Koin Untuk Ibu



Oleh : Savika Pulung Iswari

Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam dan selamat menikmati. Untaian kata yang  diramu guna memenuhi laman web poljogja.com dan guna menyukseskan misi rahasia. Poljogja.com merupakan situs resmi milik LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Paradigma Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga. Waow, nama yang sangat panjang bukan ?

Kau tahu teman, nama ini hanyalah label yang didalamnya berisi sekumpulan manusia ajaib yang menggunakan aksara untuk melahirkan sebuah karya. Lewat sebuah sungai yang katanya jalan hidup, rupanya takdir menuntun saya untuh berlabuh ditempat ini, tempat dimana saya bertemu manusia yang sungguh sulit dipahami, bukan berarti abstrak hanya saja lebih memusingkan daripada lukisan – lukisan dipameran.

Diskripsiku belum selesai teman, dibalik perkenalan saya ingin menulis mengenai perjalanan saya bersama Semesta dan bertemu tunas muda. Mari kita nikmati perjalanan ini.

Orang menyebutnya paragraf kedua, dan sepertinya makhluk hidup berjenis kelamin perempuan yang akal dan fikirannya masih sehat dan waras dapat dipastikan untuk lebih berhati – hati dalam penggunaan istilah ini. Berlandaskan novel yang pernah saya baca, sejatinya perempuan tidaklah bersedia ditempatkan diposisi kedua ataupun dinomor duakan katanya “Sakit bro”. Ah sudahlah mari istirahatkan tubuh untuk sejenak melepas penat dari konten – konten yang mengundang banyak resah dan gelisah.

Hari itu hari Kamis, langit masih gerimis, udara masih dingin, dan jas hujan yang tertinggal dirumah. Mengendarai sepeda motor mencari makanan saat langit tidak bersahabat mungkin adalah pilihan teraneh yang dilakukan, apalagi dengan kondisi hidung yang masih tersumbat lendir dan tenggorokan yang sedang ingin bercanda ditambah jas hujan yang tertinggal. Sungguh, nikmat mana yang engkau dustakan ?

Dengan kecepatan normal bermodalkan gas dan rem akhirnya saya sampai tujuan, membeli makanan di kawasan Borobudur Plaza. Senyum manis penunggu kasir, kursi pengunjung yang basah dan lalu – lalang pengguna jalan turut mengawali cerita yang sebentar lagi akan diceritakan. Iseng – iseng menunggu pesanan datang saya memainkan fitur kamera di layar ponsel kemudian mengarahkannya ke jalan. Tanpa saya sadari dibawah rintik hujan ada dua orang anak laki – laki sedang melakukan kayang saat lampu merah berlangsung, awalnya saya berfikir mungkin mereka sedang menari dibawah hujan namun melihat botol ditangannya dan bunyi koin yang melenting membuat saya sadar apa maksud semuanya.

Sampai lampu berwarna hijau, mereka menepi dan menemui sosok perempuan berbaju merah. Jarak yang tidak dekat membuat saya tidak dapat mendengar pembicaran mereka dengan jelas. Rasa penasaran saya semakin tidak terbendung kala melihat salah satu anak laki – laki mulai merengek dan menagis, hingga kata “Kono Bali” terlontar dari perempuan berbaju merah. Melihat raut muka yang galak saya sedikit bergidik ngeri pasalnya waktu itu saya duduk sendiri menikmati sinetron secara langsung.

Saya masih terpaku melihat kejadian ini, hingga beberapa saat kemudian sistem syaraf diotak saya mulai mengajak berfikir siapa mereka ? Sayangnya hormon adrenalin ikut campur dalam hal ini, berbagai spekulasi negatif bermunculan satu persatu. Ibarat panas diguyur air es kurang lebih tiga menit perempuan berbaju merah itu meninggalkan TKP dan entah dibawa pergi angin kemana. Melihat ini saya tidak mau menyia – nyiakan kesempatan untuk berbincang kepada anak laki – laki tersebut.

Tidak banyak pernyataan yang dapat saya gali waktu itu, karna saya melihat gelagat anak yang ingin segera pulang, saya rasa mereka kedinginan karena baju yang digunakan terlalu basah. Kedua anak laki – laki tersebut ternyata adalah sepasang saudara yang tinggal di daerah Kricak. Usianya masih terbilang muda,  hal ini karena mereka masih duduk dibangku sekolah dasar tepatnya kelas empat.

Satu hal yang saya tanyakan dan mungkin selalu terbesit dibenak seorang yang berbincang pada anak ini hanyalah “Mengapa meminta ?” jawaban yang keluar adalah “Aku bantu ibu”. Sebut saja Lotek, Lotek menjawab setiap pertanyaan yang saya ajukan khas seperti bumbu lotek kadang banyak kadang sedikit. Tapi tak mengapa setidaknya hari itu saya belajar dari seorang anak laki – laki menyisihkan waktunya untuk menari di jalanan tanpa rasa takut dan malu guna membantu ibunya.

Hal itu dilakukan sepanjang hari, hal menarik lagi Lotek melakukan sembari tetap mengenyam pendidikan. Ayahnya seorang pemulung, ibunya seorang pedagang jagung. Dari binar mata kedua anak tersebut saya mampu melihat bagaimana keping – keping uang receh sesekali melukis guratan senyum diwajah kecil mereka.

Lotek, anak laki – laki yang sengaja saya samarkan namaya duduk dibangku sekolah dasar. Disibukkan dengan sekolah namun masih tetap bersekolah dan melepas waktu bermain guna mengumpulkan rupian untuk ibunda. Hebat, satu kata yang dapat mewakilkan,  saya bangga bertemu dengan adik kecil berperut gembul ini, dibalik rintik hujan tanpa takut dan malu menari lucu demi mengumpulkan rupiah. Disaat anak seusianya telah bermain gadget dan sedikit melupa perkara membantu orang tua. Adik ini membuktikan kepada kita bahwa, saya mengemis lantaran saya membantu.

Bagi sebagian orang “Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah”, kau yang berucap sesekali turunlah kejalan carilah jawaban yang memuaskan nalar pikirmu menjadikan rasa penasaran dan menemukan jawabannya.

Mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan di awal malam yang menawarkan kisah dibalik dunia yang katanya keras dan untuk mereka yang mampu bertahan meski dihimpit keterbatasan semoga senantiasa diberi kemudahan. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat