Rintik Hujan Bagi Cahaya

 *oleh Fasihi Ad Zemrat

arianaalbano.com


“Ular naga, panjangnya bukan kepalang. Menjalar-jalar selalu riang kemari. Umpan yang lezat itulah yang dicari. Kini dia yang terbe-la-kang.” Dendang anak-anak dengan suka cita.
Ular naga. Dimana ada dua anak yang kelak menjadi induk untuk mempetahankan ekornya. Sungguh permainan yang menguras habis setres anak sekaligus melatih jiwa sosial serta gaya kepemimpinan mereka. Sungguh permainan tradisional yang bermanfaat.
“Kena kau!” teriak Andri girang. “sekarang pilih! Aku atau Bari?”
“Ah, Aku nggak suka sama cowo gendut, aku pilih Bari saja, lah.”
Setelah semua anak menentukan pilihannya, Andri dan Bari membuka melepaskan tangan mereka yang membentuk gerbang. Mereka ambil dua langkah ke belakang dan mulai berebut anak-anak yang jadi ekor. Gelak tawa membunjah. Apalagi ketika hujan menyapa, keringan anak-anak semakin bertambah, setres mereka di sekolah hilang karena anak-anak menghilangkan setres mereka dengan bermain sampai keringatan.
“Cahaya! Ayo pulang!” teriak seorang wanita paruh baya memecahkan suasana.
“Yah… Mama. Cahaya, kan, masih ingin main.” Tolak seorang anak perempuan.
“Ini hujan, Nak! Ayo pulang, terus latihan melukis biar jadi pelukis terkenal, ya! Besok, kan, Cahaya mau ikut lomba. Katanya Cahaya mau bikin Papa sama Mama bangga.”
“Iya, deh…”
Di sebuah ruang khas bertembok kaca, bergelantungan lukisan-lukisan dengan berbagai variasi. Di ruang itu tersedia lengkap peralatan melukis. Dengan adanya tembok kaca, terpampanglah pemandangan danau dengan segala flora dan fauna-nya. Sayang sang pelukis hanya menggores tanpa gairah.
“Ayolah, sayang.... yang semangat melukisnya. Lukisan itu harus pake perasaan, loh. Tema lukisannya aja keindahan hujan. Masa lukisannya suram kaya gitu.”
“Ah, males, Ma. Coba tadi nggak hujan, pasti Mama bolehin Cahaya main lagi. Gara-gara hujan juga Mama nyebelin. Sebenarnya latihan melukisnya kan sejam lagi.”
“Nanti kalau kamu hujan-hujanan, kan, bisa sakit.”
“Tapi buku bacaanku bilang hujan bisa membersihkan udara biar sehat.”
“Hujan juga bawa badai, Sayang. Jadi kamu tetep nggak boleh hujan-hujanan.”
“Sekali-kali, bolehlah, Ma. Cahaya, kan, pingin hujan-hujanan.”
“Sekali nggak tetep nggak. Ingat itu!”
Mama meninggalkan Cahaya lalu mengunci pintu. Cahaya hanya mengumpat dalam hati. Bahwa Mamanya memang selalu seperti itu, ia selalu memaksa. Tiba-tiba, kretek... kretek. Bunyi rekahan dinding membuat ngilu dada terdengar. Bumi bergoncang hebat, mama terpelanting dan menjatuhkan kunci. Mama berusaha mencari kunci yang jatuh tersebut, namun papa keburu datang dan menarik mama keluar.
“Pa, Cahaya masih di dalam!” teriak Mama.
Naas. Belum sempat papa masuk, ruang bertembok kaca itu ambruk. Mama histeris dan pingsan.
***
Cahaya terbangun. Ia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Matanya seketika membelalak melihat tangannya yang bulat terbungkus perban. Spontan Papa dan Mama memeluknya berusaha untuk menghadirkan segelintir ketenangan. Namun hal itu tidak memungkiri adanya kekecewaan yang mendalam. Saraf tangan kanan Cahaya rusak.
Gundah menggelayut menaungi hiruk pikuk dan menebar nuansa putus asa. Selesai sudah harapan Mama. Kini Cahaya tak dapat lagi menorehkan kuas untuk menuai perasaan. Pupus sudah apapun yang berbau dengan lukisan.
“Semua ini salahku!” kecam Mama kepada dirinya sendiri sambil mengusap mata. “Seandainya Aku nggak maksa Cahaya latihan dan seandainya hari itu nggak hujan.”
“Kita harus sabar, Sayang. Tidak ada yang bersalah dalam musibah ini. Maafkan Aku juga, sayang...”
“Buat apa? Mas, kan, nggak salah.”
“Bukan itu maksudku. Ada masalah lain.” Papa menarik napas lalu berkata, “Aku dipecat.”
“Apa?!”
Tangis Mama semakin parah dan memeluk Papa. Berulang kali Papa mencoba menenangkan, namun gagal. Putus asa sudah membabi buta. Menaungi setiap hati di rumah itu.
Cahaya mendengar semua pembicaraan itu. Ia teringat akan lombanya yang menjanjikan hadiah dan pasti itu cukup buat modal Papa. Tapi ia sadar, kini tangan kanannya tak sanggup lagi melukis. Cahaya mendesah, ia tatap hujan lebat di luar.
“Semua ini gara-gara hujan.”
“Wah hujan!” takjub seseorang sembari mendekat ke jendela.
“Loh, kapan Paman kemari?” tanya Cahaya.
“Baru aja datang. Kenapa Cahaya ada di sini? Cahaya suka hujan ya? Kalau suka, sama dong kaya Paman.”
“Cahaya nggak suka. Kenapa Paman suka hujan?”
“Dari hujanlah Aku belajar Nak. Setiap rintiknya ialah cobaan buat kita dan jikalau terang, kehidupan akan tumbuh. Namamu kalau dikaitkan dengan hujan jadi bagus banget, lho.”
“Bagus gimana?”
“Jika hujan dan cahaya bersatu akan membentuk pelangi. Bukankah pelangi itu indah?”
“Banget. Tapi bagaimana bisa Cahaya jadi pelangi? Tanganku nggak bisa digerakin, Cahaya nggak bisa melukis lagi.”
“Kan masih ada tangan kiri. Cahaya, apapun bisa dilakukan kalau kamu berpikir positif. Paman Bathroli juga pernah terkilir. Padahal kalau terkilir, Paman nggak bisa nerusin pekerjaan Paman sebagai atlet tenis. Tapi Paman berpikir positif, Paman yakin pasti bisa. Hasilanya Paman menang.”
“Terima kasih, Paman.”
Semalaman Cahaya memikirkan itu. Ia mulai belajar melukis dengan tangan kirinya. Sedikit demi sedikit hingga membuahkan sebuah lukisan. Lomba masih dua minggu lagi, ia bisa latihan terus hingga tangan kirinya terbiasa. Paman Bathroli telah memberikan sebuah filosofi hebat tentang hujan. Ia sadar hujan adalah lukisan yang terindah. Hujan tak hanya membawa rindu, tapi juga mendatangkan sebuah kehidupan, awal buat semuanya.
“Mama ajarin Cahaya!”
“Tapi tanganmu belum sembuh, Nak.”
“Tangan kiriku masih bisa buat nglukis, Ma!”
Papa dan mama terkesima tentang apa yang barusan Cahaya bilang. Mereka tak menduga bahwa anaknya pun bisa berpikir seperti itu. Hal itu menjadi sumbu semangat baru untuk mulai bangkit dari keterpurukan yang ada.
“Ayolah, Ma, ayo!”
“Oh, ya, ayo!”
***
Hari perlombaan pun datang. Banyak yang melihati cara Cahaya melukis. Banyak yang mencerca dan memvonis Cahaya nggak bakal menang. Mama dan papa berusaha menutup mulut mereka, namun itu tak berhasil. Tetap saja ada yang mengumpat. Tapi, hal itu bukanlah masalah. Cahaya suka membaca buku dan dibuku itu dikatakan “berpikir positif adalah kunci untuk semua kesuksesan.” Tentu saja Cahaya hanya perlu menutup telinganya sendiri dan fokus pada lukisannya.
Satu, dua jam berlalu. Akhirnya waktu berakhir menghentikan aliran peluh pada wajah peserta. Para pencaci maki tadi kini bungkam melihat lukisan Cahaya yang syarat akan makna filosofis. Sisi mendung di sebelah kiri dan sisi cerah di sebelah kanan, terpadu begitu pas nan serasi. Di tengah-tengah sisi itu nampak pelangi yang begitu anggun menaungi seeorang gadis yang tertatih menahan pilu.
Para penikmat seni segera berdatangan dan memberi poin. Penikmat seni yang berjumlah lima puluh orang diberi satu suara dan ketika mereka sampai pada lukisan Cahaya.
“Ini Papa. Uang hadiah ini untuk Papa agar bisa mulai usaha lagi.”
“Terima kasih sayang...”
Papa dan Mama memeluk Cahaya dengan erat. Cahaya seorang anak yang cacat bisa bangkit lagi dan juga membangkitkan orang di sekitarnya.


Editor: Ali Munir S.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran RA Kartini dalam Pendidikan

Penumpang Keluhkan Pelayanan dan Fasilitas Transportasi Kereta Api Solo

Belajar Hingga Akhir Hayat