi yang merupakan kebutuhan orang banyak. Akhirnya dia menangis dan bertaubat kepada Allah dalam hatinya. Tak lama kemudian, hujan pun turun deras. Tanpa nabi Musa perlu tahu siapa orang yang berdosa itu.’ Hikmah dari cerita tersebut adalah bahwa dosa seseorang itu tidak perlu dikemukakan kepada khalayak, dan tidak perlu dicaci maki. Cukup berikan mereka peringatan yang halus, tanpa harus saling menghujat dan mengkafirkan dan menghinakan dan hal-hal tak enak lainnya.
Yah, begitulah, My Lov! Kalaupun jika kamu berdosa karena tidak aktif menulis di Paradigma, jangan khawatir. Dosamu pasti diampuni oleh bapak Ketua. Asalkan kamu mau belajar xixixixi….

Penulis: Ali Munir S. orang kelahiran sebelum kematian.

Sumber ilustrasi : piaui.folha.uol.com.br

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat